Oleh : Nur Ilmi Hidayah

Pemerhati Masalah Remaja, Praktisi Pendidikan


Seakan tidak pernah habis berita tentang LGBT dengan semua problemnya. Dan yang terbaru adalah dengan ramainya kecaman nitizen di dunia maya terhadap unilever karena dukungannya pada gerakan LGBT.

Bahkan tak sedikit seruan untuk memboikot produk unilever, di antaranya disampaikan Majelis Ulama Indonesia (MUI). Ketua Komisi Ekonomi MUI, Azrul Tanjung menyatakan akan memboikot Unilever dan mengajak masyarakat untuk beralih produk lain, seperti dikutip Republika (Ahad, 28/6/2020).

Fenomena perilaku LGBT makin marak, karena mereka mendapat peluang. Ini membuktikan adanya perubahan paradigma di tengah masyarakat tentang standar baik dan buruk perbuatan akibat penerapan sistem sekularisme di dunia, menjadikan tolok ukur perbuatan adalah halal dan haram, akan tetapi Islam diberangus di pojok masjid. Sehingga tidak mampu membendung gerakan LGBT yang sudah menjadi gerakan politik dimana bahaya yang ditimbulkannya multidimensi, salah satunya karena mendapat dukungan asing.

Upaya kaum LGBT mengejar legalitas dan keberanian adalah bentuk liberalisasi perilaku atas nama HAM, jelas produk sekularisme yang merusak. Pelaku dan pendukung LGBT tidak ada empati kepada anggota keluarga yang menjadi korban LGBT, pedofilia, kumpul kebo, dan lain-lain. Mereka tidak peduli berapa yang meninggal karena menderita HIV/AIDS, tidak ada sedikitpun mereka mampu melihat bahwa itu adalah akhir dari ulah bejat mereka.

Jaringan LGBT yang cukup luas tidak bisa dilepaskan dari pandangan dunia yang sekuler. Salah satu proyek sekularisme dalam bidang moral adalah melepaskan ikatan ajaran dan norma agama dalam perilaku dan gaya hidup. Sekularisme berusaha sedapat mungkin mengendalikan konsep baik dan buruk berdasarkan kesepakatan dan konstruksi bersama. Artinya, baik dan buruk perilaku adalah berdasarkan kontrak sosial, bukan lagi berdasarkan dalil agama. Agama sudah tidak dianggap lagi relevan dengan perkembangan dan tuntutan zaman.

Pandangan yang menyatakan LGBT adalah abnormal, sakit mental, atau bahkan perilaku menyimpang dari kodrat manusia adalah pandangan yang usang dan tidak lagi sesuai dengan dunia kontemporer. Yang mengusung kehendak bebas dan penghargaan pada pilihan eksistensial individu masing-masing. Kaum sekuler menolak klaim universal dan absolutatisme moral seseorang dalam menjalani hidup ini.

Dalam hubungannya dengan komunitas LGBT, sekularisme mendukung setiap individu untuk mengekspresikan dan mengaktualisasikan pilihan kehendak dirinya untuk menjadi gay, lesbi atau apa pun kehendaknya. Tanpa tidak boleh ada pihak mana pun yang menghalanginya, yang disebut sebagai basic rights atau fundamental rights yang melekat pada diri setiap orang. Dengan ini dikatakan bahwa homoseksual bukanlah suatu penyimpangan sosial, melainkan suatu variasi dalam identitas manusia yang didasarkan pada tindakan pilihan setiap orang.

Melihat realitas sosial tidak lain adalah konstruksi sosial yang dikreasikan oleh individu, maka individulah yang menjadi penentu dalam dunia sosial yang dikonstruksi berdasarkan kehendaknya. Dengan dalih itu, kampanye untuk membebaskan individu dari ikatan moral agama yang selama ini menjadi penghalang kaum liberalisme dan sekularisme untuk mendapatkan cita-citanya yaitu nihilnya moral dan kebebasan individu menjadi lorong sekularisme untuk mengafirmasi keberadaan LGBT atas nama HAM dan perjuangan anti diskriminasi.

Afirmasi atas komunitas ini diperjuangkan dengan berbagai jaringan dana dan media yang kuat, baik di tingkat lokal maupun global. Targetnya adalah praktik-praktik LGBT oleh negara. Kalaupun kemudian muncul masalah, mereka itu dianggap kurangnya pengaturan baik dari masyarakat maupun negara, bukan karena salahnya pilihan mereka.

Padahal, sangat jelas bahwa LGBT adalah kebebasan sekularis. Yang terkandung di dalam ide ini adalah membuat individu tidak peduli dengan kemaslahatan orang banyak apalagi generasi masa depan. Merusak kehidupan, menyebarkan penyakit dan mengancam peradaban manusia.

Ini jelas pandangan yang salah. LGBT bukan pilihan orang normal, tapi pilihan bagi orang abnormal. LGBT adalah sebuah penyimpangan dari fitrah manusia.

Islam secara lantang telah menyerukan keharamannya LGBT dengan menggambarkan bagaimana kaum Nabi Luth diazab Allah Swt., yang mana tidak saja menyapu bersih pelakunya, tapi juga masyarakat di sekitarnya. Secara institusi, negara (khilafah) akan menjatuhkan hukuman dibunuh bagi pelaku liwaath (homoseksual) dan  pelaku As Sahaq (lesbi) baik subjeknya maupun objeknya, dirajam bagi pelaku zina yang sudah menikah, dan dicambuk bagi yang belum menikah.

