Oleh: Tri S, S.Si

(Penulis adalah Pemerhati Perempuan dan Generasi) 


Semakin marak berita perceraian di berbagai kota di negara ini. Termasuk berita viral yaitu mengularnya antrean di PA Surabaya-Jawa Timur. Setelah sempat lockdown dua minggu, pengajuan perceraian di Pengadilan Agama Surabaya membludak. Per hari diperkirakan 40-50 cerai gugat. Antrean kasus perceraian di Kota Surabaya selama pandemi Covid-19 meningkat tiap bulannya. (detikNews, 7 September 2020)


Banyaknya perkara perceraian itu didominasi cerai gugat atau gugatan dari pihak istri. Panitera Pengadilan Agama (PA) Surabaya Abdusalam Syakur Widodo mengatakan pihaknya mencatat sejak bulan Juni dan Juli, pihaknya mencatat kenaikan yang signifikan.


"Bulan Juni kita mencatat ada 439 perkara cerai talak dan 955 gugat cerai. Sedangkan yang dikabulkan cerai talak sebanyak 131 perkara dan gugat cerai 316 perkara," beber Syakur kepada detikcom, Senin (7/8/2020).


Angka gugatan perceraian di Jatim pun meningkat pesat selama pandemi Covid-19. Data ini menunjukkan tren pergeseran kasus cerai, dimana istri yang menggugat cerai suaminya. Ini menimbulkan tanda tanya besar dan merupakan hal yang harus menjadi perhatian kita pula. Lalu bagaimana pandangan Islam tentang hal ini?


Perceraian dalam Islam bukan suatu hal yang dilarang, namun ia merupakan perbuatan yang dibenci Allah Swt sabda Nabi Saw,


"Allah tidak menjadikan sesuatu yang halal, yang lebih dibenci oleh-Nya dari talak." Dan lagi, "Perbuatan halal yang dibenci oleh Allah ialah talak." (Riwayat Abu Dawud)


Akan tetapi tidak dapat dipungkiri jika akhirnya badai pernikahan menerpa dengan hebatnya sehingga rumah tangganya tidak bisa dipertahankan lebih lama lagi. Dan perpisahan menjadi kehendak Allah yang harus dijalani.


Maka, sebenarnya Islam pun telah berbicara dengan rinci. Seorang perempuan boleh menceraikan dirinya dari suaminya pada beberapa kondisi ini, yaitu:


Pertama, jika istri tahu bahwa suaminya memiliki cacat seperti impoten atau dikebiri.


Kedua, jika tampak pada suaminya mengidap suatu penyakit yang ada atau tidak buruk.


Ketiga, jika pasangan mengalami gangguan kejiwaan atau gila setelah menikah.


Keempat, jika seorang suami melakukan hal yang menghalangi istri untuk mendapatkan nafkah.


Kelima, jika pasangan tidak memberi nafkah istrinya padahal ia mampu, dan istrinya sulit mendapat nafkah.


Keenam, jika di antara pasangan suami istri terjadi pertentangan dan persengketaan terus menerus yang mengakibatkan ketidaknyamanan dalam kehidupan pernikahannya.


Seorang istri yang menceraikan dirinya dari suaminya harus membayar tebusan yang digunakan untuk menebus dirinya dari ikatan nikah yang ada di tangan suaminya.


Hidup dengan pasangan yang berbeda dalam segala hal, tentu tak steril dari perselisihan. Sebab penyebab adalah manusia biasa yang tidak luput dari kekurangan. Pria dengan sifat khasnya dan wanita dengan karakter uniknya. Semua itu harus tunduk pada syariat. Allah Swt telah membina dengan indah relasi suami istri dalam rumah tangga. Relasi yang hangat, bersahabat, penuh cinta dan kasih sayang. Bukan relasi yang garing, bermusuhan, penuh pertengkaran, tanpa sentuhan cinta dan kasih sayang.


