Oleh : Nur Ilmi Hidayah

Pemerhati Masalah Remaja, Guru Bimbingan Konseling


Hedonisme adalah suatu pandangan hidup yang dianggap bahwa kesenangan dan kenikmatan materi adalah tujuan utama hidup. Hedonisme terjadi karena adanya perubahan perilaku pada masyarakat yang hanya menghendaki kesenangan. Perilaku tersebut lama kelamaan mengakar dalam kehidupan remaja termasuk pada remaja yang pada akhirnya menjadi seperti budaya bagi mereka, tingkat pengetahuan dan pendidikan juga sangat berpengaruh pada pembentukan sikap mental para remaja.

Faktor-faktor terjadinya budaya hedonisme antara lain:

1. Faktor internal, yang berasal dari dalam diri sendiri. Yang mana setiap orang pasti menginginkan dalam hidup mereka. Rasa ketidakpuasan manusia yang tidak ada ujungnya. Hal ini kemudian menjadikan manusia sebagai makhluk yang egois, serakah, dan cenderung memiliki sifat materialistik.


2. Faktor eksternal, rasa dari lingkungan serta pergaulan yang sangat luas. Faktor ini membentuk karakter manusia menjadi hedonisme.

Banyak di antara para remaja yang melarikan diri dari masalah dengan berhura-hura. Kebiasaan sepeti inilah yang kemudian menjadi budaya di kalangan remaja. Adapun beberapa dampak negatif budaya hedonisme yaitu pergaulan bebas (seks bebas, clubbing dan narkobaisme), individualisme, materialisme, tidak bertanggung jawab, pemalas, tidak disiplin, korupsi, plagiat, dan diskriminasi.

Seorang remaja putri, usia sekitar 15 tahun datang ke saya untuk konsultasi. Dia mengeluh terlambat haid selama kurang lebih sebulan terakhir. Setelah melalui beberapa interview, saya memutuskan air seninya untuk tes kehamilan. Sesuai dugaan saya, remaja tersebut positif hamil.

Ini bukan kali pertama saya menjumpai kasus-kasus seperti itu. Bahkan bukan hanya saya, banyak rekan konselor lain menceritakan hal serupa. Memang miris mendengarnya. Generasi remaja kita tengah hanyut dalam arus zaman liberalisasi, pergaulan muda-mudi yang sangat akrab dengan seks bebas.

Dalam kajian teori kritik sosial, kita mencermati tentang adanya kesadaran palsu yang harus diterima masyarakat dengan tujuan untuk melanggengkan sistem yang ada (kapitalisme). Kesadaran palsu ini menjerumuskan manusia kepada hal-hal yang sifatnya gaya hidup, materialisme semu yang membawa setiap individu seolah-olah berada di zona nyaman eksistensi dirinya. Akan tetapi, zona nyaman yang dianggap ideal oleh sebagian individu, terutama remaja yang masih dalam masa pencarian jati diri dengan visualisasi (gambaran-gambaran) yang mereka lihat. Kesadaran palsu ini akhirnya memberikan pandangan baru pada setiap individu bahwa kebahagiaan identik dengan hal-hal yang bersifat materi.

Ketika manusia terus menerus mengejar kesenangan demi memuaskan gaya hidupnya (akumulasi kesadaran palsu), maka pada titik tertentu manusia tersebut akan meninggalkan nilai-nilai moral, etika, norma-norma sosial, bahkan melanggar norma susila. Dan remaja adalah korban yang paling besar dari paradigma dengan cara berpikir kapitalisme ini, karena remaja sangat rentan untuk terjebak pada hal-hal negatif.

Semua pihak haruslah merasa bertanggung jawab atas maraknya hedonisme dan seks bebas di kalangan remaja. Di samping peran orangtua, peran masyarakat sangatlah penting, dan sistem pendidikan juga harus diubah. Pemerintah sudah seharusnya tegas dalam mengeluarkan peraturan undang-undang negara, para pengusaha, pedangang, dan web internet diberhentikan untuk menyebarkan hal-hal yang merusak (karena generasi kita sangatlah rapuh).

Islam Solusi Tuntas dalam Menangani Budaya Hedonisme dan Seks Bebas di Kalangan Remaja

Hedonisme itu sendiri adalah pandangan hidup yang menganggap bahwa orang akan menjadi bahagia dengan mencari kebahagiaan sebanyak mungkin. Salah satunya, dengan membelanjakan atau mengkonsumsi secara berlebihan. Seharusnya kita sadar akan pemenuhan kebutuhan manusia dapat dipenuhi dengan kesederhanaan tanpa perlu berperilaku konsumtif.

