Oleh: Ummu Zayyan


Baru-baru ini publik dikejutkan dengan khutbah Syaikh Abdul Rahman Al-Sudais di mimbar Jumat yang mulia di Masjidil Haram tentang ajaran Islam yang menekankan penghormatan terhadap nonmuslim. Beliau menguraikan tema tersebut dengan merujuk pada hadits Nabi Muhammad yang berkaitan dengan interaksinya dengan orang-orang Yahudi. 


“Nabi telah menggadaikan baju perangnya kepada seorang Yahudi ketika dia wafat, dia telah berbagi hasil panen dari tanah milik orang Yahudi di Khaybar. Keutamaan yang dia tunjukkan kepada tetangganya yang Yahudi itu akhirnya membuatnya masuk Islam,” tambah pemimpin agama itu.


Yang menarik, khutbah ini ditengarai bersamaan saat UEA – sekutu dekat Saudi – menjadi negara Arab ketiga yang menormalkan hubungan dengan Israel, setelah Mesir menandatangani kesepakatan damai pada tahun 1979 dan Yordania pada tahun 1994.

Para netizen menanggapi khutbah itu dengan marah. Hal ini terlihat sebagai promosi kesepakatan sang Imam. Dimana banyak orang mengklaim retorikanya itu untuk membuka jalan bagi Arab Saudi untuk mengikuti jejak dengan UEA dan menjalin hubungan dengan Israel.


Palestina merupakan tempat yang disucikan Allah Swt. Kiblat pertama kaum muslimin yang terikat erat dengan akidah Islam. Palestina adalah tanah Isra’ dan Mi’raj. Merupakan tanah tempat Nabi Muhammad saw. memimpin semua Nabi dalam salat. Tanah ini adalah tanah yang dibebaskan oleh Khalifah Umar bin Khattab. Tanah ini pun dibebaskan oleh Shalahudin Al-Ayyubi dari tentara salib dan tanah yang dipertahankan oleh Khalifah Abdul Hamid II dari Zionis pada tahun 1901. 

Oleh karena itu, Palestina merupakan tanah Islam dan telah menikmati kedamaian serta ketenangan di bawah pemerintahan Khilafah Islam sejak puluhan abad yang lalu. 


Ini adalah tanah kaum muslimin dan tidak ada yang berhak menyerahkannya kepada siapa pun. Namun, saat ini tanah itu di bawah cengkeraman penjajah Yahudi Israel, yang berdiri di tanah Palestina dengan dukungan konspirasi negara-negara sekuler internasional. Antara lain, Inggris, Perancis, dan Amerika yang berkolaborasi dengan para penguasa boneka di negeri-negeri muslim.


Bagaimana sikap kaum muslimin terhadap penguasaan Palestina oleh Zionis Israel saat ini, sangat ditentukan oleh pemahaman mereka terhadap kedudukan tanah Palestina itu sendiri. Wilayah itu dikuasai Islam dengan damai. Orang Nashrani-lah yang secara suka rela menyerahkan kunci kota Yerusalem (disebut juga ‘Ilia) kepada Khalifah Umar bin Khattab. Ketika itu, tepatnya pada tahun 636 M, diwakili tokohnya Pendeta Patriarch Shafarniyus. Kaum Nashrani Yerusalem bersama Khalifah Umar bin Khattab telah menandatangani suatu perjanjian yang dikenal dengan “Piagam ‘Illia atau Perjanjian Umariyah”. Yang isinya: 


“Dengan nama Allah, Maha Pengasih dan Penyayang. Inilah yang diberikan oleh hamba Allah, Umar Amirul Mukminin, kepada penduduk ‘Illia tentang keamanan. Ia memberinya keamanan untuk jiwa dan harta mereka, untuk gereja-gereja dan salib-salib mereka, juga untuk orang yang sakit dari mereka dan yang sehat, serta untuk seluruh komunitasnya. Dan tidak akan diizinkan tinggal bersama mereka, seorang pun dari orang Yahudi.”


Khalifah Umar bin Khattab melanjutkan kebijakan yang dilakukan oleh Rasulullah saw. mengusir orang-orang Yahudi dari Jazirah Arab. Dan itu juga dilakukan Khalifah Umar atas permintaan orang-orang Nashrani di kota Yerusalem kala itu.


Dan kini 14 abad berselang, seluruh dunia tahu, Israel adalah perampas tanah Palestina, tanah suci umat Islam. Israel merampas tanah Palestina dengan dalih melaksanakan amanat Tuhan yang telah menjanjikan wilayah itu untuk mereka. Mereka berbuat begitu seolah telah menerima peta wilayah Palestina yang ditandatangani untuk mereka.


Klaim ini dibantah keras oleh Roger Geraudy, intelektual Kristen Perancis yang kini masuk Islam, dalam buku Zionisme: Gerakan Agama dan Politik, yang menyatakan bahwa tidak terbukti secara historis, antropologis, maupun injilis. Artinya, dari pengkajian sejarah tidak pernah ditemukan nenek moyang bangsa Yahudi yang tinggal di daerah itu, apalagi bila disebut sebagai yang pertama. Suku bangsa Filistin justru yang paling dulu tinggal di tanah Palestina. Lalu secara antropologis juga terbukti bahwa orang Yahudi datang ke sana lebih akhir. Karena mereka mengalami diaspora (penyebaran) setelah dikejar-kejar oleh Nazi. Dan terakhir, tidak ada secuil pun dalil-dalil dari kitab Injil baik Perjanjian Lama maupun Baru yang menunjukkan bahwa mereka harus tinggal di wilayah Palestina, apalagi dengan cara licik, dengan merampas, dan mengusir penduduk asli Palestina. Dari situ dapat disimpulkan bahwa Negara Zionis Israel berdiri di atas khayalan dan dusta serta darah dan air mata bangsa Palestina.


Sudah saatnya kaum Muslimin tidak meminta pemerintahan Trump atau pemerintah Barat lainnya untuk menghentikan pengakuan atas Yerusalem sebagai ibukota negara Israel. Termasuk juga sia-sia untuk meminta penguasa negeri-negeri muslim dalam hal ini UEA dan Arab Saudi, yang sangat inferior terhadap Barat, untuk bertindak tegas atas nama umat Islam melawan Israel. 


Khutbah Imam Besar Mekkah mengisyaratkan adanya normalisasi hubungan dengan Israel. Hal ini tentunya melukai hati umat Islam. Kaum muslimin perlu memandang dengan cara pandang yang tepat, bahwa tragedi Palestina adalah isu Islam. 


Oleh karena itu, sudah saatnya umat Islam membuang solusi palsu, sekuler, dan tidak syar’i yang ditawarkan Barat untuk masalah Palestina, yang justru akan meminggirkan peran Islam dan kaum muslimin. Solusi komprehensif, yang sesuai dengan akidah dan syariat Islam adalah mewujudkan kembali pemerintahan Islam di negeri-negeri muslim di bawah Khilafah yang lurus, yang berjalan di atas metode kenabian. Khilafah adalah cara untuk menyatukan umat, sumber daya, dan kekuatan umat Islam untuk membebaskan dan membela umat Islam Palestina dan wilayah-wilayah muslim lainnya. Juga dengan Khlafah itulah, yang akan menyerukan jihad fii sabilillah melawan negara zionis Israel, hingga terusir dari tanah kaum muslimin, Palestina. Hingga eksistensi Israel bisa dilenyapkan sampai ke akar-akarnya di seluruh dunia. Wallahu a’lam.

 
Top