Oleh : Rini Heliyani

Pada hari Jumat, kekerasan meletus di kota Malmo Swedia dimana lebih dari 300 orang berkumpul untuk memprotes kegiatan anti-Islam. Berbagai laporan menunjukkan bahwa pengunjuk rasa melemparkan benda-benda ke polisi dan membakar ban mobil. Demonstran membakar ban saat kerusuhan di lingkungan Rosengard di Malmo, Swedia 28 Agustus 2020. (Kantor Berita TT via Reuters)

Bagaimana kekerasan di Swedia dimulai?
Protes dimulai setelah salinan Al-Qur'an dibakar di Malmo pada hari Jumat oleh anggota partai sayap kanan Denmark Stram Kurs (Garis Keras). Sebelumnya pada hari itu, pemimpin partai Rasmus Paludan ditolak izinnya untuk mengadakan pertemuan di Malmo tentang "Islamisasi di negara-negara Nordik", dimana dikabarkan bahwa Al-Qur'an akan dibakar, surat kabar Swedia Aftonbladet melaporkan. Paludan diundang oleh artis dan provokator Swedia Dan Park, yang sebelumnya dihukum karena menghasut kelompok etnis.

Paludan adalah seorang politikus dan pengacara Denmark yang mendirikan partai sayap kanan Stam Kurs pada tahun 2017 dan dikenal karena membuat video anti-muslim di YouTube, yang isinya termasuk membakar Al-Qur'an, kadang-kadang dibungkus dengan bacon, yang dibenarkannya sebagai penghargaan untuk kebebasan berbicara.

Pada bulan Juni, Paludan didakwa atas tuduhan rasisme karena memposting video anti-Islam di saluran media sosial partainya, akibatnya dia dijatuhi hukuman tiga bulan penjara dan dilarang menjalankan praktik hukum. Pada 2019, dia dijatuhi hukuman 14 hari penjara bersyarat karena menyampaikan pidato rasis. Pada bulan Juni dia dinyatakan bersalah atas 14 dakwaan termasuk rasisme, pencemaran nama baik dan mengemudi berbahaya dan menjalani satu bulan penjara bersama dengan dua bulan hukuman percobaan.

Paludan hampir masuk ke parlemen dalam pemilihan terakhir Denmark dengan kebijakan yang didasarkan pada mendeportasi lebih dari 300.000 muslim dari Denmark dan melarang Islam. (theindianexpres, 4/9/2020)

Pada hari Jumat, Paludan dilarang memasuki Swedia dan diberi larangan masuk selama dua tahun, pihak berwenang mencegah kedatangan Paludan dengan mengumumkan bahwa dia telah dilarang memasuki Swedia selama dua tahun. Dia kemudian ditangkap di dekat Malmo. "Kami menduga dia akan melakukan pelanggaran hukum di Swedia," kata Calle Persson, juru bicara polisi di Malmo kepada AFP. (detiknews.com, 29/8/2020)

Lagi-lagi pelecehan terhadap agama Islam kembali terjadi. Pelecehan seksual tidak dilakukan oleh masyarakat biasa, melainkan seorang politikus. Hal ini terjadi karena kebenciannya terhadap ajaran Islam. Islamofobia sudah menjangkiti nonmuslim untuk menjadikan Islam sebagai musuh bersama. Upaya nonmuslim melakukan pelecehan terhadap agama Islam dengan cara membakar Al-Qur'an  menambah kebencian mereka pada Islam.

Pelecehan terus menerus dilakukan oleh nonmuslim, bahkan hukuman senantiasa diberikan. Hanya saja, tidak memiliki sanksi yang tegas bagi setiap pelakunya, bahkan semakin banyak yang melakukan pelecehan terhadap agama Islam. Hal ini menunjukkan bahwa sistem kapitalisme tidak mampu memberikan rasa keadilan dan kebebasan bergama, dan ini merupakan kegagalan yang sistemik.

Diketahui bahwa Al-Qur'an merupakan kitab suci umat Islam, tidak hanya kitab suci, tetapi juga perangkat aturan kehidupan yang diturunkan Allah bagi hamba-Nya.

Wajar jika kaum muslimin emosi ketika kitab Al-Qur'an dilecehkan. Karena sudah menghina sebagian agama Islam. Di saat terjadi pelecehan terhadap agama Islam, para aktivis HAM diam seribu bahasa. Tetapi, ketika sebuah peristiwa yang menjadi korban nonmuslim, aktivis HAM sangat getol pembelaannya, bahkan media akan terus memberitakan sepanjang hari bahkan berhari-hari.

Saat ini islamofobia terus disampaikan oleh Barat ke tengah-tengah kaum muslimin, sehingga tidak jarang kaum muslimin mengikuti arahan Barat untuk memusuhi saudaranya sendiri terlebih jika bersebrangan pemikiran.

