Oleh : Aisyahtini Lubna Naimah
Pemerhari Remaja dan Sosial

Aisyah ra adalah putri dari Abu Bakar Shiddiq, dari pernikahannya dengan Ummu Ruman binti Amir bin Uwaimir Al Kinaniyah. Di rumah yang dinaungi dengan kebenaran, kejujuran dan iman inilah Aisyah dilahirkan, tepatnya di Mekkah, 7 tahun sebelum hijrah. Ia termasuk orang yang dilahirkan semasa Islam. Dari keluarga yang baik inilah, Allah menempatkan Aisyah sebagai individu yang baik pula, hingga akhirnya memiliki kedudukan yang besar di antara perempuan - perempuan Islam.


Aisyah diberi julukan Ash – Shiddiqah binti Ash Shiddiq (Perempuan yang sangat jujur putri dari orang yang sangat jujur). Ia dipilih oleh Allah sebagai istri Nabi Muhammad Saw. Diriwayatkan dari Aisyah ra, ia berkata bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Saya bermimpi melihatmu dua kali atau tiga kali, malaikat datang membawamu pada sehelai kain sutera, lalu malaikat itu berkata kepadaku: Ini adalah istrimu. Maka saya membuka kain penutup mukamu dan ternyata engkaulah orangnya. Maka saya berkata: Kalau hal ini dari Allah, maka Dia pasti akan meluluskannya.” (HR Bukhari dan Muslim)


Beliau dibesarkan dan dididik di rumah sahabat terdekat Rasulullah yakni Abu Bakar. Setelah menjadi istri Rasulullah, Syaidah Aisyah mendapat madrasah terbaik yakni langsung dari sumbernya, Rasulullah. Tentu Ummul Mukminin memahami dengan gamblang seluk-beluk tingkah laku Rasullulah Saw saat bersamanya.


Ummul Mukminin Aisyah telah memberikan teladan yang sangat banyak bagi para Muslimah. Beliau menjadi rujukan dalam menyelesaikan berbagai keputusan dan masalah agama. Ketajaman pemikiran, keluhuran akhlak, dan lemah lembut sikapnya terhadap Rasulullah telah menjadikan dirinya sangat terpercaya dalam bidang hadis syarif.


Beliau tidak pernah ragu-ragu memberi pelayanan kepada orang-orang yang berperang dan membantu memenuhi keperluan mereka. Lemah lembut dan kebaikannya terhadap orang lain menyebabkan ia mampu mengalahkan kepentingan pribadi demi kepentingan orang lain.


Ummul Mukminin Aisyah juga tidak rela orang lain melakukan suatu perbuatan yang melanggar syariat Allah, karenanya ia senantiasa mengoreksi dan mengingatkan para sahabat dan senantiasa meluruskan jika terdapat pemahaman yang salah terhadap ayat-ayat Al -Qur’an ataupun hadis Rasulullah.


Berkaitan dengan ketinggian ilmunya, para sahabat dan tabi’in mengomentarinya, Abu Salamah bin Abdurrahman mengatakan, “Aku tidak mengetahui seorang pun yang lebih mengerti tentang sunah Rasul yang lebih mengena pendapatnya, lebih tahu tentang ayat Alquran yang turun, serta lebih mengerti tentang hal-hal fardu, selain Aisyah.” Ibnu Abdil Bar mengatakan, “Aisyah memiliki pengetahuan yang tinggi dalam bidang tafsir, hadis, fikih juga dalam bidang pengobatan, syair dan silsilah.”


Abu Bard bin Abu Musa mengisahkan dari ayahnya, “Kami para sahabat Rasul tidaklah menghadapi suatu kesulitan lantas kami tanyakan kepada Aisyah, melainkan kami mendapatkan penyelesaian yang baik darinya.”

