Oleh : Amey Bunda Hafidz

Semakin waktu berlalu, semakin banyak peristiwa yang membuat kaum muslim mengelus dada. Banyak sekali peristiwa persekusi terhadap aktivitas-aktivitas keislaman. Tak hanya sebatas pembubaran pengajian-pengajian islam, bahkan para da’i-nya pun hendak disertifikasi hingga dikriminalisasi.

Dari sini seolah Nampak bahwa pemerintah tidak mau identik dengan islam, meski negara ini mayoritas penduduknya adalah kaum muslim. Namun demikian, sejumlah Langkah politik penguasa telah menjelaskan segalanya. Berawal dari lahirnya perppu ormas yang kemudian disahkan menjadi UU Ormas. Dan sungguh UU Ormas telah menjelma menjadi senjata pemusnah dakwah dan persekusi ulama yang sangat efisien. Serta yang terbaru dari upaya pemerintah dalam menjegal dakwah Syariah dan khilafah Nampak jelas dalam aksi penjegalan film JKDN.

Dan kini umat islam Kembali disuguhkan rangkaian pernyataan yang hakikatnya telah mencederai perasaan umat islam. Diantaranya adalah Fachrul Razi membeberkan cara paham radikal masuk melalui orang yang berpenampilan baik atau good looking dan memiliki kemampuan agama yang bagus. Si anak 'good looking' ini, kata Fachrul, jika sudah mendapat simpati masyarakat bisa menyebarluaskan paham radikal. "Cara masuk mereka gampang, pertama dikirimkan seorang anak yang good looking, penguasaan bahasa Arab bagus, hafiz, mulai masuk, ikut-ikut jadi imam, lama-orang orang situ bersimpati, diangkat jadi pengurus masjid. Kemudian mulai masuk temannya dan lain sebagainya, mulai masuk ide-ide yang tadi kita takutkan," ucapnya. https://news.detik.com/berita/d-5159619/mui-kecam-menag-soal-radikalisme-masuk-lewat-good-looking-hafiz/2. 4 September 2020.

Tidak hanya berhenti di sini, rangkaian pernyataan yang menyayat hati pun masih berlanjut, meski Menag menyampaikan bahwa paham khilafah sendiri tak dilarang dalam regulasi di Indonesia. Namun pernyataan berikut yakni Menteri Agama (Menag) Fachrul Razi meminta kepada seluruh kementerian dan lembaga pemerintahan untuk tak menerima peserta yang memiliki pemikiran dan ide mendukung paham khilafah sebagai aparatur sipil negara (ASN) atau Pegawai Negeri Sipil (PNS). https://www.cnnindonesia.com/nasional/20200902181845-20-542100/menag-punya-pemikiran-khilafah-jangan-diterima-jadi-asn 2 September 2020

Menunjukkan bahwa kemenag makin Nampak menyerang Islam dengan terang-terangan. Terlebih lagi Menteri Agama Fachrul Razi akan menerapkan program sertifikasi penceramah bagi semua agama mulai bulan ini. Ia menyatakan pada tahap awal bakal ada 8.200 orang akan mendapatkan sertifikasi penceramah. "Kemenag bentuk program penceramah bersertifikat. Akan kami mulai bulan ini. Tahap awal kami cetak 8200 orang," kata Fachrul dalam webinar 'Strategi Menangkal Radikalisme Pada Aparatur Sipil Negara' di kanal Youtube Kemenpan RB, Rabu (2/9). https://www.cnnindonesia.com/nasional/20200902213206-20-542189/menag-mulai-sertifikasi-8200-penceramah-bulan-ini. 3 September 2020

Tampak sekali bahwa rezim tak henti-hentinya memerangi islam dan kaum muslim. Khilafah dituduh sebagai paham radikal. Pun sampai detik ini istilah radikal sengaja dibuat tidak jelas serta selalu dimonsterisasi, dikonotasikan buruk dan dialamatkan pada islam. Penggunaan istilah radikal dan radikalisme-pun bukanlah tanpa maksud. Ada tujuan tersembunyi yang hendak dicapai dalam penggunaan istilah itu. Diduga, istilah ini dimaksudkan untuk menyasar orang atau kelompok tertentu yang dianggap mengancam namun tidak bisa dijerat dengan delik pidana ataupun terorisme.

Para aktivis islam misalnya, mereka yang terjun sebagai pejuang Syariah dan khilafah jelas tidak pernah dan tidak akan pernah melakukan Tindakan criminal apalagi terorisme, sebab hal itu sangat jelas dilarang oleh syariat islam. Mereka mendakwahkan islam sescara damai, mereka sama sekali tidak pernah menggunakan kekerasan karena seperti itulah perjuangan yang mereka teladani dari Rasulullah SAW. Temasuk di dalamnya Rasulullah memberikan tauladan untuk kaum muslim agar senantiasa dalam keadaan good looking. 

