Oleh : Santika
Ibu Rumah Tangga Pendidik Generasi

Apa yang terlintas dalam benak kita ketika mendengar kata guru? Pastilah sejuta kata tidaklah akan mampu mendeskripsikannya, karena guru ibarat pelita dalam hidup kita. Darinya ilmu kita dapatkan, dari yang  tidak tahu menjadi tahu. Guru memiliki peran penting dalam mendidik, mengajar, mengarahkan, membimbing, dan senantiasa menjadi panutan anak didiknya di segala zaman. Tak ayal banyak sekali tuntutan yang harus dipenuhi sebagai pemenuhan dalam kriteria tugas seorang guru, karena kualitas anak didik pastilah besar atau kecil akan dipengaruhi oleh kesiapan seorang guru baik dari segi ilmu yang dikuasai ataupun teknologi yang dikuasi di era kurikulum 4.0 saat ini. Mengacu kepada hal tersebut, akhirnya Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) mengadakan konferensi yang diselenggarakan di kota Bandung masa bakti XXII tahun 2020-2025 dengan tema “Mewujudkan PGRI sebagai Organisasi Profesi dan perannya dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan Abad ke 21” digelar di gedung PGRI Katapang Bandung, Jawa Barat, Senin (31/8/2020). Sumber dari www.dara.co.id

Dalam konferensi tersebut membahas mengenai kesiapan seorang guru yang harus lebih profesional lagi dalam menjalankan kewajibannya, ditambah lagi dengan adanya pandemi Covid-19 yang menuntut para guru lebih melek terhadap teknologi di era Revolusi Industri 4.0. Karena kegiatan belajar otomatis harus dilakukan dengan cara daring, walaupun faktanya di lapangan banyak sekali kendala yang dihadapi baik dari pihak guru itu sendiri ataupun murid-muridnya. Mulai dari jaringan internet yang belum merata ke seluruh daerah -daerah di Indonesia, tidak adanya kuota, tidak memiliki hp android, atau bahkan banyak sekali orangtua yang kesulitan dalam teknologi internet. Sehingga para guru memiliki pilihan lain yaitu pembelajaran dengan sistem daring dan sekaligus sistem luring yang tetap menjalankan prosedur sesuai protokol kesehatan.

Namun sangat disayangkan di sistem kapitalis ini berbagai upaya dilakukan dalam sistem pembelajaran hanya bertujuan tiada lain dan tiada bukan untuk mencetak generasi yang siap terjun ke dunia industri yang kelak mereka mampu bersaing di dunia kerja. Generasi industri masa depan yang akhirnya menjadi mesin-mesin yang menghasilkan pundi-pundi rupiah guna menguntungkan para pengusaha. Bagaimanakah sistem pembelajaran dalam Islam?

Dalam Islam semua aktivitas standarnya adalah kepada keridaan Allah Swt. Begitupun dalam aktivitas belajar mengajar. Sehingga guru akan melaksanakan semua kewajibannya dengan baik sebagai pendidik, sebagai Naibul Walidaini atau pengganti orangtua di sekolah dalam arti guru sebagai fasilitator pendidikan yang mentransformasikan sebuah keilmuan, kecakapan, kepada peserta didiknya yang telah diamanatkan dari kedua orangtuanya. Kedudukan guru pun dalam Islam sangatlah dimuliakan sebagaimana ketika zaman Khalifah Umar bin Khattab menggaji para guru masing-masing 15 dinar ( 1 dinar = 4,25 gram emas) jika dikalkulasikan maka sebesar Rp.30.000.000,-. Dengan sistem Islamlah semua faktor akan mendukung keberhasilan dalam sistem pembelajaran, sehingga akan menghasilkan generasi yang tidak hanya cakap pada teknologi tetapi akan menghasilkan generasi Khoiru Ummah yang berakhlakul karimah karena hal yang pertama yang diajarkan adalah akidah. Bukan seperti sekarang ini di zaman kapitalis, yang hanya menghasilkan generasi cakap pada teknologi tapi lupa akan kodrat. Bahwasanya manusia hanyalah seorang hamba yang dimana semua perbuatannya akan dipertanggungjawabkan kelak di akhirat.

Wallahu a'lam bishshawab.[]
 
Top