Oleh : Rahmi Ummu Atsilah
Praktisi pendidikan dan pemerhati sosial

Susul menyusul propaganda islamofobia, labelisasi Islam radikal, dan pelecehan terhadap Islam mewarnai dunia nyata dan jagat  maya. Belum lekang ujaran serampangan menteri agama tentang good looking (paras rupawan) hafiz Al-Qur'an dan pandai Bahasa Arab sebagai penebar  bibit radikalisme yang mereka kaitkan dengan pemahaman syariat Islam kaffah. Berikutnya adalah di barat, pelecehan terhadap Islam oleh majalah Prancis Charli Hebdo dengan mencetak ulang kartun yang berisikan hinaan terhadap Rasulullah saw. sebagai pembawa dan penyampai Islam kepada seru sekalian alam. Dan kini, di dalam negeri kembali keluar wacana sertifikasi 8.200 ulama oleh  Kemenag. Anehnya menag dalam proses penyusunannya selain melibatkan MUI dan ormas-ormas lainnya juga melibatkan BPIP (Badan Pembinaan Ideologi Pancasila), termasuk BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Teroris). Dikatakan ustaz Felix Siaw dalam The Good Looking di channel Youtube Yuk Ngaji, hal ini lucu seperti mengadakan lomba nyanyi  tapi yang diminta audisi tukang bengkel. Lucu dan tidak nyambung sama sekali.

Melihat serangkaian serangan terhadap karakter kaum muslimin dan Islam itu sendiri tidak berlebihan kiranya bila kita beranggapan apa yang mereka lakukan terencana dan terorganisir dengan penuh kesadaran. Upaya ini tak luput dalam rangka membentuk kerangka berpikir kaum muslimin supaya terbiasa dengan penghinaan dan pelecehan. Sehingga sensitivitas untuk membela izzul Islam diharapkan semakin memudar seiring dengan pembiaran terhadap upaya buruk tersebut, apalagi kemudian diartikan dengan itulah toleransi.

Nampaknya ide radikalisme sudah menjadi komoditas dagang mereka dan berharap ini laris manis di tengah kaum muslimin dan manusia umumnya. Radikalisme yang mereka artikan menerapkan Islam secara kaffah dan menjadikan Al-Qur'an dan As-sunnah sebagai pandangan  hidup. Ini sungguh tidak masuk di akal. Sedikit mengutip apa yang disampaikan ustaz Adi Hidayat di channel youtube-nya yang membahas tentang Hafiz Good Looking, I’m not Radical, beliau menyampaikan bahwa radikal atau ekstrimis itu sebagaimana kaum jahiliyah sebelum diutusnya Nabi Muhamad saw.  Sebagai nabi dan rasul, yaitu ditandai dengan orang yang pemabuk, pembunuh, pembegal, penipu, pezina, perampok. Mungkin kalau sekarang ditambah korupsi, dhalim, aniaya dan tidak adil terhadap yang lemah termasuk rakyat jelata.

Sertifikasi ulama pun tidak lepas dari jualan radikalisme mereka dalam upaya menangkalnya. Menag Fahrur Razi menyatakan program penceramah bersertifikat dimaksudkan untuk mencegah penyebaran paham radikalisme (Cnnindonesia.com, 3/9). Meski ide ini sudah diwacanakan oleh menag sebelumnya, ternyata tak jua membuat kemenag surut memperjuangkannya. Banyak pihak yang sebenarnya menolak putusan ini dan mengangapnya kontraproduktif. Akan tetapi ibarat pepatah anjing menggonggong kafilah tetap berlalu, kemenag bergeming.

Sertifikasi ulama ini dikhawatirkan akan membatasi ruang, konten dakwah yang hendak disampaikan, serta person pengemban dakwah itu sendiri. Terlebih sebenarya dakwah adalah kewajiban setiap muslim tidak memandang laki-laki ataupun perempuan, tidak pula memandang status sosial maupun profesi apapun, serta berlatar belakang pendidikan tertentu. Tentu sesuai dengan kapasitas dan kemampuan masing-masing.
Dari Abdullah bin Amr ra., bahwa Nabi saw. bersabda,

 بَلِّغُوا عَنِّى وَلَوْ آيَة
ً
“Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat.” (HR. Bukhari)

Tidak harus disampaikan di atas podium oleh para muballigh dan mubalighah. Apalagi harus dai dengan legitimasi dari kemenag  berupa sertifikat. Tetapi keimanan setiap muslim mewajibkannya untuk berdakwah.

قُلْ هَـٰذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّـهِ ۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي ۖ وَسُبْحَانَ اللَّـهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِين
َ
“Katakanlah: “Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik.”." (QS:Yusuf : 108)

Berdakwah merupakan tugas mulia di sisi Allah Swt. dengan dakwah tersebut Allah menyematkan predikat khairu ummah (sebaik-baik umat) kepada kaum muslimin.

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّـهِ

“Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (QS: Ali Imran 110)

Di dalam ayat ini digambarkan, mulia dan eksisnya umat Islam adalah dengan dakwah dan dengan menjalankan konsep amar ma’ruf nahi munkar.

Rasulullah Muhammad saw. juga menyampaikan siapapun yang meninggalkan dakwah akan mendapatkan azab dan doanya tidak terkabul.

وَالَّذِيْ نَفْسِي بِيَدِهِ، لَتَأْمُرُنَّ بِالْمَعْرُوْفِ، وَلَتَنْهَوُنَّ عَنِ الْمُنْكَرِ، أَوْ لَيُوْشِكُنَّ اللهُ يَبْعَثُ عَلَيْكُمْ عِقَابًا مِنْهُ، ثُمَّ تَدْعُوْنَهُ فَلاَ يَسْتَجِيْبُ لَكُم
ْ
"Demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya. Kalian harus melakukan amar makruf nahi mungkar atau (jika tidak) Allah akan menimpakan azab-Nya atas kalian. Lalu kalian berdoa kepada-Nya, tetapi Dia tidak mengabulkan doa kalian." (HR Ahmad dan at-Tirmidzi)

Dalam hadis tersebut Tak ada pilihan lain kecuali memilih berdakwah atau memilih azab dan doa yang tak terkabul. Dalam riwayat lain dinyatakan bahwa jika dakwah dan amar makruf nahi mungkar ditinggalkan, akan muncul para penguasa jahat dan tidak menyayangi kaum Muslim. (HR Al Bazzar dan ath-Thabrani). Wallahu a'lam bi ash-shawab.
 
Top