Rahmawati
(Tim Remaja, teman hijrahta') 


Maju atau mundurnya suatu bangsa dilihat dari para pemudanya. Wajar banyak negara terpuruk karena para pemudanya miskin iman dan akhlak yang baik. Bagaimana pemuda Indonesia, khususnya pemuda di kabupaten Luwu Timur?


Warga Kabupaten Luwu Timur kembali dikejutkan  oleh ulah dua (2) orang pemuda.

Dilansir KORANSERUYA.com, Selasa (25/8/2020), kasus bocah usia 3 tahun yang dicecoki minuman keras (Miras) oleh dua pemuda di Luwu Timur, Sulawesi Selatan, menguak fakta baru. Rupanya ayah bocah malang itu menyaksikan secara langsung saat kedua pelaku memberi minuman alkohol ke anaknya. “Ia, ayah bocah itu tidak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya melihat saja anaknya dicekoki alkohol seperti itu,” kata Kapolres Luwu Timur, AKBP Indratmoko, Selasa (25/8/2020).


Saat dua pelaku, yakni Firman Effendi (20) dan Muh Rifky Hendra (19) minum alkohol, bocah tersebut tiba-tiba mendekati kedua pelaku. Saat itulah, pelaku menuangkan minuman keras kepadanya. Karena tak tahu, bocah itu langsung meminumnya sebanyak tiga kali hingga mabuk dan sempoyongan. Ayah korban, ME tidak bisa melarang dua pelaku karena dia bekerja di kebun merica milik nenek salah seorang pelaku. “Ayahnya hanya pasrah anaknya diperlakukan atau diberikan minuman keras itu. Alasannya dia takut tegur cucu bosnya itu,” kata AKBP Indratmoko.

Bocah yang dicekoki miras ini telah dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) I Lagaligo Luwu Timur (Lutim). Ia menjalani pemeriksaan kesehatan usai kejadian pencekokan tersebut. Namun hasilnya masih belum diperoleh. Memang kondisinya saat ini terlihat baik-baik saja. Tapi kami tetap melakukan pemeriksaan lebih mendalam lagi di rumah sakit. Untuk mengetahui betul-betul kondisinya,” ucapnya.

AKBP Indratmoko mengatakan, kedua pemuda telah diamankan di Mapolres Luwu Timur dan dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. Atas perbuatannya, mereka dijerat Pasal 77B juncto pasal 76B dan Pasal 89 ayat 2 juncto Pasal 76J ayat 2 UU Perlindungan Anak. “Jadi untuk undang-undang perlindungan anak ini, kedua pelaku terancam 5 hingga 10 tahun penjara dan atau denda hingga Rp 200 juta,” ujar Indratmoko, Senin (24/8).

Selain itu, kedua pelaku dijerat Pasal 45 ayat 1 UU tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. “Mereka kami sangkakan pasal berlapis,” lanjut Indratmoko.

Kasus ini sangat viral dan menuai kecaman dari berbagai kalangan. Termasuk Anggota DPD RI, Fahira Idris. FahiraFahira menyoroti insiden pencekokan ini. Dalam keterangannya, anak yang menjadi korban itu dinilai perlu mendapatkan pendampingan, perlindungan, dan pemulihan baik psikis serta fisik, kesehatan anak juga harus diperiksa untuk memastikan sejauh mana miras yang telah masuk ke tubuhnya mengganggu perkembangan organ tubuhnya.

“Negara bertanggung jawab untuk memulihkan kembali semua sisi kehidupan anak yang menjadi korban tersebut. Saya berdoa kondisinya baik-baik saja dan segera mendapat pendampingan dan pemeriksaan kesehatan. Kasus seperti ini tidak boleh terjadi lagi,” kata Senator Jakarta ini, dilansir KORAN SERUYA dari Kumparan.com, Selasa (25/8/2020).

Ia pun mengutuk dan menyayangkan adanya insiden tersebut. Ia meminta kedua pelaku tak dihukum ringan. “Sedih saya membayangkan apa yang terjadi dengan tubuh anak tersebut. Di mana hati nurani pelaku. Saya benar-benar kehabisan kata-kata. Biadab itu pelaku. Tidak boleh ada hukuman ringan bagi orang-orang seperti ini,” ujar Fahira.

