Oleh : Asrianti, S.ST

(Relawan Opini Media Kolaka Utara)


Good Looking menjadi viral beberapa pekan lalu setelah Menag Fahrul Razi dalam pernyataannya pada webinar ‘Strategi Menangkal Radikalisme pada Aparatur Sipil Negara’. Banyak umat Islam yang sangat menyayangkan apa yang diungkapkan oleh beliau. Namun ternyata kesungguhannya dalam menyudutkan umat Islam pun semakin terbukti. Sebagai lanjutan dari strateginya dalam memerangi radikalisme kini menag bekerjasama dengan BNPT membuat sebuah program moderasi agama bagi kalangan guru agama.

Dilansir dari lenterasultra.com (10/9/2020), diberitakan bahwa Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT) dan Forum Koordinasi Pencegahan Teroris (FKPT) Provinsi Sulawesi Tenggara menggelar workshop internalisasi nilai-nilai agama dan budaya dalam upaya menumbuhkan moderasi beragama di lingkungan tenaga pendidik. Kegiatan dipusatkan di salah satu hotel ternama di Kabupaten Konawe Selatan (Konsel) tersebut akan dilaksanakan.

Ketua Bidang Agama, Sosial dan Budaya FKPT Sultra, Pendais Haq, S.Ag, M.P mengungkapkan, kegiatan tersebut merupakan program nasional dari BNPT sebagai upaya menanamkan serta menumbuhkan nilai-nilai agama dan budaya di lingkungan sekolah, sehingga tercipta suasana saling menghormati sekaligus mencegah timbulnya paham radikalisme di kalangan pendidik.

“Guru agama menjadi ujung tombak bagi lahirnya generasi muda yang memahami tatanan dan nilai-nilai agama dan budaya di Indonesia. Ini sekaligus mencegah lahirnya paham-paham radikalisme di kalangan dunia pendidikan serta menangkal budaya luar yang tidak sesuai dengan dasar negara Indonesia, Pancasila dan UUD 1945,” ujar Pendais Haq yang juga salah satu staf pengajar di Universitas Haluoleo (UHO) Kendari.

Moderasi Islam di Balik Narasi Radikalisme

Narasi radikalisme itu racun. Semenjak racun teroris gagal disebarkan oleh asing, mereka dengan ketakutannya akan kebangkitan Islam membuat racun baru yakni radikalisme. Radikalisme pertama kali diviralkan sejak masa-masa pilpres di Amerika dan sampai detik ini presiden terpilih Donald Trump masih mempropagandakan narasi radikalisme di seluruh penjuru dunia termasuk Indonesia. Anehnya, Indonesia yang mayoritas penduduknya Islam malah ikut latah menerima racun itu dengan penuh sukacita.

Melalui BNPT sebagai lembaga yang bertugas menangani terorisme kini semakin menggiatkan aktivitasnya dalam melawan radikalisme di Indonesia. Hampir setiap lini kehidupan diserang dengan racun tersebut. Tak ketinggalan pak menag yang sangat masif menuduh umat Islam yang taat sebagai orang radikal. Dimulai dari penghapusan pelajaran jihad dan khilafah hingga guru agama dibuatkan wadah untuk mencegah agar mereka tidak radikal termasuk workshop moderasi agama.

Moderasi agama sejatinya adalah buah dari paham liberal sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan. Umat Islam yang taat syariah, tidak zina, menutup aurat, tidak korupsi, hafidz, kuasai bahasa Arab dan tidak memakan uang riba serta syariat yg lainnya dituduhkan sebagai orang yang tidak moderat alias radikal. Apalagi muslim yang menolak demokrasi sekuler dan kapitalisme dianggap sebagai radikal. Ini tentunya tuduhan yang sangat menyakiti umat Islam dan mencederai Islam. Seharusnnya menteri agama dialah yang jadi penjaga Islam bukan malah menjadi pembenci syariat Allah Swt.

Jika sampai tenaga pendidik pun diwaspadai atas narasi radikal ini khawatirnya para guru akan merasa takut untuk menampilkan identitas mereka sebagai Islam dan menekan pemahaman mereka terkait Islam kafah. Para guru tidak akan berani memberikan pengajaran kepada anak didiknya bahwa kita harus terikat pada hukum-hukum Allah secara sempurna karena dinilai radikal. Moderasi agama di kalangan para guru sama saja mendikte kaum guru agar tidak mengajarkan Islam mulai dari akar hingga daun. Mulai dari membangun toilet hingga bangun negara. Alhasil akan terlahir generasi muslim yang hanya mempelajari Islam sebagian saja tidak menyeluruh. Didukung dengan sistem rusak yakni kapitalisme-liberalisme memberikan kebebasan beragama sehingga manusia berbuat dan bertindak sesuai dengan hawa nafsunya belaka.

Islam Menolak Moderasi Agama

Islam itu agama sekaligus sebuah ideologi. Aturannya yang sempurna meliputi semua aspek kehidupan. Mengatur bagaimana berpakaian sampai mengatur masalah pemerintahan. Termasuk jihad dan khilafah. Siapapun yang taat pada aturan Allah secara sempurna bukanlah termasuk radikal. Apakah mungkin mengerjakan seruan Allah adalah termasuk kesalahan karena dianggap radikal sementara meninggalkan sebagian ajaran-Nya adalah kebaikan karena termasuk Islam moderat? Naudzubillah.

Allah Swt. berfirman dalam QS. al-Baqarah : 208, “Masuklah kalian dalam Islam secara kafah...”. 

Allah menyeru kita untuk berIslam secara sempurna bukan sebagian, bukan pula Islam moderat dan lain-lain. Jika masih tetap dengan paham moderatnya dan menuduh umat Islam sebagai radikal sama saja menuding ajaran Allah itu sesat, Astaghfirullah.

Walhasil, moderasi beragama merupakan langkah melemahkan dan mengaburkan ajaran Islam yang utuh. Generasi muslim dididik mengambil jalan tengah, bukan ketaatan total kepada sang pencipta, Allah Swt. Tidak bisa pula menanamkan akidah yang lurus, serta keimanan dan ketakwaan yang tinggi pada-Nya. Pandangan moderat justru akan menempatkan generasi muslim di antara iman dan kufur, taat dan maksiat, halal dan haram.

Padahal mentaati seluruh perintah Allah Swt. dan Rasul-Nya adalah konsekuensi keimanan seorang muslim. Islam membimbing kaum muslimin dengan ajaran yang mulia serta memberi perlindungan harta, jiwa, akal, agama, keturunan, kehormatan, keamanan kepada segenap umat, baik muslim maupun non muslim.  

Termasuk bagian mentaati Allah Swt. adalah mengambil seluruh syariat Islam, tanpa memilah mana yang mendatangkan manfaat maupun yang dirasa tidak. Termasuk mengambil ajaran Islam jihad dan khilafah. Wallahu a'lam.

 
Top