Islam dengan tegas melarang melakukan pelecehan terhadap Al-Qur'an. Menurut kesepakatan para ulama, siapa pun yang menghina Al-Qur'an, terlebih menghina atau mengatakan bahwa isi Al-Qur'an terdapat kebohongan, maka orang tersebut bukan Islam atau telah keluar dari Islam.

Imam an Nawawi menyatakan dalam ‘At Tibyan fi Adaabi Hamaalatil Qurán’, “Para ulama telah bersepakat akan wajibnya menjaga Mushaf Al-Qur'an dan memuliakannya.” Para ulama mazhab Syafií juga berkata dalam kitab Asna’ al Mathalib, “Jika ada seorang muslim melemparkan Al-Qur'an ke tempat kotor, maka dihukumi kafir.” Lebih jauh lagi, mereka juga berkata, “Haram hukumnya menjadikan Al-Qur'an sebagai bantal”.

Al-Qur'an merupakan firman Allah yang diturunkan kepada Rasulullah saw. sebagai rahmatan lil alamin. Menghina Al-Qur'an merupakan sebuah perbuatan dosa besar. Dalam surat at-Taubah ayat 65 hingga 66, “Jika kamu bertanya kepada mereka, niscaya mereka akan menjawab, ‘Sungguh, kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja.’ Katakanlah, ‘Mengapa kepada Allah, ayat-ayat-Nya serta Rasul-Nya kalian selalu menistakan? Kalian tidak perlu meminta maaf karena kalian telah kafir setelah beriman. Jika Kami memaafkan segolongan kamu (lantaran mereka taubat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa".

Bagi setiap yang melecehkan Al-Qur'an memiliki sanksi yang tegas. Jika seorang muslim yang melakukan pelecehan, maka dia dapat dihukum dengan hukuman mati. Jika dia seorang kafir dzimmah, dia diberi bukan berat bahkan hingga hukuman mati. Sementara itu, jika penghina Al-Qur'an tersebut merupakan nonmuslim yang bukan ahli dzimmah, maka pemimpin akan memperhitungkan hukumannya dengan tetap memprioritaskan kehormatan dan kepentingan Islam dan kaum muslim.

Di dalam Al-Qur'an disebutkan bahwa orang-orang yang meragukan kebenaran Al-Qur'an termasuk ke dalam golongan orang yang merugi di dunia dan akhirat, baik dirinya beragama Islam maupun bukan. Hal ini disebut dalam Surat al-Kahfi ayat 103-106, “Katakanlah maukah Kami kabarkan orang-orang yang paling merugi amalannya? Yaitu mereka orang-orang yang sesat dalam kehidupan dunia tetapi mereka mengira sedang berbuat kebaikan. Mereka itulah orang-orang yang kafir dengan ayat-ayat Tuhan mereka dan pertemuan dengan-Nya. Maka hapuslah amalan mereka dan kami tidak akan menimbang amalan mereka pada hari kiamat. Demikianlah balasan untuk mereka dengan Jahanam atas kekafiran mereka dan sikap mereka yang menjadikan ayat-ayat Kami dan Rasul sebagai olok-olok.”

Selain dalam Surat al-Kahfi di atas, Allah Swt. juga berfirman dalam surat at-Taubah ayat 12, “Jika mereka merusak sumpah (janji)nya sesudah mereka berjanji, dan mereka mencerca agamamu, maka perangilah pemimpin-pemimpin orang kafir itu, karena sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang (yang tidak dapat dipegang) janjinya, agar supaya mereka berhenti”. Dari ayat ini, kita mengetahui bahwa Allah Swt. menyebut orang kafir yang mencerca dan melecehkan agama Islam bukanlah orang kafir biasa yang bisa kita biarkan. Bahkan, menurut al Hafizh al-Qurthubi, sebagian ulama berdalil dengan ayat ini tentang kewajiban untuk memberi hukuman mati kepada setiap orang yang mencerca agama Islam karena ia telah kafir.

Sanksi yang tegas tersebut perlu dilakukan oleh seorang pemimpin agar kesucian Al-Qur'an tetap terjaga, maka sikap toleransi harus senantiasa diwujudkan agar terus tercipta persatuan antar umat beragama. Oleh karenanya, Islam tidak membiarkan setiap orang yang melecehkan agama Islam baik Al-Qur'an, Rasulullah saw., maupun ajarannya (syariat).

Dengan demikian, ketegasan sanksi dalam Islam menunjukkan bahwa Islam sangat melindunginya agama Islam dari orang-orang kafir, musyrik, munafik. Al-Qur'an juga akan senantiasa dijaga oleh Allah sekalipun banyak orang yang melecehkannya.

Wallahu a'lam bishshawab.
 
Top