Indratmoko mengatakan, mulanya mereka tidak mempunyai niat untuk memberikan minuman beralkohol tersebut ke bocah ini. Perbuatannya itu hanya spontan saja. Ketika anak ini mendatangi mereka saat pesta minuman beralkohol, sontak pelaku langsung memberikannya. “Jadi mulanya mereka ini pesta minuman keras dan tiba-tiba anak ini mendekat. Sehingga, dia langsung tuangkan minuman itu ke gelas lalu memberikannya ke anak itu. Kemudian, pelaku ini memvideokan lalu di unggah ke grup Facebook karena menganggap ini lucu,” ujar dia.

Sekularisme – kapitalisme – demokrasi adalah biang masalah 

Oleh pihak–pihak yang berkecimpung atau berwenang tentu juga harus bijak dalam penggunaan “kata” atas suatu tindakan atau perbuatan tertentu, karena setiap informasi yang beredar akan mendidik masyarakat yang apabila berlebihan tentu efeknya kurang baik. Kata dicekoki dalam bahasa Jawa berarti dipaksa meminum atau dipaksa memakan sesuatu, sedangkan pada vidio yang beredar, si anak diberi minuman beralkohol tanpa paksaan. Namun karena tak tahu, bocah itu langsung meminumnya.

Meski hanya lucu-lucuan, pelaku tidak mempunyai niat dan dilakukan hanya spontan, tentu harus menjadi pesan buat kita semua ini terjadi karena apa? Lost control dari pihak-pihak yang mendidik pemuda tersebut? masyarakat yang telah menganggap minuman beralkohol adalah sesuatu yang sudah biasa? Ataukah sistem peraturan yang diterapkan di negeri ini? Bolehlah mengingat pesan bang napi lewat program Sergap, program berita kriminal yang ditayangkan di stasiun televisi RCTI. “Kejahatan terjadi bukan hanya karena niat pelakunya, tetapi juga karena ada kesempatan, waspadalah! Waspadalah!".

Kecaman dari berbagai kalangan atas kejadian ini. Namun, mengapa tidak ada kecaman atas biangnya kejadian ini? Begitu pula atas pasal yang disangkakan adalah UU Perlindungan Anak karena seolah boleh minum minuman beralkohol asalkan tidak sengaja menempatkan, membiarkan, menyuruh melibatkan Anak dalam penyalahgunaan, serta produksi dan distribusi alkohol dan zat adiktif lainnya. Padahal selain kejadian ini, banyak juga fakta tindakan kejahatan termasuk kecelakaan yang terjadi bermula dari setelah pelakunya menenggak miras? Dan dari mana kedua pemuda tersebut mendapatkan minuman beralkohol tersebut? Serta tidak ada pembahasan bahwa penjualnya juga mesti diusut karena akibat dia menjual khamar, terjadilah tindakan yang buruk ini?

Padahal Rasulullah saw. melaknat  10 pihak terkait khamar: “Rasulullah saw. telah melaknat dalam hal khamr sepuluh pihak: pemerasnya, yang minta diperaskan, peminumnya, pembawanya, yang minta dibawakan, penuangnya, penjualnya, pemakan harganya, pembelinya dan yang minta dibelikan (HR at-Tirmidzi dan Ibn Makhama).

Dari hadist di atas, sangat jelas bahwa tidak mengenal usia muda, dewasa atau tua tetapi berlaku pada setiap muslim yang baligh dan berakal sehat. Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib bahwa Nabi Muhammad saw. bersabda, “Terangkatlah pertanggungjawaban dari tiga golongan, yaitu orang tidur hingga ia bangun, anak-anak hingga ia ihtilam (bermimpi basah dan mengeluarkan mani), dan orang gila hingga ia sembuh (kembali berakal)."

