Oleh : Enok Sonariah

Ibu Rumah Tangga dan Pegiat Dakwah


Tidak ada seorang Muslimpun yang terbebas dari dosa kecuali Rasulullah saw. Allah Swt. yang Maha Rahman, juga Maha Rahim telah memberikan tuntunan kepada kita semua untuk segera bertobat agar kita terbebas dari murkaNya baik di dunia terlebih di akhirat.


Di tengah pandemi yang semakin mengkhawatirkan, ajakan untuk bertobat sangatlah tepat. Karena tidak ada lagi tempat bergantung dari kelemahan kita selain menjemput ampunanNya dan kembali menaati-Nya. Apalagi ajakan tersebut diserukan oleh seorang pemimpin.


Menarik untuk disimak apa yang disampaikan oleh presiden Jokowi dalam sambutannya pada saat membuka Muktamar IV PP Parmusi, 26 September 2020 di Bogor, "Kita juga tidak boleh melupakan istigfar, zikir, dan tobat kepada Allah Swt. lalu memperbanyak sedekah, karena banyak saudara kita yang perlu dibantu di tengah kesulitan (pandemi corona) yang sedang mereka hadapi." (lintasnasional.com)


Dari sambutan di atas kita patut bertanya, apakah bapak Jokowi bersungguh-sungguh mengajak kita bertaubat ataukah hanya menunjukkan ketidakberdayaan seorang pemimpin menangani wabah, yang sebelumnya begitu antusias bahwa wabah bisa diatasi dengan berbagai strategi, serta biaya tinggi.


Islam mengajarkan bertobat bukan hanya sebatas pengakuan tetapi butuh pembuktian. Apalah artinya mengaku berbuat dosa, ingin bertobat sedangkan dosanya masih terus dilakukan. Atau jangan-jangan tidak merasa sudah berbuat dosa.


Sungguh rugi kalau kita tidak mengenal dosa yang kita lakukan. Bagaimana bisa bertobat atas dosa yang kita sendiri tidak mengakuinya. Padahal ampunan Allah disediakan bagi orang-orang yang mau bertobat.


Sebenarnya begitu nyata dosa dari kemaksiatan di depan mata; suap-menyuap, korupsi, utang ribawi, LGBT dan pelacuran yang dibiarkan, miras bebas dijajakan, ajaran Islam terus disudutkan, sementara para pemimpinnya tetap 'nyaman' menerapkan aturan kapitalis-sekular, yaitu aturan buatan manusia seraya menolak dengan keji sistem khilafah warisan Rasulullah. Sederet kemaksiyatan tersebut dilakukan baik oleh jajaran pemangku kebijakan maupun kalangan masyarakat biasa.


Dari paparan di atas, apa yang bisa kita tangkap dari pernyataan presiden mengajak bertobat hanyalah retorika belaka tanpa makna. Karena kontradiktif dengan berbagai kebijakannya. Ajakan bertobat semestinya dibarengi dengan ajakan untuk berhenti dari kemaksiyatan, bukan membiarkannya apatah lagi menjalankannya.


Kita yakin tobat dan taat akan menghantarkan pada solusi tuntas masalah yang mendera negeri ini bahkan masalah dunia. Bagi Allah tidak ada yang sulit mengangkat pandemi dari bumi ini. Sebaliknya kalau dosa dan kemaksiyatan terus dilakukan dan dibiarkan kecil kemungkinan berbagai masalah bisa tersolusikan. Apalagi dosa yang dilakukan seorang pemimpin. Hal ini karena akan berpengaruh pada orang-orang yang dipimpinnya.


Di masa kekhilafahan sayyidina Umar ra., beliau telah mencontohkan bagaimana sikap pemimpin ketika negara yang dipimpinnya ditimpa musibah. Khalifah Umar menyampaikan khutbah di hadapan orang-orang, ia berkata, “Wahai sekalian manusia, bertakwalah kepada Allah pada diri kalian dan dalam masalah kalian yang tidak tampak dari manusia. Saya tertimpa musibah karena kalian. Kalian juga tertimpa musibah karena saya. Saya tidak tahu apakah kemurkaan tiba karena saya, bukan karena kalian ataukah karena kalian, dan bukan karena saya ataukah karena kita semua. KemariIah, kita berdoa memohon kepada Allah agar berkenan memperbaiki hati kita, merahmati kita dan melenyapkan kemarau (bencana) dari kita.”


Islam telah mensyariatkan bahwa seorang kepala negara wajib senantiasa menyandarkan seluruh penyelesaian bencana pada keimanan dan tuntunan syariah Islam. Semua disikapi berdasarkan sudut pandang keimanan dan ketakwaan kepada Allah Swt. Bukan hanya mendasarkan pada kecanggilan ilmu pengetahuan, keuletan usaha dan logika matematis semata. Semua bencana pasti atas kehendak dan campur tangan dari Allah Swt.


Oleh karena itu tidak ada jalan lain untuk keluar dari berbagai persoalan termasuk dari wabah pandemi selain melakukan tobat, sambil terus mengingatkan penguasa, menyerukan ke masyarakat pentingnya penerapan syariah kaffah dalam sistem khilafah agar tercipta ketaatan yang menyeluruh mulai dari pemimpinnya sekaligus rakyatnya.


Wallahu a'lam bi ash-shawwab.

 
Top