Oleh : Heni Satika
(Praktisi Pendidikan)

Amukan badai Corona belum usai. Kali ini melanda sektor perekonomian. Inflasi makin menggila, berbagai kota di dunia mengalami resesi.

Mulai dari perekonomian negara kampiun kapitalis yaitu AS menyusut 9,5% pada periode April dan Juni. sementara itu ekonomi Inggris juga menyusut 20,4% makin membuat Inggris jatuh ke jurang kebangkrutan. Begitu pula Perancis turun 13,8 dan menyusul Jepang 7,6%.

Kabar terakhir Australia yang disebut negeri tangguh kini juga mengumumkan resesi karena Produk Domestik Bruto (PDB) Australia menyusut 7 persen, periode kuartal April-Juni dibandingkan dengan tiga bulan sebelumnya. Di kuartal I, negara ini mencatatkan penurunan ekonomi sebesar 0,3 persen.

Bagaimana  dengan kabar  perekonomian Indonesia? Jika seluruh ekonomi dunia merasa kelimpungan menghadapi resesi hari ini. Berbeda sekali dengan Indonesia, Menteri Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan kalau kuartal II minus 5,3% dan kuartal III minus 3% artinya tidak resesi.

Komentar senada juga dikeluarkan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Panjaitan meminta masyarakat untuk tidak terlalu resah atas potensi resesi di tahun ini. Sebab ia menilai resesi bukanlah akhir dari segalanya. Bahkan dikatakan Indonesia memiliki ketahanan ekonomi, dengan tolak ukur menurut Bank Dunia program Indonesia sangat komprehensif.

Apakah benar Indonesia memiliki strategi yang lebih jitu untuk menghadapi resesi. Ataukah itu sikap yang terlalu pongah dan lalai sehingga tidak persiapan menghadapi resesi ekonomi tahun ini.

Australia saja minus 0,3% mengumumkan negaranya resesi dan bersiap dengan segala kemungkinan. Indonesia yang dalam kuartal II terkontraksi minus 5.32% dan diperkirakan kuartal III minus 3% mempunyai tingkat percaya diri luar biasa. Ekonom Senior, Faisal Basri menilai pemerintah kurang paham mengenai resesi. Terlihat dari komentar Menko Perekonomian.

Dia menyampaikan, di dalam buku teks mengatakan resesi terjadi kalau level of output jika Produk Domestik Bruto (PDB) turun selama beberapa waktu tertentu, bisa beberapa bulan, bisa beberapa tahun. Tapi konsensus yang umum di media, kalau dua kuartal pertumbuhan ekonominya berturut turut minus.

Data terakhir dari Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur mencatat ada kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya sebagian besar indeks kelompok pengeluaran mendorong inflasi 0,04 persen pada Agustus 2020 di Jawa Timur. Sementara itu, secara nasional tercatat deflasi 0,05 persen pada Agustus 2020.

Sementara itu, dari delapan kota IHK di Jatim, tiga kota mengalami inflasi dan lima kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi di Surabaya sebesar 0,07 persen, diikuti Sumenep 0,03 persen, dan Kediri 0,02 persen.

Salah satu kebijakan presiden untuk keluar dari krisis adalah mempercepat belanja daerah. Presiden meminta daerah untuk segera menghabiskan anggarannya dan menggelontorkan berbagai bantuan sosial kepada masyarakat. Sehingga bisa mendorong perekonomian dan merangsang konsumsi masyarakat. Tentu saja semua gelontoran dana tersebut berasal dari hutang luar negeri.

Mari perhatikan bagaimana solusi Islam atas resesi yang terjadi. Islam sebagai sebuah tatanan hidup yang komprehensif, memiliki sistem perekonomian makro dan mikro yang tangguh. 13 abad lebih perekonomian tanpa pernah mengalami defisit APBN yang akut. Dan tidak pernah mengalami penurunan daya beli secara simultan. Juga tidak pernah mengalami krisis ekonomi apalagi resesi dan depresi.

Apa saja tawaran ekonomi syariah? dikutip dari tulisan pengamat ekonomi Nida Sa’adah, S.E, Ak. M.E.I yakni :

Pertama, menata ulang sistem keuangan negara, selama ini tulang punggung pemasukan dari pintu pajak dan hutang harus dibenahi, karena hal itu justru memasukkan Indonesia dalam debt trap. Seharusnya pemasukan bersumber dari pengelolaan berbagai kepemilikan umum termasuk pertambangan, laut dan hutan serta asset milik rakyat lainnya dengan posisi negara hanya sebagai pengelola. Pemasukan berikutnya dari kharaj yaitu pungutan atas tanah yang produktif. Dan zakat yang memiliki potensi luar biasa.

Kedua, menata ulang sistem moneter. Selama ini rupiah naik turun bergantung pada dollar AS. Seharusnya menggunakan emas dan perak yang secara hakiki memiliki kestabilan zat.

Ketiga, menata ulang kebijakan fiscal dengan menghapus semua pungutan pajak. Pajak hanya dikenakan di saat-saat tertentu, dalam waktu dan untuk kalangan yang terbatas.

Keempat, menata ulang sistem kepemilikan aset, tidak dibenarkan orang asing memiliki asset di dalam negeri kaum muslim.

Kelima, menata ulang kebijakan mikro ekonomi. Seperti penghapusan sistem transaksi yang berbasis riba. Negara hadir memberikan bantuan modal dalam bentuk hibah atau pinjaman tanpa bunga.
Sedangkan treatmen untuk keluarga adalah bergaya hidup sederhana, mengedepankan apa yang dibutuhkan bukan apa yang diinginkan. Mengatur pengeluaran sesuai dengan pemasukan jangan tergiur gaya hidup mewah. Dan terakhir dalam keadaan sempit atau lapang tetaplah berinfak harta.

Jika solusi ini diterapkan secara komprehensif dengan menjadikan Islam sebagai pondasi dalam berkehidupan akan terwujud kesejahteraan dan selamat tinggal ketergantungan pada asing.

Wallahu a'lam bishshawab.
 
Top