Oleh : Nuryamah

(Aktivis Muslimah Jambi)


Apa itu khilafah?

Sebuah sistem kepemimpinan umum bagi seluruh kaum muslim di dunia untuk menerapkan hukum-hukum Islam dan mengemban dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia. Orang yang memimpinnya disebut khalifah, dapat juga disebut imam atau amirul mukminin.

Khalifah adalah imam agung yang menduduki jabatan dalam melindungi agama serta pengaturan urusan dunia. Mewakili umat dalam hukum dan pemerintahan serta dalam menerapkan hukum-hukum syara. Juga mengemban Islam ke seluruh penjuru dunia.

Sehingga kewajiban adanya khilafah merupakan kewajiban syar'i dan prioritas berdasarkan ijma para sahabat dengan indikasi lebih didahulukan oleh para sahabat daripada memakamkan jenazah Rasulullah saw. Karena banyaknya kemaslahatan umat Islam yang tidak bisa terealisasi sempurna tanpa khilafah. Misalnya membela agama, menjaga  keamanan, hukum sanksi dan uqubat. 

Pada khilafah, sebagian besar hukum Islam bersandar dan bisa diterapkan. Keberadaannya menjadi jaminan terjaganya kaum muslimin. Hadirnya mewujudkan rahmatan lilalamin bagi seluruh alam.

Khilafah merupakan sistem pemerintahan yang menjadikan Al-Qur'an dan Sunah sebagai dasar hukum yang akan diterapkan atas umat. Sehingga kekuasaan atau kedaulatan sepenuhnya di tangan hukum syara. Itulah yang menjadikan khilafah sebagai sistem pemerintahan yang berbeda dengan sistem negara demokrasi yang menjadikan kedaulatan di tangan rakyat.

Tentu sehebat apa pun pengaturannya memiliki kekurangan dan menimbulkan banyak kemudaratan karena dibangun di atas akidah sekuler yang menghapuskan peran agama dari pengaturan publik. Bahwa Demokrasi bukan berasal dari ajaran Islam.

Demokrasi tidak kompatibel dengan Islam. Dalam setiap mengambil kebijakan demokrasi tidak mengambil pendapat atau keputusan yang berkaitan dengan syariah. Semua diputuskan menggunakan logika sehingga cenderung tunduk pada keserakahan dan suara mayoritas terbanyak. Rakyat yang berdaulat membuat hukum dan perundangan, lalu dipimpin oleh kabinet yang bersifat kolektif serta model pengelolaan negara dengan model Trias Politika yang cenderung membuka peluang  konspirasi politik dan hak kekebalan hukum pada orang tertentu.

Seorang muslim wajib meyakini Al Qur'an dan Sunah sebagai mashdar alhukmi (sumber hukum). Wajib dijadikan sebagai satu-satunya miqyas (standar) atas seluruh keyakinan dan amal perbuatan. Serta ittiba atau mengikuti keteladanan praktis penegakan Islam secara totalitas (kafah) dalam seluruh aspek kehidupan tanpa ada sedikitpun keraguan.

Khilafah sebagai negara global sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur'an, umat Islam adalah umat yang satu tidak disekat dengan kesukuan, kebangsaan, dan sekat-sekat teritorial. Dalam satu kepemimpinan seorang khalifah. Sudah terbukti secara fakta historis, sejarah umat Islam sepanjang empat belas abad sejak Nabi saw. memerintah di Madinah hingga Khilafah Islamiyah runtuh di Turki tanggal 3 Maret 1924 M akibat makar dan persekongkolan jahat orang-orang kafir dan para anteknya. Sejak saat itu umat Islam dicengkeram dan didominasi oleh peradaban kafir Barat.

Khususnya sistem demokrasi yang lahir dari paham sekularisme (pemisahan agama dari kehidupan) yang terus digempurkan membuat sebagian besar kaum muslim berubah cara pandang dan cara berpikirnya. Diadaptasikan pada standar sekuler. Inilah awal dan pangkal dari seluruh persoalan yang menimpa kaum muslim.

Dimana kemaksiatan merajalela, dekadensi moral kian merosot melahirkan generasi mandul yang jauh dari ajaran Islam. 

Agama Islam diberangus dari ranah masyarakat dan negara menjadi bukti kuatnya cengkraman hegemoni kafir Barat atas negeri-negeri kaum muslimin yang tidak berdaya dan diam seribu bahasa terhadap kejahatan dan kekejian yang dilakukan musuh-musuh Islam atas kaum muslimin.

Kaum kafir dan antek-anteknya nyata telah berhasil melemahkan, menundukkan, dan menjegal kaum muslimin dari fokus utamanya menegakan syariah dan khilafah serta fokusnya dalam mejadikan orang-orang kafir dan antek-anteknya sebagai musuh bersama (common enemi).

Atas dasar itu kaum muslimin harus bangkit dan meninggalkan urusan khilafiah kepada persoalan yang lebih peting yakni bersatu berjuang menegakan kembali khilafah sebagai sistem pemersatu umat dan diterapkannya kembali syariah Islam secara sempurna.

Bersegera kembali mengambil amanah Rasulullah saw. untuk berpegang teguh pada Al-Qur'an dan Sunah yang mendapat petunjuk dalam praktik penegakan Islam secara kafah dalam bingkai khilafah dan tidak melepaskannya lagi. Sebagaimana telah disebut dalam lisan Rasullullah bahwa akan ada para khalifah yang akan mengurus urusan umat dalam politik. Ditegaskan dalam sabda Rasulullah saw. :

"Ada era kenabian di tengah kalian, dengan kehendak Allah ia akan tetap ada. Kemudian Allah mengakhiri era ini jka Dia berkehendak mengakhirinya. Kemudian akan ada era khilafah mengikuti metode kenabian, dengan kehendak Allah ia pun akan tetap ada. Kemudian Allah mengakhiri era ini jika Allah berkehendak mengakhirinya. Kemudian akan ada era kekuasaan yang mengigit dengan kehendak Allah ia pun tetap ada. Kemudian Allah mengakhiri era ini jika Dia berkehendak mengakhirinya. Kemudian akan ada era kekuasaan yang diktator, dengan kehendak Allah ia pun akan tetap ada. Kemudian akan ada era khilafah mengikuti metode kenabian, dengan kehendak Allah ia pun akan tetap ada. Allah kemudian mengakhiri era ini jika Dia berkehedak mengakhirinya. Kemudian mabi pun diam. (HR. Ahmad)

Nabi pun berwasiat.:

"Kalian wjib berpegang teguh dengan Sunahku dan Sunah khulafaur rasyidin yang mendapatkan petunjuk. Gigitlah Sunahku dengan gigi gerahammu." (HR. at-Tirmidzi)

Ini menunjukan bahwa perintah menegakan khilafah adalah wajib fardu kifayah jika kaum muslimin tidak melakukannya akan mendapat dosa hingga benar- benar terlaksana oleh sebahagian mereka secara memadai. Bahkan Rasulullah memerintahkan kepada kita untuk menggigitnya dengan gigi geraham agar tidak terlepas lagi.

Mari tunda masalah furu'iyyah- kilafiyah dan mari kita bangkit bersama menegakan syariah dan khilafah. Semoga Allah mengampuni, merahmati, dan menolong kita semua dalam perjuangan ini.

Wallahu a'lam bishshawab.

 
Top