Tujuan konsumsi dalam Islam adalah dalam rangka memenuhi kebutuhan manusia. Pemenuhan kebutuhan untuk pengabdian kepada Allah Swt. akan menjadikannya bernilai ibadah untuk mencari rezeki, mengkonsumsi sesuatu yang halal dan tidak boleh berlebihan.

Tantangan terbesar bagi remaja saat ini adalah budaya hedonisme yang seolah sudah mengurat nadi. Budaya yang bertentangan dengan ajaran Islam ini digemari dan dijadikan sebagai gaya hidup anak muda masa kini. Kaya atau miskin, ningrat atau jelata, sarjana atau kaum proleter (masyarakat kelas bawah), di desa maupun di kota seolah sepakat menjadi hedonisme yang sejatinya kebiasaan hidup orang Barat ini sebagai tauladan dalam pergaulannya.

Firman Allah Swt. dalam surat Hud ayat 166,

فَلَوْلَا كَانَ مِنَ ٱلْقُرُونِ مِن قَبْلِكُمْ أُو۟لُوا۟ بَقِيَّةٍ يَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْفَسَادِ فِى ٱلْأَرْضِ إِلَّا قَلِيلًا مِّمَّنْ أَنجَيْنَا مِنْهُمْ ۗ وَٱتَّبَعَ ٱلَّذِينَ ظَلَمُوا۟ مَآ أُتْرِفُوا۟ فِيهِ وَكَانُوا۟ مُجْرِمِينَ

"Maka mengapa tidak ada dari umat-umat yang sebelum kamu orang-orang yang mempunyai keutamaan yang melarang daripada (mengerjakan) kerusakan di muka bumi, kecuali sebahagian kecil di antara orang-orang yang telah Kami selamatkan di antara mereka, dan orang-orang yang zalim hanya mementingkan kenikmatan yang mewah yang ada pada mereka, dan mereka adalah orang-orang yang berdosa."

Bahkan yang lebih meresahkan lagi, budaya hedonisme telah menjadi ideologi bagi kaum muda yang tidak tabu lagi untuk dilakukan.

Merosotnya pemahaman agama menyebabkan keimanan masyarakat juga semakin tipis. Tidak ada lagi perasaan takut pada remaja atau melakukan perbuatan asusila. Orangtua juga tidak merasa berdosa membiarkan anaknya berpacaran, dan masyarakat juga tidak menganggapnya sebagai permasalahan. Padahal keimananlah yang menjadi rem penahan seorang muslim dari kemaksiatan termasuk perzinaan.

Ketika Islam diterapkan, niscaya mampu membangun generasi yang bersih dan berkepribadian Islam jauh dari hedonisme dan seks bebas, hal ini yang mendasar yang diwajibkan Islam dalam hal ini adalah kewajiban negara, orangtua dan seluruh kaum muslimin membina dan menanamkan ketakwaan pada diri kaum muslim termasuk remaja.

Islam juga mewajibkan keluarga, masyarakat dan negara untuk melindungi semua anggota termasuk remaja. Dalam keluarga, selain wajib menjamin kebutuhan hidup anak-anak mereka agar memiliki kepribadian Islam, membentuk pribadi yang paham dan taat pada hukum-hukum Allah Swt., sehingga remaja tidak jatuh pada tindak asusila apalagi melakukan hidup hedonisme dan seks bebas (perzinaan).

Menyelamatkan remaja tidak akan berjalan bila negara tidak mengambil peran. Bahkan peran negara sangat besar dalam menjaga moral masyarakat. Negara wajib menjamin ekonomi warganya agar tidak terdorong melakukan tindakan kemaksiatan. Negara juga harus menegakkan hukum agar nilai-nilai hasrat masyarakat terjaga. Karena itu, hukum-hukum Islam yang terkait dengan tindak pidana asusila wajib untuk dilaksanakan.

Telah nampak kerusakan para remaja akibat dari sistem yang rusak (sekularisme dan demokrasi). Kebebasan yang diusung telah menghancurkan masa depan generasi muda umat. Masa depan umat pun terancam karena sistem yang rusak tersebut.

Karena itu, sekularisme, demokrasi, liberalisme harus segera dicampakkan. Sebagai gantinya, sistem Islam dengan hukum-hukum syariahnya harus segera diterapkan di bawah naungan sistem Khilafah Rasyidah yang mengikuti manhaj kenabian. Sekaranglah kita wujudkan perubahan itu.

Wallahu a’lam bishshawab.[]

 
Top