Dalil ini tidak diindahkan karena minimnya pemahaman terhadap ajaran Islam dan keyakinan bahwa setiap perbuatan yang dilakukan oleh seorang muslim yang telah baligh dan berakal sehat akan dimintai pertanggung jawaban kelak di akhirat serta penerapan sistem sekuler di negeri ini yaitu sistem yang tidak boleh menggunakan aturan agama dalam aktifitas kehidupan baik oleh individu, masyarakat maupun negara. 

Bagi sebagian besar orang, demokrasi adalah pemilihan umum yang bebas, jujur dan adil. Padahal ini sebenarnya hanya prosedural. Hakekat demokrasi bukan itu, tetapi “kedaulatan bersumber dari [keinginan] rakyat”. Kalau rakyatnya senang minum bir, menarik wisatawan asing dan menambah pendapatan negara, dibahaslah UU yang mengatur produksi dan peredaran miras. Konsep demokrasi adalah penerapan aturan berdasarkan suara terbanyak meskipun menabrak hal yang haram. Sepaket dengan sistem sekularime–kapitalisme menjauhkan manusia dari agama demi kesenangan & keuntungan duniawi, padahal menabrak rambu–rambu agama adalah malapetaka.

Juga dengan pengenaan UU ITE yang disangkakan terhadap pelaku, dikarenakan salah satu tersangka meng-upload aksinya tersebut ke media sosial. Bagaimana jika pelaku tidak merekam dan meng-upload vidionya ke media sosial? Apa yang akan terjadi pada si anak? Karena ternyata ayahnya hanya pasrah anaknya diberikan minuman keras, alasannya dia takut menegur cucu bosnya itu. Ini juga salah satu wujud kerusakan akibat kapitalisme. Pekerja takut pada bosnya sehingga pasrah saja. Namun bukankah karena vidio yang diupload oleh pelaku menjadi viral sehingga terhadap si anak segera dilakukan pemeriksaan kesehatannya?

Kembalikan Sistem Islam sebagai Aturan Hidup 

Marilah kita kembali mengingat surat cinta dari Allah SWT dalam QS. Al–a’raf ayat 96 yang artinya “dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat–ayat Kami), maka kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan”. 

Melegalkan miras, apapun alasannya, sama saja dengan mengundang bahaya (dharar) besar bagi masyarakat. Fakta-fakta banyak kejadian jelas membuktikan bahwa miras menjadi sumber berbagai kejahatan dan kerusakan seperti pembunuhan, pemerkosaan, perampokan, kecelakaan dan kejahatan lain yang nyata terjadi akibat pelakunya dalam pengaruh minuman keras. 

Islam tegas mengharamkan pelegalan produksi, distribusi, penjualan dan konsumsi miras. Rasul saw. menjelaskan bahwa semua minuman (cairan) yang memabukkan adalah khamr dan khamr itu haram baik sedikit maupun banyak: “Semua yang memabukkan adalah khamr dan semua khamr adalah haram”. (HR Muslim).

“Apa saja (minuman/cairan) yang banyaknya memabukkan maka sedikitnya adalah haram”. (HR Ahmad dan Ashhâb as-Sunan).

Peminum khamr, sedikit atau banyak, jika terbukti di pengadilan, akan dihukum cambuk sebanyak 40 atau 80 kali. Anas ra. menuturkan: “Nabi Muhammad saw. pernah mencambuk peminum khamar dengan pelepah kurma dan terompah sebanyak empat puluh kali”. (HR al-Bukhari, Muslim, at-Tirmidzi dan Abu Dawud).

Ali bin Abi Thalib ra. juga menuturkan: Rasulullah saw. pernah mencambuk (peminum khamar) 40 kali, Abu Bakar mencambuk 40 kali, Umar mencambuk 80 kali. Masing-masing adalah sunnah. Ini adalah yang lebih aku sukai (HR Muslim).

Tentu sistem Islam sebagai aturan hidup tidak bisa diterapkan oleh individu saja atau masyarakat saja tetapi juga oleh negara. Bila hal itu tidak dilakukan maka kehancuran akan terus terjadi bukan hanya dikalangan pemuda, negara bahkan peradaban. 

Wallahu a'lam bishshawab

 
Top