Oleh : Feby Yulia Judin, SE
(Aktivis Muslimah Lahat)

Umat Muslim diseluruh dunia kembali dibuat murka oleh aksi orang-orang kafir, yang membakar kitab suci Al-Quran di Swedia dan Norwegia. Hal ini dipicu oleh pelarangan seorang politisi yang akan menghadiri kampaye anti Islam di Swedia.
Pada sabtu (29/08/2020) seorang ketua partai anti Islam di Swedia Rasmus Paluda dilarang menghadiri aksi pembakaran Al-Quran, yang akhirnya memicu kerusuhan dari pendukung partai anti Islam.

Sekitar 300 orang berunjuk rasa disepanjang jalan di kota Malmo, Swedia bagian Selatan. Mereka menyampaikan protes kepada pemerintah yang melarang kehadiran Rasmus Paludan, hal ini kemudian melahirkan bentrok antara polisi dan para demonstran. Mereka beraksi dengan membakar ban dan melempari polisi Swedia dengan batu. Mereka juga melakukan aksi pembakaran kitab suci Al-Quran. Bentrok tersebut kemudian menyebabkan beberapa petugas polisi mengalami luka ringan. Sementara sekitar 15 orang dari pihak kerusuhan diamankan, tiga diantaranya dicurigai menghasut kebencian terhadap kelompok etnis.

Demonstran ini juga terjadi di ibu kota Norwegia, Olso dan kembali berujung pada bentrok antar polisi dan para demonstran, unjuk rasa tersebut di kelompoki oleh Stop Islamization Of Norway (SIAN) ratusan pengunjuk rasa tersebut meneriakan kalimat “tidak ada rasis dijalan kami” sambil melakukan unjuk rasa. (Surya.co.id 1/9/20)

Aksi orang-orang kafir tersebut memicu kemarahan dari umat muslim di berbagai dunia, salah satunya Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang mengutuk keras tindakan orang-orang kafir di Swedia dan Norwegia. Dikutip dari Surya.co.id MUI meminta pemerintah dari kedua negara tersebut bersikap tegas sesuai hukum yang berlaku. “MUI mengutuk keras prilaku vandalisme berupa pembakaran kitab suci Al-Quran oleh kelompok radikal dengan dalih apapun namanya, serta meminta kepada pemerintah di dua negara tersebut agar mengambil tindakan tegas terhadap para pelaku sesuai hukum yang berlaku guna menghindari akses negatif di kemudian hari” kata Waketum MUI, Muhyiddin Junaidi.

Kenyatannya adalah islamphobia merupakan penyakit yang lahir dari sistem kapitalisme. Meskipun di dalam sistem kapitalis islamphobia merupakan pelanggaran hukum namun hal tersebut tidak terlalu menjadi perhatian bagi pemerintah dalam suatu negara. Bahkan di berbagai negara melegalkan islamphobia yang mengancam keberlangsungan sistem kapitalisme, hal ini menunjukan bahwa gagalnya sistem kapitalisme dalam menjamin kebebasan dan keadilan dalam beragama.

Sedangkan didalam sistem Islam orang-orang non muslim disebut dengan dzimmi. Istilah dzimmi berasal dari kata dzimmah yang berarti kewajiban untuk memenuhi perjanjian. Di dalam naungan negarah khilafah kaum dzimmi akan sangat dilindungi dan diberikan hak seperti orang-orang muslim tanpa mengurangi kemurnian ajaran Islam, tidak boleh ada diskriminasi antar muslim dan dzimmi.

Negara khilafah harus menjaga dan melindungi keyakinan, kehormatan, kehidupan, akal dan harta kaum dzimmi. Adapun kedudukan kaum dzimmi dijelaskan oleh manusia paling mulia dimuka bumi, Rasulullah Saw dalam sabdanya beliau berkata :
“Barangsiapa yang membunuh seorang mu’ahid (kafir yang mendapatkan jaminan keamanan) tanpa alasan yanh haq, maka ia tidak akan mencium bau surga, bahkan dari jarak empat puluh tahun perjalanan sekali pun”. (HR. Ahmad)

Hal ini membuktikan bahwa kurangnya pemahaman serta penyusupan pemikiran buruk kapitalis yang terus dimasukan oleh orang-orang kafir membuat pemahaman terhadap islam menjadi negatif, padahal jika kita melihat sejarah tidak perna terjadi persatuan umat manusia dari berbagai warna kulit, agama, suku, ras dan segala macam latar belakang mereka yang bersatu dalam satu pemikiran kecuali di era khilafah.

Lantas apakah kita tidak rindu hidup dalam kondisi yang aman dan tentram tanpa diskriminasi seperti kondisi saat itu?
Wallahu a'lam

 
Top