Oleh: Enok Sonariah, Ibu Rumah Tangga dan Pegiat Dakwah


Pandemi entah sampai kapan akan berakhir. Berharap ketika berita disiarkan keadaan semakin membaik, akan tetapi ternyata sebaliknya. Sebaran virus semakin meluas tak terkendali. Di Kabupaten Bandung saja, per 11 September 2020 ternyata tidak ada satu kecamatan pun yang terbebas dari sebaran virus tersebut. Seluruh kecamatan terdapat kasus baik yang positif maupun suspect. Up date per 11 September kasus positif Covid-19 mencapai 568 kasus. Sehari berikutnya yaitu 12 September menjadi 953 kasus. Jarak satu hari peningkatannya begitu luar biasa. (pikiranrakyat.com)


Berbagai upaya penanganan yang sudah diterapkan pemerintah untuk menekan penyebaran, nyatanya tidak menunjukkan hasil yang signifikan. Begitupun upaya menanggulangi dampak wabah. Kebutuhan hidup dan keselamatan jiwa masyarakat semakin tidak terjamin.


Setidaknya ada beberapa hal yang mesti diperhatikan, mengapa kasus Covid-19 semakin meroket, tidak hanya di Kabupaten Bandung yang berujung dilockdown-nya Indonesia oleh 59 negara.


Pertama, lambannya pemerintah dalam penanganan wabah. Ketika negara lain sudah menutup pintu masuk bagi WNA khususnya Cina, Indonesia malah mempersilahkannya. Ditambah lambatnya membentuk gugus tugas percepatan penanganan Covid-19.


Kedua, sebaliknya pemerintah terburu-buru memberlakukan new normal dan membuka kembali sektor pariwisata pada saat kurva belum melandai. Sudah banyak kekhawatiran yang disampaikan oleh para ahli terutama medis terkait kebahayaannya dengan berbagai argumen, diantaranya karena belum didukung oleh ketaatan sebagian masyarakat menerapkan protokol kesehatan.


Ketiga, tarik ulur penanganan. Pemerintah selalu beralasan bahwa kesehatan penting, ekonomi juga penting. Faktanya resesi di depan mata korban Covid-19 terus berjatuhan. Seharusnya fokus menangani wabah dulu dengan melakukan karantina wilayah total, sementara kebutuhan masyarakat terdampak ditangani oleh negara. Karena kalau sudah meluas menjadi sulit penanganannya.


Keempat, masih kurangnya kedisplinan masyarakat menerapkan protokol kesehatan, walaupun terus-menerus disampaikan termasuk penerapan sanksinya bagi masyarakat yang melanggar. kurangnya kepatuhan sebagian masyarakat bisa jadi karena kekurangpercayaan pada pemerintah akibat kebijakan yang sering berubah-ubah, tidak fokus sehingga membingungkan.


Kelima, pengumpulan data yang masih bermasalah. Padahal data penting untuk merumuskan kebijakan. Kendala di lapangan bukan hanya alat juga biaya. Sebagian masyarakat harus membayar mahal untuk melakukan rapid test maupun swab. Belum lagi psikologi masyarakat yang takut untuk memeriksakan diri sehingga menambah pelik pengumpulan data. Akibatnya sebaran kasus sulit terdeteksi.


Keenam, minimnya dana yang ada. Sumber terbesar pemasukan negara hanya bertumpu pada pajak dan utang. Padahal utang sudah menggunung. Indonesia kaya sumber daya alam nyatanya tak berdaya ketika salah kelola.


Dari beberapa hal di atas, betapa penting kapabilitas penguasa dan sistem aturan yang diterapkannya agar bisa menyelesaikan wabah. 


Kapitalisme sekular telah menciptakan ketidakmampuan para penguasa bukan hanya di Indonesia tapi mendunia; Amerika Serikat, Inggris, Singapura, Malaysia, dan lain-lain. 


Penanganan wabah dalam sistem Islam berbeda dengan penanganan wabah dalam sistem kapitalis. 


Islam telah menempatkan seorang penguasa atau pemimpin sebagai pengurus bahkan pelayan bagi rakyat yang dipimpinnya. Sehingga pemimpin memiliki peran besar untuk mengurusi rakyat, baik dalam keadaan kena wabah maupun tidak. 


Kaum Muslimin memiliki tauladan terbaik dalam berbagai hal termasuk menangani wabah yaitu Rasulullah saw. 


Sabda Beliau:" Jika kamu melihat bumi tempat wabah, maka jangan memasukinya. Jika kamu berada di sana, maka jangan keluar darinya".

Apa yang disabdakan Nabi, saat ini dikenal dengan istilah lockdown. Agar tumbuh kesadaran dan kedisiplinan masyarakat melaksanakan ketentuan tersebut, maka Rasul sebagai kepala negara mengorganisasi, melakukan pengontrolan, mengatur mobilitas rakyatnya serta memenuhi segala kebutuhannya.


Kebijakan Rasul dilanjutkan oleh para khalifah. Di masa Sayyidina Umar r.a bahkan telah dilakukan pemisahan interaksi antara yang sehat dan yang sakit akibat wabah. Hal ini sebagai masukan dari 'Amru bin Ash pada khalifah Umar. Umar pun mendirikan pusat pengobatan gratis bagi pasien dalam rangka pengobatan dan penyembuhan. Untuk kondisi sekarang bisa dilakukan dengan melakukan tes terhadap masyarakat, dengan catatan harus gratis untuk mempercepat upaya.


Ada rakyat ada penguasa. Suksesnya penerapan kebijakan mesti didukung oleh kesadaran masyarakatnya. Dalam pemerintahan Islam masyarakat yang sudah terbiasa diurusi, diayomi, dilayani oleh penguasa akan sukarela mendukung serta membantu negara ketika dalam kesulitan.


Di masa kejayaan Islam, para penguasa bersama-sama kaum Muslimin telah berhasil melalui wabah, kembali ke kehidupan normal dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama.


Maka sudah sepatutnya kaum Muslimin kembali pada sistem Islam agar wabah cepat teratasi dan mendapat ridho Allah Swt.


Wallahu a'lam bishshawab.

 
Top