Arni Lestari

Ibu Rumah Tangga 


Pada masa pandemi yang entah kapan akan berakhir, di Indonesia pada khususnya dan dunia pada umumnya, banyak permasalahan di negeri ini turut menyita perhatian masyarakat. Sebagai contoh kasus penusukan kepada Syekh Ali Jaber yang terjadi pada tanggal 13 September 2020 yang terjadi di Bandar Lampung. 


Adapun pelaku yang berhasil diamankan oleh para jamaah yang hadir di sana segera diserahkan pada pihak kepolisian. Setelah diinterogasi, polisi menyatakan bahwa pelaku merupakan orang yang mengalami gangguan jiwa.

 

Sebenarnya kasus persekusi terhadap  para ulama, baik secara verbal maupun non verbal acapkali terjadi. Hanya saja jarang diekspose oleh media. Sebagai contoh  kasus pembubaran pengajian ustaz Felix Siauw di Bangil yang dilakukan oleh ormas Banser pada tanggal 7 November 2017 silam, atau pengerudukan terhadap ustaz Zainullah pada tanggal 28 Agustus 2020 di Pasuruan .


Sungguh miris ini terjadi di negara yang mayoritas penduduknya Muslim. Tak sedikit kasus penistaan terhadap ajaran Islam, maupun persekusi terhadap 

simbol simbol Islam. Pelaku hanya memberikan klarifikasi dan meminta maaf dan kasus itu pun dianggap selesai. 


Inilah jalan terjal yang  harus dilewati para ulama. Jalan dakwah tak pernah sepi dari ujian dan pertentangan. Pemuja kebatilan selalu berupaya memadamkan cahaya Islam. Mereka mengatur makar untuk membungkam ulama baik dengan opini negatif, rayuan rupiah, maupun tindakan kasar. 


Meski berbagai peristiwa di atas tidak terlihat berhubungan tapi kalau kita mengamati lebih jeli ada benang merah diantara peristiwa tersebut. Yakni, penyerangan terhadap simbol Islam. 


Perlakuan buruk terhadap ulama sering terjadi saat ini karena sistem sekuler tidak menghormati ulama. Sistem sekuler meminggirkan agama dari kehidupan manusia. Semua keputusan ekonomi, politik, pemerintahan, dan sebagainya diambil tanpa merujuk pada petunjuk Sang Khalik. 


Sungguh berbeda dengan sistem Khilafah yang tegak atas aqidah Islam. Pemerintahan dijalankan sesuai syariat Islam. Sehingga Khilafah butuh orang-orang yang paham ilmu agama, yakni para ulama. 


Dalam Khilafah, ulama dimuliakan, dijadikan rujukan dalam berbagai urusan kehidupan. Bukan hanya urusan akidah, ibadah, dan akhlak, tapi juga politik, ekonomi, pendidikan, kesehatan dan sebagainya. 


Demikianlah, seharusnya sikap terhadap ulama. Memuliakannya dengan cara mengikuti ajaran mereka. Ini juga yang menjadi rahasia terjaganya kecermelangan peradaban Islam selama ribuan tahun. Khilafahlah satu-satunya sistem yang memuliakan para ulama. Oleh karena itu, sistem sekuler harus segera dienyahkan agar tidak ada lagi persekusi terhadap ulama. 

Wallahu a'lam bishshawab

 
Top