Oleh : Shafiya
(Pemerhati Sosial) 

Peresmian hubungan diplomatik antara Uni Emirat Arab (UEA) dengan Israel membuat dunia kaget. Hal itu dinilai mencederai upaya memerdekakan Palestina.

Dilansir oleh Tempo.co, 18/08/2020, normalisasi hubungan Israel dan Uni Emirat Arab (UEA) mengejutkan Palestina dan masyarakat internasional. Dalam hitungan jam reaksi terhadap normalisasi tersebut, masyarakat internasional terbelah, antara mendukung dan menolak kesepakatan damai kedua negara itu.

Palestina merupakan negara pertama yang bereaksi menolak dan mengecam kesepakatan normalisasi hubungan Israel dan UEA.
Pemimpin Palestina menolak dan mengecam trilateral Uni Emirat Arab-Israel.
Pengkhianatan terhadap Yerusalem, Al-Aqsa dan perjuangan Palestina.

Penolakan tegas juga disuarakan pemimpin politik Hamas di Gaza, yang menolak semua deklarasi dan keputusan sepihak yang berusaha untuk menghapus hak-hak Palestina dan melanggar resolusi internasional.

Isi kesepakatan normalisasi hubungan Israel dan UEA disebut sebagai Abraham Accord.

"Bersejarah", "Sebuah terobosan, "Pengkhianatan": Presiden Trump tidak kekurangan julukan untuk pengumuman yang mendadak pada bulan ini bahwa Uni Emirat Arab (UEA) akan sepenuhnya menormalisasi hubungannya dengan Israel.

Setelah perjanjian damai Mesir-Israel pada tahun 1979, diikuti dengan perjanjian damai Israel-Yordania pada tahun 1994, kesepakatan ini menjadikan UEA sebagai negara Arab ketiga yang menormalisasi hubungan setelah Oman, Bahrain, dan kemungkinan diikuti Maroko.

Membangun hubungan damai dan bersahabat di tengah penjajahan dan genosida yang dilakukan oleh Israel terhadap bumi suci Palestina. Hal ini merupakan tindakan yang ironis, tidak rasional. Bahkan dapat dikatakan sebagai tindakan yang mengkhianati kaum muslimin dan Islam.

Bagaimana tidak, di tengah rasa pilu yang mencengkeram rakyat Palestina, tiba-tiba berembus pengumuman normalisasi hubungan UEA-Israel. Seperti tak pernah terjadi kemelut. Pemahaman kapitalis dan derivatnya telah mengabaikan hak-hak konstitusi.

Hal ini sangatlah wajar, jika rakyat Palestina terluka dan muncul berbagai reaksi dari negeri kaum muslimin yang peduli terhadap keselamatan rakyat dan bumi warisan Rasulullah saw. tersebut.

Maka semestinya kaum muslimin memiliki kemampuan untuk dapat menyikapi hal tersebut ditinjau dari sudut pandang Islam. Kaum muslimin dengan pemahamannya harus mampu menuntun tindakannya.

Dalam Islam, telah diatur hubungan antara manusia, kawan atau musuh. Dilihat dari sikapnya terhadap syariat Islam.

Jika kaum tersebut memusuhi syariat Islam secara sembunyi-sembunyi atau pun terang-terangan, maka sikap yang harus ditempuh adalah bersikap tegas dan keras. Tidak boleh menjalin hubungan yang mesra. Yang dapat mengakibatkan cacatnya syariat Islam dan melukai kaum muslimin.

Apatah lagi, dunia internasional telah mengetahui dan memahami sikap dan perilaku Israel terhadap negeri Palestina, sangat menzalimi mereka. Ini jelas, bahwa mereka memusuhi kaum muslimin, Islam dan Allah Swt.

Sejatinya, sudah saatnya kaum muslimin memiliki pemahaman yang mendalam tentang Islam, menyamakan visi-misi pergerakan, bergerak bersama dalam mengembalikan kewibawaan Islam melalui kemandirian dalam mengurus urusan kaum muslimin. Segera melepas belenggu yang menghalangi dan menekan syiar Islam. Mengurai ikatan batil dengan mereka-mereka yang memusuhi Allah Swt. dan syariat-Nya.

Semua ini dapat terealisasi dengan menjadikan Islam sebagai paradigma berfikir. Aturannya diemban oleh masyarakat sebagai solusi yang solutif tanpa menimbulkan masalah baru.

Wallahu a’lam bishshawab.
 
Top