Berikut ini beberapa hal kecil yang harus diperjuangkan agar terlepas dari ancaman perceraian:


1. Mewujudkan Romantisme

Istri selalu mengharapkan pasangan yang romantis, melakukan hal-hal kecil yang merangsang perasaan dicintai. Seperti sering menerapkan perhatian dan hal sepele yang menjadi besar bagi istri baperan. Romantis itu tidak bisa ada dengan sendirinya, maka berlombalah menjadi penciptanya.


2. Memahami Kebutuhan Pasangan Pribadi

Suami memang punya kegemaran tertentu sebagai laki-laki. Biasanya yang berhubungan dengan olahraga atau permainan, itu mubah. Tinggal dibicarakan saja manajemen waktunya, jangan sampai mengabaikan hak istri dan melalaikan kewajiban kepada Allah Swt. Demikian pula istri, memiliki kesukaan yang hanya istri yang faham. Kadang lupa ada pasangan yang butuh pelayanan. Jadi fahamilah kebutuhan pribadi pasangan agar tidak saling diabaikan.


3. Mewujudkan Kesejahteraan Bersama

Di era pandemi ini, banyak pasangan yang kehilangan nyawanya. Bahkan telah hilang pekerjaan. Uang menipis, bingung mau usaha apa. Akibatnya para istri tidak cukup uang belanjanya. Tentu sangat tidak adil jika tiba-tiba minta cerai. Bersabarlah, suami pasti sedang mengerjakan ikhtiar. Rezeki bukan dia yang menakar, jangan egois. Ada uang abang disayang, tak ada uang abang ditendang. Berjuanglah bersama-sama. Jika memungkinkan, istri turun langsung membantu mencari uang, ikhlaslah sebagai ladang sedekah demi keluarga. Suami istri harus saling mendukung, selalu membantu dan bekerja sama dalam mewujudkan stabilitas keuangan keluarga.


4. Saling Menundukan Pandangan

Godan di luar sangat dahsyat, banyak pasangan yang tidak menundukan pandangannya sehingga tergelincir pesona wanita lain. Baik chat mesra, berselingkuh dan menikah diam-diam. Hal itu mengundang setan yang membentuk ikatan pasutri bercerai.


Demikian pula sebaliknya, banyak istri tidak menundukan pandangannya sehingga kerap membanding-bandingkan nasibnya dengan kesejahteraan orang lain. Akhirnya merasa paling menderita karena memiliki suami yang serba kurang.


5. Saling Menyempurnakan

Dijodohkannya suami istri, tak ada maksud lain selain saling melengkapi. Tak ada pasangan yang sempurna, begitupun sebaliknya tak ada istri yang sempurna. Suami istri adalah cermin, jika ingin melihat dia dengan baik, kita pun harus baik.


Tak ada pasangan yang tak ingin membahagiakan istrinya. Tak ada pasangan yang tak ingin kaya. Tak ada suami yang tak sayang, selama istri mengurus dengan sepenuh kasih. Tak ada pasangan dan istri yang menginginkan perpisahan. Berjuanglah berdua.


Jika saja seluruh hukum-hukum Islam diterapkan di muka bumi ini, tentu saja kasus perceraian yang terus meningkat secara fantastis di negeri ini tidak akan pernah terulang kembali. Seorang istri pun tidak akan tergoda bahkan teracuni menyesatkan propaganda yang mengatasnamakan kemandirian perempuan.


Seorang suami akan menjalanka fungsinya dengan maksimal, mempergauli istri dengan makruf. Demikian juga istri akan menjalankan kewajibannya dengan baik dan menuntut haknya dengan makruf pula.


Sehingga tujuan pernikahan, sakinah, mawaddah, warahmah senantiasa berusaha diwujudkan. Kerenanya mereka akan berusaha keras mempertahannkan keluarganya. Mereka faham bahwa dari keluargalah akan lahir yang kuat akidah dan akhlaknya untuk mewujudkan kembali Islam sebagai sebuah negara.


Maka, di saat negara Islam belum terwujud, menjadi kewajiban setiap pelayanan untuk menjaga kekukuhan keluarga tersebut. Dengan selalu terikat pada hukum-hukum Allah Swt. Sampai Islam tegak kembali dalam naungan Daulah Khilafah.

 
Top