Oleh : Yanik Inaku
(Anggota Komunitas Setajam Pena)

Pemerintah Indonesia saat ini terus berupaya menarik investasi untuk masuk ke Indonesia. Karenanya, pemerintah melancarkan berbagai jurus demi menarik investor ke dalam negeri. Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) tengah menargetkan untuk menarik investor luar negeri agar mau berinvestasi di Indonesia di tengah pandemi Covid-19.

Beberapa langkah telah dilakukan pemerintah untuk meningkatkan daya tarik investasi di Indonesia ini. Di antaranya yaitu mulai dari pembangunan infrastruktur, hingga fasilitas perizinan dibenahi agar semakin banyak pelaku bisnis dari luar negeri yang menanamkan modal di Indonesia.

Perekonomian Indonesia didorong oleh beberapa faktor seperti konsumsi masyarakat, investasi dan ekspor. Dengan alasan itulah untuk meningkatkan perekonomian Indonesia, pemerintah mulai membuka kran bagi para investor terutama investor asing. Pemerintah juga mengeluarkan aturan terkait insentif pengurangan PPh bagi ratusan bidang usaha, ini merupakan upaya untuk menarik investasi melalui instrumen pajak. Pemerintah terlihat semakin membabi buta untuk menarik investor asing tersebut.

Saat ini, pemerintah juga sedang mengkaji rencana pembangunan industri medical tourism atau wisata medis di Indonesia. Medical tourism merupakan perjalanan yang dilakukan untuk mendapatkan layanan kesehatan, kebugaran, serta penyembuhan di negara tujuan. Agar perekonomian Indonesia lebih berdaya saing, maka kualitas kesehatannya harus terus diperbaiki. Saat ini sektor kesehatan Indonesia sudah mulai dilirik dunia, di mana investasi di sektor pelayanan kesehatan meningkat tinggi.

Jodi Mahardi, juru bicara Kemenko Kemaritiman dan Investasi mengatakan, tengah mengkaji izin masuk bagi dokter asing ke Indonesia. Dokter yang akan didatangkan adalah dokter spesialis yang belum ada di Indonesia. Rencana ini berkaca dari negara di Asia seperti Thailand, Singapura, India, Malaysia, dan Korea Selatan yang sedang mengembangkan wisata medis.

Tentu kita bisa bayangkan, berapa biaya yang harus dikeluarkan rakyat untuk mendapatkan pelayanan ini. Karena dinilai pengembangan wisata medis di Indonesia menjadi sangat realistis dan menguntungkan. Tentu inilah yang diharapkan pemerintah dengan alasan keuntungan, makanya didorong untuk peningkatan investasi di sektor kesehatan. Dimana hal ini tentu sudah mengorbankan kepentingan rakyat untuk mendapatkan pelayan kesehatan yang aman dan terjangkau.

Pemerintah Indonesia seakan lalai terhadap tingkat kesehatan masyarakat. Mereka lebih mengutamakan hal-hal lain seperti pembangunan infrastruktur, pembukaan lapangan kerja baru, dan investasi lainnya yang dapat meningkatkan pertumbuhan GDP. Padahal kesehatan justru memiliki peranan penting dalam semua hal tersebut. Jika invetasi layanan publik  diserahkan pada asing ini, maka sangat merugikan rakyat.

Seperti kita ketahui pasti pemerintah akan menyerahkan pada swasta dalam hal pengelolaannya. Dimana yang menjadi orientasi mereka adalah keuntungan semata, yang secara otomatis biaya kesehatan akan semakin meninggi dan tak terjangkau rakyat sendiri.

Itulah kehidupan dalam sistem kapitalis. Meskipun penerapan sistem ekonomi kapitalis berhasil menciptakan pertumbuhan ekonomi, namun secara bersamaan, telah melahirkan gejolak, pertentangan antarkelas yakni pemilik modal (kapitalis) kelompok pekerja.

Padahal dalam Islam, pemimpin adalah seseorang yang telah diberi tanggung jawab untuk melaksanakan tugas yang telah diembannya dengan baik. Memastikan segala kebutuhan warganya terpenuhi. Pemimpin atau pemerintahan Islam harus berupaya dengan berbagai cara agar kebutuhan masyarakat terpenuhi dengan baik, tidak membebankan mereka, apalagi terhadap masyarakat yang ekonomi lemah.

Apalagi, sebetulnya sudah menjadi kewajiban pemerintah untuk memberikan fasilitas layanan publik dan kesehatan secara gratis. Rasulullah saw. bersabda, “Pemimpin (kepala negara) adalah pengurus rakyat dan ia bertanggung jawab atas pengurusan mereka”. (HR. Muslim)

Seorang pemimpin kelak akan dimintai pertanggung jawaban atas kepemimpinannya.
Wallahu a'lam bish-showab.
 
Top