Oleh : Umu Naufal
Manajer Rumah Tangga dan Praktisi Pendidikan

Pada bulan Agustus ini kaum Muslim di seluruh dunia menyambut kedatangan tahun baru Hijriah 1442. Berdekatan dengan peringatan kemerdekaan negeri ini yang ke-75. Awal perhitungan kalender Hijrah diusulkan oleh Sahabat Umar bin al-Khaththab ra., yakni dimulai dari peristiwa hijrah kaum Muslim bersama Rasulullah saw. dari Makkah ke Madinah. Banyak alasan mengapa permulaan kalender Hijriah dimulai dari momen hijrah. Salah satunya, berkat hijrahlah Islam dapat tersebar luas ke seluruh dunia.
Jauh sebelum kedatangan Islam, umat manusia berada dalam cengkeraman perbudakan sesama manusia. Secara politik, dua negara adidaya, Persia dan Romawi, menjajah dan mengeksploitasi daerah-daerah yang berada dalam kekuasaan mereka. Pada sisi lain, peradaban manusia diperbudak hawa nafsu. Tolak ukur benar dan salah, terpuji dan tercela adalah hawa nafsu manusia. Di bidang peribadatan, manusia menyembah berhala, alam, manusia juga binatang. Di Mesir, Firaun dipuja dan disembah sebagai Tuhan. Di Romawi para kaisar dianggap sebagai titisan dewa.

Kemudian Islam datang sebagai risalah yang mulia, membebaskan dan memerdekakan umat manusia. Misi pembebasan dan kemerdekaan yang diberikan Islam salah satunya tercermin dari pernyataan Rib’i bin Amir at-Tamimi ra. Di hadapan Rustum ia berkata, “Allah telah mengutus kami untuk mengeluarkan siapa saja yang Dia kehendaki dari penghambaan kepada sesama hamba menuju penghambaan hanya kepada Allah; dari kesempitan dunia menuju keluasannya; dari kezaliman agama-agama menuju keadilan Islam.” Penjelasan Rib’i bin Amir at-Tamimi ra. adalah kenyataan. Umat manusia mendapatkan pembebasan dan kemerdekaan hakiki hanya dalam Islam. Oleh Islam mereka diubah menjadi umat bertauhid dan setara kedudukannya dihadapan Allah Swt. Ajaran tauhid yang dibawa Islam telah menghilangkan mahluk yang tak pantas dipertuhankan. Merdeka dari hukum manusia. Dengan Islam pula manusia dibebaskan dari penghambaan pada aturan yang datang dari hawa nafsu manusia. Pada masa jahiliah, aturan biasanya dibuat oleh para raja dan para rahib. Hukum-hukum yang mereka buat kerap menyengsarakan kehidupan umat manusia sendiri, seperti membunuh bayi perempuan, melacurkan para budak wanita, praktek riba, dan sebagainya. Para bangsawan, raja dan para rahib itulah yang menentukan halal dan haram, baik dan buruk. Allah Swt. berfirman:

"Mereka menjadikan para pendeta mereka dan rahib-rahib mereka sebagai Tuhan selain Allah." (TQS. at-Taubah (93):31)

Itulah sejatinya hukum yang dibuat manusia dipenuhi hawa nafsu, penuh kelemahan, saling bertentangan dan dibuat untuk kepentingan para pembuatnya. Dalam sistem kerajaan (monarki), para raja dan keluarganya memiliki hak prerogatif membuat hukum dan privilege, yakni berkedudukan lebih tinggi di atas undang-undang dan hukum. Mereka bebas melakukan apa saja tanpa bisa disentuh hukuman. Dalam sistem demokrasi, yang memiliki hak membuat hukum/undang-undang adalah anggota dewan perwakilan rakyat. Mereka bisa membuat aturan sekalipun kelak aturan itu menyusahkan rakyat yang sudah memilih mereka. Begitulah penghambaan pada hukum yang berasal dari hawa nafsu manusia. Berlawanan diametral dengan syariah Islam. Hanya Allah Swt. yang berwenang sebagai Al-Hakim. Setiap Muslim semestinya menaati hukum Allah Swt., bukan hukum yang bersumber dari hawa nafsu manusia.
Demikianlah, Islam datang membebaskan manusia dari penghambaan kepada sesama mahluk/manusia menuju penghambaan hanya kepada Allah Swt. Ketika ini terwujud, manusia akan terbebas dari kezaliman dan keburukan agama, ideologi dan ajaran selain Islam. Kelapangan dunia pun akan dirasakan oleh segenap kaum muslim dan umat manusia pada umumnya. Sesuai  firman Allah Swt.:

"Jika penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi." (TQS. al-A’raf [7]: 96)

Telah terbukti bahwa negeri-negeri yang rakyatnya memeluk Islam baik secara damai maupun melalui peperangan (futuhat) maka  terbebas dari eksploitasi dan penindasan. Sejarah mencatat orang-orang Islam mengatur pemerintahan Islam di Cordova yang mengagumkan pada abad-abad pertengahan itu. Ketika seluruh Eropa tenggelam dalam kejahatan, kebiadaban, dan perkelahian, Islam  memegang obor peradaban yang bercahaya cemerlang di hadapan dunia Barat.   

Dengan demikian  Islam telah nyata  kedatangannya membawa misi memerdekakan manusia dari penghambaan kepada sesama mahluk/manusia, menghapuskan kezaliman dan membawa manusia dari kesempitan dunia menuju kelapangannya. Tak ada yang bisa seperti itu melainkan hanya Islam. Wallahu a'lam bishawab.
 
Top