Yeni Marlina, A.Ma

(Pemerhati Kebijakan Publik dan Aktivis Muslimah)


Keluarga ideal, sakinah mawaddah wa rahmah, penuh ketenangan dan kasih sayang menjadi dambaan setiap insan.


Apa yang salah jika pada akhirnya keluarga-keluarga ini tersandera dengan berbagai polemik kehidupan yang akhirnya berujung dengan perpisahan?.  Kemelut pertikaian yang berkepanjangan semakin menambah daftar antrian kurva perceraian semakin meningkat tajam.


Direktur Jenderal Badan Peradilan Agama Mahkamah Agung (Dirjen Badilag MA), Aco Nur, menjelaskan, selama pandemi Covid-19, total perceraian di seluruh wilayah Indonesia mengalami peningkatan.


Meski tak merinci, Aco mengatakan, pada periode April dan Mei 2020, terlihat pendaftaran cerai masih di bawah angka 20 ribu yang tercatat di PA seluruh Indonesia. Jumlah itu, lantas meningkat pada masa adaptasi kebiasaan baru yang melonjak menjadi 57 ribu perceraian pada Juni hingga Juli 2020. 

Di antara jumlah provinsi terbanyak penyumbang angka perceraian, Aco menyebut, wilayah Jawa Barat berada di urutan teratas. Kemudian kota Semarang dan Surabaya menjadi lokasi yang paling banyak mengajukan cerai, kata Aco (Republika.co.id, Jum'at, 28/08/2020).


Jawa Barat seperti Bandung, Cianjur, Ciamis serta beberapa kota dan kabupaten di  Banten, termasuk daerah dengan peningkatan kasus perceraian yang tinggi.  Di antara alasan penyebab banyaknya perceraian adalah faktor ekonomi di saat pandemi.


Namun, hal yang mengejutkan adalah, rata-rata laporan dengan gugat cerai artinya permohonan perceraian diajukan oleh pihak perempuan (sebagai istri).  Ada apa dengan para  perempuan? Tentunya notabene di negeri yang mayoritas muslim ini adalah dari kalangan muslimah.  Bukankah selama ini telah mencoba berbagai solusi atas kesulitan perempuan terkait dengan masalah ekonomi? Seperti keterlibatan perempuan dalam pembangunan yang dirancang melalui program Kesetaraan Gender, Pemberdayaan Ekonomi Perempuan (PEP), RUU Ketahanan Keluarga yang banyak pasalnya menitikberatkan pada problem perempuan. Yang terbaru adalah program UMKM.  Nyatanya, semua langkah ini bukanlah solusi bagi masalah perempuan agar bisa hidup sesuai fitrahnya.  Kenapa bukan para laki-laki yang disediakan lapangan pekerjaan dengan gaji yang memadai? Padahal, angka pengangguran justru banyak dari kalangan laki-laki yang punya beban nafkah yang terus bertambah.


Beginilah cara kapitalis menyelesaikan masalah.     

Sangat wajar jika setiap aturan yang dibuat oleh pemerintah di negeri ini, menuai kritik. Ada yang pro dan ada yang kontra. Mengapa? Karena di dalam negeri sekuler kapitalis, seperti negeri ini, aturan lahir dibuat oleh manusia, semuanya dikembalikan kepada asas manfaat dan kepentingan.


Berbeda dengan Islam, aturan yang datang dari Sang Pencipta Yang Maha Pengatur. Islam memiliki tolok ukur yang pasti dan tetap, sesuai dengan fitrah manusia dan memuaskan akal, sehingga akan memberikan ketenteraman jiwa bagi siapa pun yang melaksanakannya.

Islam telah mengatur sedemikian rinci dan sempurna seluruh aspek kehidupan, termasuk berkaitan dengan keluarga.  Permasalahan perempuan dalam keluarga tidak terpisah dari laki-laki.  Islam memandang sebagai satu permasalahan yang sama. 


Keluarga dalam s

Sistem Islam


Terkait hukum-hukum keluarga, Islam pun telah menetapkan seperangkat aturan yang begitu rinci dan sempurna, baik yang menyangkut masalah pernikahan, tugas dan kewajiban suami-istri, waris, nasab, perwalian, talak, rujuk, dan lain-lain.


