Oleh : Inge Oktavia Nordiani, S. Pd
(Pemerhati masalah publik)

Ada apa dengan Indonesia hari ini? Apakah masih dalam keadaan baik-baik saja? Rakyat masih bisa makan, masih bisa sekolah, masih bisa berdagang dan aktivitas sosial lainnya??? Apakah zona aman dan nyaman masih rakyat miliki. Ini adalah sebuah pertanyaan yang membutuhkan jawaban yang pasti karena semua nasib rakyat dengan jumlah ±267 jiwa ada di tangan penguasa hari ini.

Apabila ingin berteriak, pada siapakah akan dituju?. Peristiwa baru-baru ini terjadi sangat  membuat hati kaum muslimin gerah, marah dan gundah. Tidak ada angin dan hujan tiba-tiba peristiwa itu kembali terjadi. Ya, penikaman seorang ulama, Syekh Ali Jaber pada saat mengisi kajian Minggu (13/9/2020) dan menghadiri Wisuda Tahfiz Qur`an  di Masjid Afaludin Tamin, Sukajawa, Tanjungkarang Barat, Bandar lampung.  Lagi-lagi itu terjadi di tangan orang dengan ‘gangguan jiwa’.
Video berdurasi ±57 menit dengan cepat tersebar ke masyarakat via akun-akun di media sosial. Tampaknya pelaku memang ingin membunuh sang ustadz sebab sasarannya adalah sekitar leher atau dada. Sebagaimana yang disampaikan syekh Ali Jaber kepada Kompas TV secara live yang pada saat itu beliau hendak mencari pinjaman HP untuk dibantu memfotokan beliau dengan anak 9 tahun yang hafal 3 juz sebagai kenang-kenangan karena HP ibunya yang menyertai anak tersebut full tidak bisa dipakai untuk foto. Beliau mengatakan:
_“tiba-tiba ada seseorang naik panggung dengan cepat, pikiran saya mau antar HP. Saya tidak menyangka ini ada niat buruk, tiba-tiba saya masih di posisi duduk-duduk santai saja dan dia tusuk dengan cukup kuat. Ketika saya sudah merasa terancam dengan pisau, kemudian saya berusaha untuk bangun tapi tususkan sudah masuk. Mungkin sasarannya di bagian leher atau dada, tapi karena saya ada sedikit bergerak qadarullah bukan karena saya punya kelebihan atau hebat akhirnya tertusuk di bagian tangan saya. Kemudian begitu saya berdiri (sakit), padahal orangnya kurus masih muda mungkin antara 23-24 tahun tapi posisi memegang pisaunya dan cara dia menusuk, mohon maaf bukan seperti orang biasa, tapi terlatih. Artinya cara tusukan itu sangat kuat. Padahal dia kurus kalau saya tahan dia pakai tangan dia tidak mungkin bisa bergerak. Tapi fisik yang begitu kecil, kurus bisa memiliki kekuatan menusuk hampir 7-8 cm masuk pisaunya. Ketika saya bangun, posisi dia menahan pisaunya, tapi ketika saya bergerak cepat, patah pisaunya masih tersimpan di dalam. Baru ketika saya berdiri saat itu saya belum merasa, saya lihat ke tangan kanan saya saya lihat ada pisaunya lalu saya keluarkan pakai tangan kiri kemudian saya lepas dan cukup mengecer darah di tangan dan di baju saya”_.

Merespon peristiwa tersebut MUI meminta kasus penusukan ini diproses hukum secara terbuka supaya tidak menimbulkan kecurigaan di masyarakat. _"MUI benar-benar tidak bisa menerima perilaku dan tindakan ini karena yang namanya tindak kekerasan dan tindak penusukan itu adalah musuh kedamaian dan perusak persatuan dan kesatuan,"_ kata Sekretaris Jenderal MUI, Anwar Abbas, dalam keterangan tertulis kepada (detikcom,14/9/2020).
Anwar menyebut tindakan penusukan terhadap Syekh Ali Jaber sebagai tindakan permusuhan kepada ulama. Dia khawatir peristiwa ini bisa menimbulkan syak wasangka yang liar. _"Ini benar-benar mencerminkan tindakan permusuhan terang-terangan terhadap ulama dan tindakan ini jelas-jelas sangat berbahaya karena akan merusak persatuan dan kesatuan serta akan menumbuhsuburkan kecurigaan di antara sesama warga bangsa,"_ kata Anwar.

Tak lekang dari ingatan, pada tahun 2018 dan 2019 yang lalu di negeri kita tepatnya di Tuban, Lamongan Bandung dan Pekanbaru terjadi beberapa peristiwa yang sama. Konyolnya subjeknya adalah orang dengan gangguan jiwa dan objek penganiayaannya selalu sama yaitu yang bergelar ustadz, kiyai ataupun ulama. Secara nalar berfikir sehat manusia mungkinkah orang gila dapat memilih-milih dalam membunuh?. Kesimpulan awal berdasarkan keterangan dari salah satu keluarga pelaku penusukan bahwa dia mengalami gangguan jiwa tampaknya perlu didalami kembali. Pakar Psikologi Forensik Reza Indragiri Amriel. Menurut dia, harus dicek kebenaran pelaku tersebut mengalami gangguan jiwa.  _"Gangguan jiwa tipe apa, apakah yang termasuk tipe yang mendapat pemaafan hukum?"_ kata Reza dengan nada bertanya, kepada SINDOnews, di Tangerang, Minggu (13/9/2020). Hal ini diperkuat dengan ditemukannya akun IG milik penusuk Syekh Ali Jaber dengan nama andrian_alfin yang menunjukkan di foto-foto dia tampak beraktivitas. Sebagaimana disampaikan oleh Pemilik akun @welzaonistia itu mengatakan Alfin Andrian adalah tetangga gangnya di Tamin, Tanjungkarang Pusat, Bandarlampung. Alfin dfisebutkan Welza sudah berkeluarga, dan memiliki seorang istri yang baru melahirkan. Namun Alfin tidak memiliki pekerjaan tetap. Itulah sebabnya, dia meyakini Alfin disuruh dan dibayar untuk menusuk Syek Ali Jaber, karena butuh uang.

Apabila sedari awal sudah tercium ada ketidakjujuran fakta dan data berarti siapakah dalang sebenarnya dari semua ini?? Sungguh sebuah musibah besar peristiwa yang terjadi ini. Ulama adalah pewaris nabi yang notabene pembawa risalah islam. Kebencian seperti apa yang membuncah sehingga memunculkan peristiwa yang tidak dibenarkan oleh agama manapun ini. Umat islam harus waspada utamanya penguasa negeri ini sudah seharusnya mampu melindungi para pewaris risalah kenabian.
 
Top