“Aku melihat guru-guru para sahabat besar bertanya kepada Aisyah tentang faraidh.” Shahabat Urwah bin Zubair berkata, “Aku tidak pernah mengetahui seorang pun yang lebih mengerti tentang Alquran dan ketentuan-ketentuannya, tentang halal haram, tentang syair, tentang pembicaraan dan nasab bangsa Arab selain Aisyah,” Abu Umar berkata, “Pada zamannya tidak ada seorang pun yang menandingi Aisyah dalam bidang ilmu fikih, ilmu pengetahuan dan ilmu syair.”


Demikianlah Aisyah, perempuan yang paling mendalam ilmunya, bahkan Umar bin Khaththab dan Utsman bin Affan pun biasa mengirim utusan kepadanya untuk menanyakan As-sunah. Suatu hal yang tidak dapat disangsikan lagi, karena Ash-Shiddiqah tumbuh di rumah Ash-Shiddiq, lalu hidup di rumah Nubuwwah, menciduk dari sumber Nabawiy yang murni, terlibat secara langsung dalam sebab-sebab turunnya Alquran.


Ummul Mukminin Aisyah juga merupakan perawi hadis yang handal. Ia termasuk salah satu dari tujuh orang yang paling banyak meriwayatkan hadis dari Nabi Saw, bahkan menerima hadis langsung dari Rasulullah. Aisyah juga memiliki kelebihan dalam menukil sunah Nubuwwah yang berupa perbuatan, lalu ia mengajarkan kepada kaum Muslimin lainnya. Ia meriwayatkan hadits dari Rasulullah sebanyak 2210 hadis, yang terdapat dalam Shahih Bukhari-Muslim sebanyak 297 hadis, yang disepakati oleh Imam Bukhari-Muslim sebanyak 174 hadis, sedang yang diriwayatkan Bukhari sendiri sebanyak 54 hadis dan Muslim sendiri 69 hadis.


Kehidupan setiap manusia bisa dikatakan sebagai kumpulan keping yang membentuk sebuah mozaik. Dan mozaik kehidupan Syaidah Aisyah adalah termasuk mozaik terindah yang pernah ada. Kenapa? Karena mozaiknya beririsan dengan mozaik kehidupan manusia agung yang menjadi teladan manusia sepanjang masa, yakni Rasulullah Saw.


Kesempatan hidup yang lebih dekat dengan Rasulullah dibandingkan dengan istri Rasulullah lainnya berbuah manis pada pribadi Syaidah Aisyah, salah satunya adalah pemahaman mendalam Aisyah Ra akan pemaknaan hadis. Kerap kali Aisyahlah yang meluruskan pemaknaan hadis yang kurang tepat oleh para sahabat Rasulullah Saw. Hal itu disebabkan oleh lebih banyaknya kesempatan yang dimiliki Aisyah Ra untuk berada dekat dengan Rasulullah.


Beliau memiliki rasa cinta yang tulus dan mendalam kepada sunah Rasulullah Saw. serta hasratnya yang sangat kuat untuk mengikuti dan menerapkan sunah itu dalam kehidupan umat Islam di segala bidang, baik pribadi maupun sosial.


Aisyah Ra secara nyata mengabdikan dirinya pada ilmu pengetahuan dengan cara mengajarkannya kepada orang lain dan menggunakannya untuk memperbaiki keadaan umat Islam serta mengarahkan mereka ke jalan yang lurus. Madrasah Aisyah Ra adalah madrasah ilmu yang paling diminati pasca wafatnya Rasulullah Saw. Ia mendidik secara langsung setiap orang yang meminta pengajaran darinya, tanpa pandang bulu. Orang-orang yang meninta fatwa hukum dan menanyakan beraneka persoalan, Aisyah Ra menyimaknya dengan seksama lalu memberikan jawaban yang sebaik-baiknya yang diketahuinya.


Ummul Mukminin Aisyah tidak pernah bosan untuk menjawab semua pertanyaan yang diajukan kepadanya tentang persoalan apa pun yang menyangkut ajaran-ajaran agama Islam, termasuk tentang persoalan pribadi. Aisyah Ra mendidik murid-muridnya bak seorang ibu yang mengasuh anak-anak kandungnya.