Hukum akan ditegakkan secara tegas dan adil karena hukuman dalam Islam, selain sebagai penebus dosa juga akan menimbulkan efek jera. Ini adalah perkara keimanan dan ketaatan tentang standar perbuatan seorang hamba kepada Rabbnya. Tidak pandang bermanfaat atau tidak, sesuai HAM atau melanggarnya, sesuai kemanusiaan atau justru tidak sesuai. Sekali hukum itu wajib, maka tidak akan berubah hingga akhir zaman.

Allah Swt. telah menciptakan manusia rasa suka dengan lawan jenisnya dalam setiap diri manusia dengan tujuan melestarikan jenisnya. Karena rasa suka pada lawan jenis ini punya potensi baik dan buruk. Allah mengatur penyalurannya hanya melalui pernikahan, jika manusia mengambil jalan di luar itu, maka inilah yang disebut kekejian nyata. Terlebih jika rasa suka disalurkan pada sesama jenis, dalam masyarakat sekuler, tujuan menciptakan rasa tersebut tidak menjadi fokus utama. Tapi, justru yang menjadi fokus adalah mendapatkan kenikmatan rasa sebanyak-banyaknya, sehingga mereka tidak peduli kepada siapa mereka salurkan nafsu syahwatnya.

Akibatnya, generasi akan punah karena pernikahan sejenis yang tidak menghasilkan keturunan dan akan rusak secara mental karena perilaku LGBT akan menularkan melalui pembiasaan sikap. Berapa banyak lagi korban untuk membuat masyarakat dan penguasa ini sadar akan massifnya gerakan LGBT.

Maka, para tokoh umat Islam sedunia, para cendekiawan dan ulama wajib menolak LGBT dan mengedukasi umat. Terutama kepada penguasa negeri-negeri muslim yang kini selalu menjadi sasaran dari agenda kafir Barat untuk segera bergerak menolak ide ini dan bertanggung jawab menyelamatkan generasi dan umat dari kehancuran akibat perbuatan perzinaan dan LGBT.

Dengan semakin banyaknya pelaku penyimpangan seksual dalam tatanan hidup manusia yang menjadi penyebab munculnya penyakit-penyakit menular seksual. Islam memberikan 3 cara untuk mengatasi makin merebaknya dan menularnya gerakan LGBT, yaitu dengan cara promotif, preventif dan sistemik.

Secara promotif, Islam menganjurkan seorang muslim untuk memelihara kehormatannya. Meninggikan derajat dan martabatmya untuk beriman dan bertakwa. Dengan penjagaan ini, manusia tidak akan melakukan perbuatan yang dilaknat Allah Swt.

Manusia dipromosikan surga jika mereka bertakwa dengan segera. Sebagaimana firman Allah Swt. dalam surat Ali Imran ayat 133 :

وَسَارِعُوٓا۟ إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا ٱلسَّمَٰوَٰتُ وَٱلْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.”

Secara preventif, Islam memiliki metode yang dapat mencegah penyimpangan LGBT ini agar tidak menular ke yang lainnya. Islam mengharamkan perbuatan penyimpangan dan sejenisnya yang merusak akal. Oleh karena itu, Islam juga memberikan sanksi yang tegas bagi pelakunya.

Negara pun wajib memberantas sarana-sarana maksiat yang mengarahkan pada penyimpangan seksual beserta sarana-sarana yang menghantarkannya seperti tontonan, lokalisasi, diskotik, dan sejenisnya. Tidak akan ada sarana-sarana yang dapat dimanfaatkan untuk memudahkan kemaksiatan.

Secara sistemik, terapkan hukuman, bila berbagai pencegahan telah dilakukan, tetapi tetap juga terjadi penyimpangan seksual maka pengadilan dalam pemerintahan Islam menerapkan hukuman sesuai syariat terhadap pelakunya.

Perbuatan LGBT tersebut dikategorikan perbuatan kriminal. Bila pengadilan menemukan bukti dan diputuskan di pengadilan, hukuman bagi para pelakunya adalah hukuman mati. Hal ini didasarkan Sunah Rasulullah saw., beliau bersabda, “Siapa saja yang kalian temukan melakukan perbuatan kaum Luth (liwaath) maka hukum matilah baik yang melakukan maupun yang diperlakukannya.” (HR. Al-Khomsah kecuali An-Nasa’i)

Problem LGBT adalah problem sistemis, menyangkut banyak faktor yang saling terkait satu sama lain. Di sinilah peran negara yang sangat penting.

Pertama, negara menanamkan iman dan takwa kepada seluruh anggota masyarakat agar menjauhi semua perilaku menyimpang dan maksiat.

Kedua, negara akan menghentikan penyebaran segala bentuk pornografi dan pornoaksi baik yang dilakukan sesama jenis maupun berbeda jenis.

Ketiga, negara akan menerapkan sistem ekonomi Islam yang menjamin keadilan dan kesejahteraan ekonomi rakyat, sehingga tidak akan ada pelaku LGBT yang menjadi alasan ekonomi.

Keempat, jika masih ada yang melakukan, maka sistem uqubat (sanksi) Islam yang akan menjadi benteng yang bisa melindungi masyarakat dari perbuatan maksiat.

Demikianlah, tidak ada aturan yang lebih baik dibandingkan dengan aturan dari Dzat yang telah menciptakan manusia, yakni Allah Swt. yang mampu menyelesaikan permasalahan ini.

أَفَحُكْمَ ٱلْجَٰهِلِيَّةِ يَبْغُونَ ۚ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ ٱللَّهِ حُكْمًا لِّقَوْمٍ يُوقِنُونَ

Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?”

Wallaahu a’lam bishshawab.[]

 
Top