Oleh : Farida Nur Rahma, M.Pd.
Dosen Komunikasi Penyiaran Islam

“Menikam dari belakang” inilah sebutan sebagian besar rakyat Palestina kepada Uni Emirat Arab (UEA) yang telah menjalin perjanjian damai dengan Israel. UEA menjadi negara ketiga setelah Oman dan Bahrain yang menjalin kesepakatan dengan Israel. Bagi rakyat Palestina yang dijajah Israel, tidak ada keuntungan bagi mereka atas kesepakatan tersebut. (bbc.com,18/8/2020)

Kecaman lebih keras muncul dari Presiden Palestina, Mahmud Abbas, melalui juru bicaranya. Mahmud Abbas menilai bahwa normalisasi hubungan UEA dengan Israel adalah "Pengkhianatan terhadap Yerusalem, Al-Aqsa dan perjuangan Palestina." Bahkan Kementerian Luar Negeri Turki dengan terbuka mengatakan, kesepakatan tersebut adalah tindakan munafik Uni Emirat Arab.(focus.tempo.co,18/8/2020)

Anggota Komite eksekutif Organisasi Pembebasan Palestina atau PLO, Hanan Ashrawi melalui akun Twitternya menuliskan syair betapa tersakitinya Palestina atas normalisasi hubungan damai UEA-Israel ini. May you never experience the agony of having your country stolen; may you never feel the pain of living in captivity under occupation; may you never witness the demolition of your home or murder of your loved ones. May you never be sold out by your "friends". Artinya "Semoga anda tidak pernah mengalami penderitaan karena negara Anda dicuri. Semoga anda tidak pernah merasakan sakitnya hidup dijajah. Semoga anda tidak pernah menyaksikan pembongkaran rumah anda atau pembunuhan orang yang anda cintai. Semoga anda tidak pernah dijual oleh "teman" anda." (focus.tempo.co,18/8/2020)

Walaupun perjanjian damai UEA-Israel ini diembel-embeli penghentian pencaplokan seluruh wilayah Palestina, namun pada faktanya kesepakatan kedua negara ini tidak memberi batas waktu tentang penghentian pencaplokan wilayah Palestina.(dunia.tempo.co,14/8/2020)

Dengan terjalinnya perjanjian damai UEA-Israel maka masjid Al-Aqsa akan dibuka dan dapat dikunjungi oleh umat muslim di dunia. (dunia.tempo.co, 18/8/2020)

Namun ini adalah pernyataan pihak ketiga yaitu Penasehat senior Presiden Donald Trump, Jared Kushner, bukan dari pihak Israel langsung.
Harus diingat bahwa Israel sering melanggar perjanjian. Berdasarkan kebiasaan buruk Israel tersebut  Emile Hokayem dari Institut Internasional untuk Studi Strategis yang berbasis di London menganalisis bahwa jika Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengingkari janjinya untuk sementara waktu dengan menangguhkan aneksasi di bagian Tepi Barat, maka itu akan sangat memalukan bagi Emirat.(focus.tempo.co,18/8/2020)

Apalagi dalam pidatonya di televisi, Netanyahu mengatakan dirinya "menunda" rencana aneksasi Tepi Barat, namun rencana itu masih ada "di atas meja". (bbc.com,14/8/2020)

Sungguh ini adalah kekalahan bagi negeri muslim karena hanya untuk menunda aneksasi harus berjabat tangan dengan “tangan yang berlumuran darah saudaranya sendiri”. Kehinaan yang sangat menjijikkan.

Dalam pandangan syariat adalah haram hukumnya bekerjasama dengan negara yang jelas-jelas menyerang atau membunuh atau memerangi negeri muslim lainnya.
Sikap yang harus digaungkan bukan jalan damai, bukan solusi dua negara bahkan bukan penundaan aneksasi. Karena semua itu adalah tanda kekalahan. Tapi jihad fi sabilillah. Namun, aktivitas jihad ini tentunya tidak sembarangan. Tapi harus dinaungi oleh sebuah negara yang memiliki kekuatan politik penuh. Sehingga bisa mengerahkan kekuatan negeri-negeri kaum muslim dibawah kekuasaannya.

Negara yang menerapkan syariat Islam, sehingga aktivitas jihad warga negaranya dilandasi oleh keimanan dan ketakwaan kepada Allah Swt. Negara yang eksistensinya diakui dunia. Sehingga aktivitas jihadnya adalah aktivitas negara bukan aktivitas individual semata.

Wallahu a'lam bishshawab.
 
Top