Dari madrasah yang diasuh oleh Aisyah Ra itu, lahir banyak ulama terutama dari kalangan tabi’in. Di dalam Musnad Ahmad karya Imam Ahmad bin Hambal mencantumkan sejumlah besar periwayatan Aisyah Ra yang bersumber dari murid-muridnya. Singkatnya, dapat dikatakan bahwa Aisyah Ra menjalani sisa usianya sebagai sumber rujukan utama bagi orang-orang yang membutuhkan jawaban dan fatwa, serta tujuan para peziarah dan penuntut ilmu. Terdapat banyak bukti dalam literatur Islam yang menunjukkan hal itu. Bahkan Qosim, salah satu ahli fikih terkemuka di Madinah berkata, “Aisyah Ra memberikan fatwa secara independen pada masa kekhalifahan Abu Bakar, Umar, Utsman, dan seterusnya hingga akhir hayatnya. Jadi, meskipun Aisyah adalah seorang wanita, tapi kapasitas keilmuannya tidak kalah dari sahabat rasul yang pria.


Ada banyak persoalan hukum yang diperdebatkan oleh para ulama fikih. Aisyah biasanya memilih pendapat yang mendatangkan lebih banyak kemudahan bagi kaum perempuan. Hal ini wajar karena apabila dibandingkan dengan ulama-ulama fikih yang berjenis kelamin laki-laki, Aisyah tentu lebih mengetahui permasalahan-permasalahan yang dihadapi kaum perempuan. Setelah merumuskan pendapatnya sendiri, Aisyah kemudian memberitahukan pilihannya itu kepada para perempuan muslim. Dan fatwa yang dihasilkan dari keluasan ilmunya menunjukkan bahwa pendapatnya—menurut para ahli fikih—lebih tepat dan layak digunakan secara luas di wilayah-wilayah muslim di seluruh penjuru dunia.


Sayyidah Aisyah juga merupakan salah seorang perempuan yang tangguh dalam berjihad. Sewaktu perang Uhud, ia ikut mengangkut air di pundaknya bagi para mujahidin, padahal usianya masih sangat muda, kurang lebih sebelas tahun.

Anas bin Malik meriwayatkan, “Aku melihat Aisyah binti Abu Bakar dan Ummu Sulaim, keduanya menyingsingkan ujung pakaiannya. Keduanya mengangkuti geriba air di atas pundak lalu memberi minum orang-orang yang terluka. Kemudian keduanya kembali dan memenuhi geriba itu, lalu memberi minum mereka.” (Muttafaq alaih).

Demikian pula ketika perang Khandak, Sayyidah Aisyah terjun langsung dalam perang tersebut bergabung dengan para sahabat, di mana pada waktu itu Aisyah maju mendekati front mujahidin paling depan.

Riwayat hidup Sayyidah Aisyah merupakan cermin bagi para pemudi, yang dari perjalanan hidup itu mereka dapat mengetahui bagaimana ia memiliki kepribadian kuat tanpa harus merendahkan diri. Mereka akan mengetahui pula bagaimana ia menjaga kebagusan lahiriah, tetapi penuh ketundukan dan kesederhanaan.

Bagaimana ia memahami dan mendalami agama sehingga menjadi sumber argumentasi. Bagaimana ia memahami kata-kata agama ke dalam amalan-amalan nyata. Bagaimana ia memberikan buah pikiran dan material demi menegakkan agama Allah.

Ummul mukminin Aisyah berusia cukup panjang hingga pemerintahan Muawwiyah dan beliau menyaksikan banyak peristiwa baru, beliau sangat tegas bila di hadapannya ada penyelewengan terhadap ajaran Islam. Beliau tidak segan-segan untuk mengkritik.

Aisyah pernah mengkritisi kebijakan Utsman bin Affan, mengkritisi kebijakan pemerintahan Ali bin Abi Thalib, dan juga mengkritisi kinerja Muawiyah bin Abu Sufyan khalifah pertama dari Bani Umayyah. Tidak lain tujuannya agar Islam dan umat Islam tetap terjaga marwahnya.