Semua aturan ini sejalan dengan pandangan Islam yang sangat memperhatikan masalah keluarga dan menempatkannya sebagai bagian penting dalam masyarakat. Keluarga diumpamakan sebagai benteng pertahanan terakhir dalam menghadapi berbagai ancaman, tantangan, dan gangguan yang akan merusak dan menghancurkan tatanan masyarakat Islam yang bersih dan tinggi.


Dalam pandangan Islam, keluarga sebagai ikatan terkuat yang berfungsi sebagai pranata awal pendidikan primer. Ayah dan ibu sebagai sumber pengajaran pertama, sekaligus tempat membangun dan mengembangkan interaksi harmonis untuk meraih ketenangan dan ketenteraman hidup satu sama lain.


Di samping itu, keluarga berfungsi sebagai tempat yang paling ideal untuk mencetak generasi unggul, yakni generasi yang bertakwa, cerdas dan siap memimpin umat membangun peradaban ideal di masa depan, hingga umat Islam muncul sebagai khairu ummah.


Karenanya, keluarga dalam fungsi-fungsi ini bisa diumpamakan sebagai madrasah, rumah sakit, masjid, bahkan kamp militer yang siap mencetak pribadi-pribadi mujtahid sekaligus mujahid.


Adapun berbagai pembagian peran dan fungsi yang ada di dalamnya, berikut berbagai implikasi pembagian hak dan kewajiban di antara anggota keluarga, dapat dipahami sebagai bentuk keadilan dan kesempurnaan yang diberikan Islam untuk merealisasikan tujuan-tujuan duniawi dan ukhrawi yang mulia ini.


Tidak ada peran dan fungsi yang satu lebih tinggi dari yang lainnya. Namun gambaran keluarga Islam ini hanya akan terwujud jika syariat Islam dilaksanakan secara sempurna sebagai aturan hidup umat manusia, yaitu dengan tegaknya khilafah. Hanya negara Khilafah Islamiyah yang mampu mewujudkan dan menjamin ketahanan keluarga.


Ada peran negara dalam menjaga dan menjamin ketahanan keluarga.  Memiliki keunikan karena 

sistem Islam berbeda dengan sistem Kapitalisme. Khilafah Islam adalah sebuah konsep pemerintahan yang didasarkan pada akidah Islam. Seluruh aspek bermasyarakat dan bernegara diatur dengan syariat Islam. Penerapan Islam oleh negara tidak hanya mewujudkan kesejahteraan rakyat, namun juga ketenteraman hidup setiap warganya.


Dalam Islam, sekalipun negara tidak mencampuri urusan privasi sebuah keluarga, akan tetapi negara memastikan setiap anggota keluarga mampu menjalankan peran dan fungsinya dengan baik, sehingga mampu melahirkan generasi berkualitas. Negara memastikannya melalui serangkaian mekanisme kebijakan yang lahir dari hukum syariat.


Negara khilafah berkewajiban memastikan setiap individu, keluarga, dan masyarakat bisa memenuhi tanggung jawabnya memenuhi kesejahteraan. Negara memastikan setiap kepala keluarga memiliki mata pencaharian dan mewajibkan kepada pihak-pihak yang bertanggung jawab terhadap perempuan dan anak-anak untuk memenuhi hak mereka dengan baik.


Islam mewajibkan kepada suami atau para wali untuk mencari nafkah (QS Al-Baqarah: 233, dan QS An-Nisaaa: 34), negara wajib menyediakan lapangan kerja bagi laki-laki agar dapat memberi nafkah pada keluarga mereka, memberikan pendidikan dan pelatihan kerja, bahkan jika dibutuhkan akan memberikan bantuan modal.


Perempuan tidak harus bekerja keluar rumah dan berpeluang mendapat perlakuan keji.  Kendatipun hukum bekerja tetaplah mubah bagi mereka selama tidak meninggalkan kewajiban.   Mereka tidak perlu berpayah-payah mendapatkan uang karena telah dipenuhi suami atau walinya. Islam akan menindak suami yang tidak memenuhi kebutuhan keluarganya dengan baik melalui wewenang seorang khalifah.


