Oleh : Anna Ummu Maryam
Pegiat literasi peduli Umat

Majalah mingguan satir Perancis Charlie  Hebdo yang mencetak lagi kartun  Nabi Muhammad di edisi terbarunya, ludes terjual dalam sehari.

Edisi yang terbit pada Rabu (2/9/2020) itu menampilkan belasan kartun yang mengejek Nabi Muhammad, termasuk gambar yang memicu protes besar saat pertama kali diterbitkan.

Charlie Hebdo mendistribusikan tiga kali lebih banyak dari kuota cetak normalnya pada Rabu, dan langsung terjual habis dalam sehari.
Bahkan saking banyaknya peminat, Charlie Hebdo akan menerbitkan 200.000 eksemplar tambahan yang akan tersedia di kios-kios koran Perancis mulai Sabtu (Kompas.com, 5/9/2020).

Latar belakang keputusan yang mereka ambil  tersebut disebut menandai dimulainya sidang terhadap 14 terduga komplotan tiga penyerang dalam insiden 7 Januari 2015.

Mereka juga menganggap apa yang mereka lakukan bukanlah kesalahan.
"Ini menunjukkan bahwa kami didukung, bahwa kebebasan berekspresi, sekularisme, dan hak penistaan bukanlah nilai-nilai usang, dan bahwa mereka didukung publik Perancis yang membelinya," kata kartunis majalah itu dengan nama pena Juin saat dihubungi AFP.

"Kami bekerja berdasarkan prinsip bahwa beberapa orang tidak mengetahui kartun tersebut, beberapa bahkan belum lahir ketika diterbitkan Charlie pada 2006, dan mereka perlu memahami mengapa serangan itu terjadi," ucap Juin.

Kapitalis Liberal  Sekular Sumber Kekacauan

Tentu apa yang dilakukan majalah Charlie Hebdo ini amat disayangkan karena sejatinya mereka sudah mengetahui akan kemarahan umat muslim akan sikap mereka. Namun mereka tetap menjalankan misi penyebaran cetakan tersebut dan merasa berada dibawah hak asasi manusia.

Kapitalis liberalisme sekular yaitu faham kebebasan tanpa aturan agama telah menjadi pemicu konflik agama,  karena manusia atas dasar hak asasi manusia dan liberal sekular inilah merasa boleh melakukan apa saja yang menurut mereka itu baik. Lantas dengan pandangan itu pulalah memunculkan benih kebencian pada agama tertentu dengan alasan kebebasan.

Ini jelas sebuah penghinaan dan pelecehan bagi agama tertentu terutama agama Islam. Karena ditulis bukan berdasarkan kebenaran tapi lahir dari penalaran akal manusia yang sombong. Yang ingin menuduh syari'at Islam tidak sempurna dan mengandung nilai sesat dan kepornoan.

Tindakan majalah Charlie Hebdo ini menuai beragam kritikan dan ancaman dari bebagai pihak dan juga Negara luar. Seperti  dari Kampus Islam Besar Mesir Al - Azhar mengecam kuat majalah satir mingguan asal Perancis,  Charlie Hebdo yang mencetak ulang kartun ofensif Nabi Muhammad pada Rabu kemarin (Kairo, Kompas.com, 2/9/2020).

Hal senada juga diungkapkan  oleh Kementerian Luar Negeri Pakistan mengecam keputusan Majalah satir Charlie Hebdo karena kembali mencetak karikatur Nabi Muhammad pada Selasa (Islamabad, Kompas.Com, 1/9/2020)

Namun hal ini sepertinya tidak berpengaruh kuat bagi majalah ini, bahkan mereka tetap melakukan aksinya walau telah  tau akan mendapat kecaman dari berbagai Negara yang mengajukan akan munculnya kembali konflik seperti masa silam.

Dapat kita lihat bahwa tindakan ini akan senantiasa ada dan dilakukan tanpa rasa takut dan bersalah karena menganggap hal ini adalah kebebasan dan hak asasi bagi siapapun. Sehingga memunculkan sentimen terhadap agama tertentu seperti Islam.

Dalam kacamata  liberal sekuler, agama hanya diposisikan sebagai salah satu dari sekian nilai/norma yang menjadi rujukan dalam pembuatan UU. Keberadaan agama bukanlah satu-satunya rujukan dalam mengatur kehidupan manusia.

Wajar akhirnya agama dapat dinistakan. Padahal, seharusnya agama menjadi satu-satunya sumber konstitusi dan perundang-undangan, dan agama harus menjadi arah pandang kehidupan umat manusia.

Islam Menghentikan Penistaan Agama

Islam adalah agama yang mulia yang ia berasal dari Sang Pencipta manusia, alam semesta dan kehidupan itu sendiri. Sehingga membawa kayakinan yang benar dan peraturan yang benar yang mengatur bagaimana manusia hidup selaras dengan semuanya.

Dalam pandangan Islam ibadah adalah adalah hal yang amat urgen karena menyangkut keyakinan pada Pencipta, dan hal tersebut adalah konsekuensi dari ketundukan hamba kepada Sang Pencipta.

Maka Islam melarang keras bagi muslim untuk mengingkari atau keluar dari agama Islam. Sebagaimana dalam hadis dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ بَدَّلَ دِينَهُ فَاقْتُلُوهُ

”Siapa yang mengganti agamanya, bunuhlah dia.” (HR. Bukhari 3017, Nasai 4059, dan yang lainnya)

Islam juga mengatur bagaimana perlakuan dan sanksi bagi penista agama. Ibnu Taimiyah dalam bukunya As-Sharim al-Maslul ala Syatimi ar-Rasul (Pedang Terhunus untuk Penghujat Rasul), menjelaskan batasan tindakan orang yang menghujat Nabi Muhammad ﷺ:

“Kata-kata yang bertujuan meremehkan dan merendahkan martabatnya, sebagaimana dipahami kebanyakan orang, terlepas perbedaan akidah mereka, termasuk melaknat dan menjelek-jelekkan.” (Lihat Ibnu Taimiyyah, as-Sharim al-Maslul ala Syatimi ar-Rasul, I/563)

Sanksi bagi pelakunya adalah hukuman mati.

أَنَّ يَهُودِيَّةً كَانَتْ تَشْتُمُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَتَقَعُ فِيهِ ، فَخَنَقَهَا رَجُلٌ حَتَّى مَاتَتْ ، فَأَبْطَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَمَهَا

“Ada seorang wanita Yahudi yang menghina Nabi ﷺ, dan mencela beliau. Kemudian orang ini dicekik oleh seorang sahabat sampai mati. Namun, Nabi ﷺ menggugurkan hukuman apa pun darinya [sahabat itu].” (HR. Abu Daud 4362 dan dinilai Jayid.

Oleh Syaikhul Islam
Hadis di atas jelas menyampaikan pada kita bahwa penghina Rasul ﷺ hukumannya adalah mati. Begitu pun yang pernah ditunjukkan oleh Khalifah Abdul Hamid II terhadap Prancis dan Inggris yang hendak mementaskan drama karya Voltaire yang menghina Nabi Muhammad ﷺ.

Inilah aturan yang akan menghentikan segenab tindakan para penghina ajaran  Islam. Dan tindakan tersebut hanya mampu dilakukan oleh sebuah Negera. Dan negara yang telah terbukti menjaga Islam dan umat adalah khilafah ala minhajin nubuwwah yang ditegakkan oleh Nabi Muhammad Saw dan juga para sahabat Khalifah sesudah beliau.
 
Top