Berdasarkan sudut pandang agama, syariat, akhlak, kemuliaan, dan kesucian, Aisyah mampu melaksanakan segenap tugas keilmuan, menjalankan amanah dakwah dan pengajaran dengan sempurna, memainkan peran sosial dan politik yang sangat penting, pada saat yang sama, ia tetap melaksanakan seluruh kewajiban agama secara konsisten dan memelihara tingkah laku serta budi pekerti dengan baik.

Itulah Aisyah, sosok dengan sifat-sifat paripurna yang telah menghadirkan teladan ideal bagi ratusan juta kaum perempuan. Itulah jalan yang paling indah yang diajarkan Aisyah kepada generasi-generasi yang datang berikutnya. Itulah warisannya yang abadi. Seluruh aspek kehidupannya menggambarkan ketundukan paripurna Aisyah pada Allah Swt. Akhlaknya yang mulia, kesucian dirinya, sifat zuhud yang dimilikinya, dan kemampuannya menjelaskan hukum-hukum agama secara terperinci. Kepadanyalah para perempuan berutang dalam segala bidang kehidupan, religius, akademi, dan sosial.


Cinta ilmu adalah ciri umat Islam pada umumnya, khususnya ummul mukminin Aisyah. Dengan ilmu, terbuka segala urusan/solusi dari segala problem hidup
Allah pun menegaskan keutamaan mendalami ilmu Islam
Islam telah memberi panduan lengkap mengenai seluruh problem yang dihadapi umat manusia. Dan senantiasa berkumpul dengan orang-orang yang mencintai ilmu
Pergaulan, teman, sangat mempengaruhi semangat menuntut ilmu
Sosok bunda Aisyah telah didukung oleh lingkungan, yakni keluarga, dan Rasulullah sendiri sebagai sumber rujukan ilmu
Masa ini, tentu kita pandai mencari suasana yang bisa mendorong semangat kita untuk mengkaji Islam .

Setelah ilmu didapat, menyampaikannya adalah kewajiban.
Ilmu yang kita dapat, bukan hanya untuk kepentingan pribadi, melainkan untuk kepentingan seluruh manusia
Sebagaimana bunda Aisyah telah memberikan teladan, beliau sangat memperhatikan orang lain yang belum memahami bagian-bagian Islam
Menjadi wanita bukan alasan untuk tidak menyampaikan ilmu (berdakwah). Setelah membaca sosok wanita istimewa ini, kita kembalikan pada diri kita


Apakah kita telah mencintai Al-Qur'an dan As-Sunnah dengan merealisasikannya dalam diri kita, lingkup keluarga, masyarakat dan negara? Apakah dalam diri kita telah tertanam cinta yang kuat kepada Allah dan Rasulullah
Apakah pengakuan cinta kita telah tampak dalam perbuatan kita. Bagaimana ibadah kita, makanan kita, pakaian kita, akhlak kita. Demikian juga keluarga kita.


Tentang masyarakat, apakah kita menaruh rasa peduli terhadap lingkungan sekitar, masyarakat
Bila menemukan peristiwa memilukan, seperti kelaparan, anak tak bisa sekolah, minimnya pengetahuan generasi muda tentang Islam, dan segala fenomena-fenomena yang mengiris, apakah kita peduli?

Kemudian fenomena yang lebih besar, negara. Apakah kita memperhatikan berapa hutang negeri ini, berapa jumlah dana yang dikorupsi, bagaimana keadilan hukum di negeri ini, bagaimana sistem ekonominya, bagaimana perpolitikannya dan yang lainnya
Apakah kita sempat memikirkan itu?

Bagaimana dengan jerih payah Sayyidatina Aisyah yang telah mengerahkan seluruh hidupnya untuk Islam
Hingga kita saat ini mengenal ajaran-ajaran Islam melalui beliau?
Di manakah bentuk syukur kita terhadap beliau sebagai suri tauladan seorang Muslimah?
Wallahu b'lam bishshawab.
 
Top