Meski perempuan tidak bekerja dan tidak mempunyai uang, kedudukan mereka tidak menjadi rendah di depan suaminya dan berpeluang besar dianiaya. Sebab, istri berhak mendapatkan perlakuan baik dari suaminya dan kehidupan yang tenang.


Islam menetapkan bahwa pergaulan suami-istri adalah pergaulan persahabatan. Satu sama lain berhak mendapatkan ketenteraman dan ketenangan. Kewajiban nafkah ada di pundak suami, yang bila dipenuhi akan menumbuhkan ketaatan pada diri istri. Pelaksanaan hak dan kewajiban suami-istri inilah yang menciptakan mawaddah wa rahmah dalam keluarga.


Pelaksanaan aturan Islam secara kaffah oleh negara akan menjamin kesejahteraan ibu dan anak-anaknya, baik dari aspek keamanan, ketenteraman, kebahagiaan hidup, dan kemakmuran.


Dengan penerapan hukum Islam kemuliaan para ibu (kaum perempuan) sebagai pilar keluarga dan masyarakat demikian terjaga, sehingga mereka mampu mengoptimalkan berbagai perannya, baik sebagai individu, sebagai istri, sebagai ibu, maupun sebagai anggota masyarakat.


Peran politis dan strategis mereka pun berjalan dengan begitu mulus, hingga mereka mampu melahirkan generasi umat yang mumpuni, yang berhasil menjadi penjaga kemuliaan Islam dan kaum muslimin dari masa ke masa.


Di sisi lain, anak-anak pun bisa menikmati tumbuh kembang yang sempurna dalam binaan penuh sang ibu yang cerdas dan terdidik, di mana keberlangsungan pemenuhan hak-hak mendasarnya memang dijamin oleh sistem; baik kebutuhan ekonominya, pendidikan, kesehatan maupun keselamatan diri dan jiwanya. Jaminan ini terus berlangsung hingga anak tumbuh dewasa dan menjadi ”manusia sempurna”.


Sebaliknya, para ibu bisa menikmati karunia Allah berupa kemuliaan menjadi ibu tanpa harus dipusingkan dengan segala kesempitan ekonomi, beban ganda, tindak kekerasan, dan pengaruh buruk lingkungan yang akan merusak keimanan dan akhlak diri dan anak-anaknya.


Semua itu telah dijamin pemenuhannya oleh negara melalui penerapan seluruh hukum Islam yang satu sama lain saling mengukuhkan. Baik sistem ekonomi, politik, sosial, pendidikan, sistem sanksi, dan lain sebagainya. Mereka akan merasakan betapa indah hidup dengan Islam dan dalam sistem Islam.


Sehingga para perempuan yang beriman, mereka tak akan terpalingkan oleh ide-ide sekuler mana pun –termasuk ide kesetaraan gender–misalnya, karena semua ide ini justru terbukti melahirkan kerusakan dan berbagai persoalan.


Sedangkan terkait dengan kebutuhan pokok berupa jasa seperti keamanan, kesehatan, dan pendidikan, pemenuhannya mutlak sebagai tanggung jawab negara. Hal ini karena pemenuhan terhadap ketiganya termasuk ”pelayanan umum” dan kemaslahatan hidup terpenting.


Negara berkewajiban mewujudkan pemenuhannya bagi seluruh rakyat, dimana seluruh biaya yang diperlukan ditanggung dari kas baitulmal.


Adapun mekanisme untuk menjamin keamanan setiap anggota masyarakat adalah dengan menerapkan sistem sanksi (uqûbat) yang tegas bagi para pelanggar. Jika ada suami yang tidak memenuhi nafkah anak dan istri ataupun melakukan tindak kekerasan kepada istri atau anaknya, maka ia akan diberi peringatan atau sanksi tegas.


Jaminan kesehatan dilaksanakan dengan cara menyediakan berbagai fasilitas, baik berupa tenaga medis, rumah sakit, maupun aspek-aspek penunjang lain yang bisa meningkatkan taraf kesehatan masyarakat dan bisa diakses secara mudah, bebas biaya, atau murah.


Demikian pula dengan pendidikan, dimana negara melaksanakan sistem pendidikan berdasarkan paradigma yang lurus, berbasis akidah yang bertujuan meningkatkan kualitas sumber daya umat hingga menjadi umat terbaik.


