Oleh : Anna Ummu Maryam
Pegiat Literasi Peduli Negeri

Jumlah warga yang terjangkit Covid-19 di Kabupaten Bogor, Jawa Barat terus bertambah. Bahkan, Kabupaten Bogor kembali mencatat rekor penambahan harian kasus baru positif Covid-19.

Berdasarkan data monitoring harian kewaspadaan infeksi Covid-19 Kabupaten Bogor, Jumat pukul 19.00 WIB, ada 45 kasus positif baru. Angka tersebut merupakan penambahan paling tinggi sejak kasus pertama Covid-19 diumumkan pada 2 Maret lalu (Liputan6.com, 11/9/2020).

Gugus Tugas Percepatan Penanganan (GTPP) Covid-19 Provinsi Aceh menyatakan jumlah warga telah terinfeksi virus corona di Aceh mencapai 2.257 orang, dan 95 persen dari angka tersebut merupakan orang tanpa gejala (OTG) atau asimtomatik.

Jubir Covid-19 Aceh Saifullah Abdulgani mengatakan penderita virus corona di daerah Tanah Rencong yang mendapat perawatan di rumah sakit rujukan Covid-19 sebanyak 71 orang atau 4,8 persen.

"Pasien Covid-19 di Aceh saat ini sebanyak 1.470 orang atau 95,2 persen merupakan OTG, yang harus disolasi di rumah sakit atau melakukan isolasi diri di rumahnya," kata Saifullah, Jumat ( Republika.co.id, 11/9/2020)

Dua kasus di dua daerah tersebut sebagai sample bagi kita bahwa penyakit yang disebabkan oleh virus corona ini kian hari kian menghawatirkan dan terus memakan korban. Bahkan pihak rumah sakit banyak yang menutup sementara penerimaan rumah sakit bagi pasien yang sakit karena terdapat perawat atau doktor yang juga positif Corona.

Tentu kondisi ini amat memprihatinkan, sebagaimana yang kita ketahui orang sakit yang bukan terkena corona pun juga amat banyak. Bahkan dihari biasa itu bisa antri ber jam jam menunggu penangan dokter terhadap pasien.

Namun pada sisi yang lain, masyarakat juga takut karena wabah ini bisa terkena siapapun apalagi dikeramaian. Tidak hanya disitu saja tapi juga berefek pada tempat tempat yang strategis yang juga kebutuhan seperti pasar, sekolah dan tempat layanan lainnya.

Namun yang amat kita sayangkan adalah masih banyak masyarakat yang belum sadar juga bagaimana perkembangan wabah ini. Sehingga tidak menjaga dirinya apalagi untuk orang lain. Masih banyak yang berkeliaran bahkan duduk dibeberapa tempat keramaian tanpa takut apapun.

Rakyat Minim Edukasi Dan Antisipasi

Inilah yang terjadi pada masyarakat kita saat ini, yaitu minimnya kesadaran karena memang minim pula edukasi yang dijalankan oleh pihak pihak yang berwenang dalam memberikan edukasi kepada masyarakat. Padahal kita juga mengetahui bahwa dana yang dikucurkan dalam penanganan kasus ini cukup besar.

Namun pertanyaannya, apakah sudah tepat sasaran?. Masih banyak yang kita jumpai fakta dilapangan bahwa yang mendapatkan bantuan ini hanya segelintir orang saja tidak semua orang, padahal yang lain juga berimbas oleh wabah ini. Jadi belum sepenuhnya menjadi solusi dengan besarnya dana yang dikucurkan.

Sehingga ada rasa terabaikan atau kecewa lebih tepatnya yang menyebabkan ketidakpatuhan masyarakat akan instruksi dari pusat atau pihak yang berwenang dalam penanganan ini. Ketidaktuntasan penyelasaian hal ini membuat masyarakat cuek dan mencari solusi sendiri dengan mengabaikan intruksi.

Jika kita mau untuk memperhatikan dengan seksama maka akan kita dapati kesulitan demi kesulitan terjadi pada masyarakat kita. Terkesan seperti kurang serius dalam penanganannya. Hal ini tidak terlepas dari sistem kapitalis liberal sekular yang dijadikan aturan dalam bernegara.