Namun para pejuang Syariah dan khilafah ini senantiasa dianggap sebagai orang atau kelompok yang sangat berbahaya. Karena itu rezim terus-menerus berupaya untuk membungkam para aktivis dakwah ini. Dan yang dapat mereka lakukan adalah berupaya mencari justifikasi dan bermain-main dengan istilah abu-abu yang dapat ditafsirkan sesuai dengan keinginan mereka. Radikalisme adalah istilah yang mereka pakai yang dapat dimainkan dan dapat dicarikan justifikasi (pembenaran bukan kebenaran). Baru setelah istilah radikalisme ini ditemukan, mereka kemudian menyususn program deradikalisasi dengan sasaran tembak organisasi dakwah islam dan aktivisnya.

Padahal radikal berasal dari kata radix yang dalam Bahasa latin artinya adlah akar. Dalam kamus besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata radikal mempunyai memiliki arti: mendasar (sampai pada hal yangn prinsip); sikap politik amat keras menuntut perubahan (undang-undang pemerintahan); maju dalam berpikir dan bertindak. Jika dikembalikan pada pengertian asalnya, radikal adalah istilah yang bersifat netral, tidak condong pada sesuatu yang bermakna positif atau negative. Positif atau negative itu tergantung dengan apa kata radikal itu dipasangkan (Al wa’ie oktober 2016).

Secara Bahasa jika radikal bermakna mendasar (sampai pada hal yang prinsip) maka Islam adalah ajaran yang radikal. Sebabnya islam berisi akidah (yang sangat mendasar) dan Syariah (sebagai implementasi dari akidah). Akidah memberi jawaban yang komprehensif dari pertanyaan mendasar tentang kehidupan, yaitu: dari mana asal kita? Mau kemana kita setelah kehidupan ini? Dan kita hidup ini untuk apa? 

Kemudian mampu memberikan jawaban atas seluruh pertanyaan di atas. Kehidupan berasal dari Allah; setelah kehidupan ini manusia menghadap Allah; dan manusia hidup tak lain adalah untuk beribadah kepada Allah. Jelas akidah islam adalah akidah yang sangat mendasar atau radikal. Karena Islam terdiri dari akidah dan Syariah, bukan sekedar ritual, adat, budaya, apalagi sekedar pengisi kolom ktp.

Namun jika kata radikal ditambah dengan isme jadilah radikalisme, yang menurut KBBI memiliki arti: paham atau aliran yang radikal dalam politik; paham atau aliran yang menginginkan perubahan dan pembaruan sosial politik dengan cara kekerasan atau drastic; sikap extrim dalam aliran politik.

Jadi meski islam itu radikal namun islam menolak radikalisme. Islam menolak cara-cara kekerasan dalam perubahan sosial-politik dan juga dalam pemaksaan agama seseorang. Karena di dalam al quran disebutkan:
لَاۤ اِكْرَاهَ فِى الدِّيْنِ 
Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam)… (QS al Baqarah :256)

Jika kemudian para pejuang khilafah ini dikatakan sebagai penyebar bibit-bibit radikalisme yang berbahaya, sampai-sampai penguasa melakukan screening yang sangat ketat. Mulai dari sertifikasi da’I, seleksi calon ASN. Tentu yang perlu dipahami adalah bahwa khilafah merupakan ajaran islam yang menurut para ulama adalah kepemimpinan umum atas seluruh umat dalam mengatur urusan agama dan urusan dunia. Meskipun dengan redaksi yang berbeda-beda. Ulama aswaja sepakat bahwa khilafah adalah sistem yang tegak di atas akidah islam. Islam memposisikan khalifah sebagai pemimpin agung seluruh umat islam yang menerapkan islam scara menyeluruh dan menyebarkan silam ke seluruh penjuru dunia dengan dakwah dan jihad. Mereka juga sepkat bahwa khilafah dan imamah memiliki pengertian yang sama (sinonim).

Berdasarkan hal tersebut jelaslah bahwa khilafah adalah ajaran islam. Lalu bagaimana khilafah bisa dituduh sebagai ancaman bagi negeri ini yang mayoritasnnya adalah kaum muslim? Maka hal ini bisa Menegaskan bahwa ada banyak agenda deradikalisasi hanya merupakan kedok menghambat kembali tegaknya Islam-khilafah.
 
Top