Tentu ini akan semakin memudahkan tugas perempuan sebagai pendidik generasi, sekolah pertama (madrasatul uula) bagi anak. Kaum ibu tidak akan khawatir dengan kesalehan anak yang sudah terbentuk dari rumah kemudian rusak oleh lingkungan sekolah dan sikap guru-gurunya.


Semua fungsi-fungsi negara ini telah dicontohkan oleh Rasulullah saw., dan dilanjutkan oleh Khulafaur-Rasyidin serta para khalifah sesudahnya. Hingga pada masa itu, seluruh masyarakat tanpa kecuali bisa merasakan kesejahteraan hidup yang tidak ada tandingannya.


Telah sangat jelas bahwa kesakinahan, kebahagiaan, dan kesejahteraan hanya bisa diraih dalam keluarga yang menerapkan aturan Islam. Setiap pasangan suami istri harus memiliki komitmen untuk melaksanakan kewajiban yang telah ditetapkan Islam untuknya.


Keluarga yang terikat syariat dalam menjalani biduk rumah tangganya akan menjadi keluarga muslim pembangun peradaban. Semua ini akan terwujud jika khilafah tegak di muka bumi ini. Hanya khilafah yang akan mampu menjamin terwujudnya ketahanan keluarga.


Betapa Islam dengan hukum-hukum syariat yang diterapkan oleh khilafah, mampu memposisikan umatnya, baik laki-laki maupun perempuan, dewasa atau anak-anak, pada posisi yang mulia dan terhormat.


Para perempuan salihah, tentu tidak akan mudah menuntut atau gugat cerai terhadap pernikahannya.  Jika kondisi sulit sesaat melanda keluarga hanyalah ujian untuk bisa lebih menguatkan.  Di saat yang sama mereka menilai para suami seorang imam yang saleh dan bertakwa.  Tidak tinggal diam dalam menghadapi krisis rumah tangga.  Nuansa kasih sayang dan persahabatan tetap terjaga.  Serta komunikasi yang saling menguatkan tidak terkendala.  Fastabiqul khairat, mengingatkan suami untuk ikhtiyar maksimal jika masalah karena ekonomi. 


Allah dan Rasul-Nya sangat memuliakan suami yang bersungguh-sungguh menafkahi keluarganya dengan nafkah yg halal.


Rasulullah saw. bersabda, tentang upaya suami yang mencari nafkah, 

“Barang siapa pada waktu malam hari merasakan kelelahan dari upaya keterampilan kedua tanganya pada siang hari maka pada malam itu ia diampuni oleh Allah.” (HR.Ahmad)


“Sesungguhnya, di antara dosa-dosa, ada yang tidak bisa dihapus dengan pahala sholat, sedekah atau haji, namun hanya dapat dihapus dengan bersusah payah dalam mencari nafkah” (HR. Ath- Thabrani )


Orang yang bekerja mencari nafkah untuk keluarganya termasuk fi sabilillah


“Apabila seorang keluar (dari rumah) bekerja untuk anaknya yang masih kecil maka itu fi sabilillah. Dan apabila ia bekerja untuk orang tuanya yang sudah lanjut usia maka itu fi sabilillah.Dan apabila keluar untuk dirinya agar terjaga kehormatannya (tidak meminta-minta) maka itu fi sabilillah.”(HR. Ath-Thabrani)


Atau masalah lain yang tentunya bisa dikomunikasikan solusinya. Rumah tangga seperti inilah yang menjadi roll model rumah tangga muslim yang telah dicontohkan oleh Rasulullah dan kehidupan mulia para sahabat nabi.  Mata mereka tertambat pada akhirat, dunia sebatas panggung sementara yang menentukan masa depan di akhirat kelak hingga mereka berkumpul kembali bersama di jannah-Nya. 


Keharmonisan suasana ini mendapat perlindungan dari negara.  Negara khilafah melahirkan keluarga-keluarga tangguh, tak mudah rapuh.  Negara selalu tampil prima memberikan jaminan dengan menjalankan berbagai fungsi ri'ayahnya terhadap rakyat.


Saatnya  berjuang tinggalkan sistem kapitalis dan bersegera mewujudkan sistem khilafah yang diridai Allah Swt.

 
Top