Karena dalam pandangan sistem ini negara bukan sebagai perisai dan pelindung rakyatnya. Tapi sebagai regulator para kapitalis dalam kepentingan ekonomi antar negara lain semata. Sehingga apapun masalah yang terjadi pada masyarakat yang menjadi pemikirannya adalah ketakutannya berimbas pada ekonomi semata.

Sehingga ditengah wabah yang kian berkecamuk yang menjadi hal yang paling kursial untuk dibahas adalah seberapa wabah ini menjadi penghambat berjalannya ekonomi sebuah negara bukan berapa nyawa rakyat yang sudah melayang.

Padahal hilangnya nyawa adalah hal yang kursial dan sangat urgen yang harus ditangani dengan serius demi keselamatan bangsa dan warganya. Dan ini butuh keterlibatan berbagai pihak dengan serius bukan setengah hati.

Inilah harusnya digencarkan oleh negara, yaitu memantauan dan keterlibatan pihak yang berwenang sebagai aparatur Negara bahkan semua elemen masyarakatpun sangat penting dilibatkan. Namun lagi lagi dalam sistem ini semuanya bernilai materi. Sehingga menghambat laju keterlibatan dalam edukasi yang otomatis akan memunculkan sikap tidak antisipasi.

Kembali Terapkan Aturan Islam

Islam adalah agama yang sempurna yang menjadi peta hidup bagi manusia. Karena didalamnya telah sempurna dijelaskan bagaimana seorang manusia menjalankan peraturan dan beribadah dengan cara yang benar.

Dalam pandangan Islam, negara memilki peran yang sangat besar dalam terjadinya keamanan dan kesejahteraan. Karena negara adalah perisai dan pelaksana amanah dari Allah dalam mengayomi segala urusan rakyatnya.

Negara lah penangung jawab terbesar yang harus mencurahkan segala kemampuannya dalam menyelesaikan segala permasalahan yang ada didalam negaranya. Dan itu adalah tugas utamanya sebagai pelayan bagi rakyatnya. Dan rakyat mengangkatnya untuk mengurus urusan mereka.

Terlarang baginya memikirkan hal lain selain kemaslahatan bagi rakyatnya. Terlarang baginya lalai dan gegabah dalam bersikap dan memberi keputusan. Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنِ اسْتَرْعَاهُ اللهُ رَعِيَّةً ثُمَّ لَمْ يُحِطْهَا بِنُصْحٍ إِلَّا حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ الجَنَّةَ. متفق عليه. وفي لفظ : يَمُوتُ حِينَ يَمُوتُ وَهُوَ غَاسِ لِرَعِيَّتِهِ إِلَّا حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ.

“Barangsiapa yang diangkat oleh Allah untuk memimpin rakyatnya, kemudian ia tidak mencurahkan kesetiaannya, maka Allah haramkan baginya surga.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Selain larangan baginya  bersikap lalai sebagai penanggungjawab urusan rakyatnya. Negara dalam Islam juga dituntut dalam menyelesaikan masalahnya sesuai dengan Islam dan tidak bertentangan dengan Al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah.

Karena keputusan yang benar akan memunculkan kebaikan. Dan kebaikan itu adalah bersumber dari Allah SWT. Maka sudah sepantasnya negara ini bercermin pada sikap teladan para nabi dan para Khalifah yang mengikuti manhaj kenabian dalam menyelesaikan permasalahan.

Yaitu lebih dekat kepada pencipta alam semesta serta bermunajat agar diberikan petunjuk oleh Allah SWT. Serta mencurahkan kan segenab kemampuan dan pemikiran demi kemaslahatan umat dan Islam.

﴿ وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكاً وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى ﴾

"Siapa saja yang berpaling dari peringatan-Ku, sungguh bagi dia kehidupan yang sempit dan Kami akan mengumpulkan dia pada Hari Kiamat nanti dalam keadaan buta…" (TQS Thaha [20]: 124).

Maka janganlah sekali kali bagi umat muslim untuk berpaling dari perintah Allah SWT karena jika manusia tidak mengikuti apa yang telah Allah SWT tetapkan sebagai aturan baginya maka kesusahan hiduplah yang akan dirasa kannya.

﴿ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ﴾

"Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia supaya Allah menimpakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)." (TQS ar-Rum [30]: 41)
 
Top