Oleh : Verawati S.Pd
Pegiat Opini Islam dan Praktisi Pendidikan

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.” (QS. Ali Imran : 110)

Ayat di atas adalah salah satu ayat yang memberikan kabar gembira bahwa umat Islam adalah umat mulia dan terbaik. Terbaik dalam hal keamanan, kesehatan, pendidikan dan ilmu pengetahuan, ekonomi dan kesejahteraan serta hal-hal lainnya. Sehingga umat Islam memiliki kedudukan dan kehormatan yang tinggi dibandingkan dengan umat-umat lainnya, Nasrani dan Yahudi serta yang lainnya.

Terbaiknya umat Islam, tidak lain sebab Islam itu sendiri. Sebagaimana hadits Nabi saw., “Islam itu tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi darinya”. (HR. Addaruqutthni). Islam sebagai sebuah agama dan juga ideologi, memiliki seperangkat aturan yang menjamin semua terpeliharanya dan terurusnya seluruh urusan manusia. Dari hal kecil hingga besar. Dari perkara individu hingga masyarakat. Dari perkara  dalam negeri hingga luar negeri. Islam mampu menjawab semua problemaika kehidupan manusia. Sehingga manusia akan merasakan kedamaian dn ketentraman. Hal ini terbukti dengan adanya masa kejayaan umat Islam yang berlangsung selama 14 Abad lamanya.

Namun, faktanya saat ini kondisi  umat Islam terpuruk dan terburuk dalam seluruh aspek kehidupan. Di setiap belahan bumi, Islam dan umat Islam dihinakan. Sering kali berulang kasus penistaan terhadap Islam, penghinaan terhadap Nabi Muhammad saw., Perobekan dan penghinaan lainnya terhadap Al-Qur'an. Tidak hanya di luar negeri yang notabene mereka negeri-negeri Barat yang mayoritas non-muslim. Akan tetapi, di dalam negeri sendiri yang mayoritas muslim, penghinaan seringkali terjadi. Para ulama dipersekusi dan dimasukkan ke dalam penjara dan organisasi Islam dibubarkan. Sedangkan para pelaku penghinaan tidak dibuat jera.

Begitu pula terhadap umat Islamnya. Di Uighur, Pattani, Palestina, Kirgistan, Mali, Bangladesh kaum muslim mendapatkan perlakuan yang tidak manusiawi. Dihancurkan, diusir, dibakar, dibunuh, para wanitanya diperkosa, dimurtadkan dan lain sebagainya. Sedangkan negeri-negeri yang lainnya dalam kondisi terjajah. Baik secara ekonomi, budaya dan juga pemikiran. Semuanya mengakibatkan umat Islam hidup dalam kondisi yang sulit dengan himpitan hidup yang begitu banyak.

Akankah kehidupan umat ini seperti ini terus? Tentunya tidak, umat ini harus menempati posisinya, yaitu umat terbaik. Oleh karenanya, sederetan permasalahan di atas harus dan butuh penyelesaian. Dan dalam penyelesainnya terlebih dahulu diketahui apa akarnya. Sebab bagaikan seorang yang sedang sakit, maka ketika datang ke dokter akan dianalisis terlebih dahulu sebelum diobati. Tentu bukan gejalanya yang akan diobati. Melainkan pusat penyakitnya atau sumber penyakitnya itu sendiri. Begitu pula dengan kondisi umat Islam saat ini yang tengah sakit. Tentu bukan gejalanya yang diobati, tapi sumber penyakit atau sakitnya. Kemiskinan, kebodohan, ketidakamanan, pembantaian, pengusiran dan lain sebagainya sesungguhnya hanya gejala dari tidak sehatnya tubuh umat Islam ini.

Lantas apa sumber penyakitnya itu sendiri? Di dalam surat Ali Imran di atas dikatakan bahwa umat ini adalah umat terbaik dan dijelaskan bahwa posisi terbaik ini akan diperoleh, manakala umat ini menegakkan amar makruf nahi mungkar dan keimanan kepada Allah Swt. Betul, kedua hal tersebut sudah dilakukan saat ini, akan tetapi, sebatas ranah individu semata, belum pada sistem kehidupan. Padahal sejatinya, kedua hal tersebut ditegakkan dalam lingkup sistem atau pemerintahan. Tidak bisa kita melarang perzinaan, pernimbunan, penjualan barang-barang haram, judi, riba dan pendidikan sekuler serta penerapan hukum manusia. Sebab, sistem saat ini demokrasi-sekularisme membolehkannya. Secara individu tidak punya kekuatan untuk mengubah itu semua dan tidak bisa menerapkannya.

Begitu pula menjalankan keimanan. Saat ini, kita hanya bisa menjalankan keimanan dan syariat Islam yang hanya berkaitan dengan individu semata. Padahal keyakinan kita kepada Allah Swt. mengharuskan terikat dalam seluruh aspek kehidupan ekonomi, muamalah, budaya, politik dan seluruh aspek kehidupan lainnya. Lalu apa yang menyebabkan tidak bisa ditegakkannya kedua aspek tersebut dalam kehidupan? Sebab, tidak ada sistem yang menaunginya. Sistem tersebut adalah khilafah. Sebuah kepemimpinan Islam yang menerapkan hukum-hukum Islam. Dengannya umat Islam akan terlindungi dan meraih posisi umat yang mulia. Inilah akar permasalahan yang utama, yakni tidak adanya khilafah yang akan melanjutkan kehidupan Islam.

Kehadiran khilafah adalah sebagai institusi pelaksana hukum-hukum Islam, mengemban dakwah ke seluruh penjuru dunia, melaksanakan amar makruf secara praktis dan efisien. Khilafah akan membebaskan umat dari segala bentuk penjajahan dan kezaliman.  Melepaskan dari berbagai pemikiran, peraturan dan perasaan kufur dan membawa umat dalam kehidupan yang sejahtera. Sebab khilafah dengan sistem Islam tidak bisa dipisahkan. Ibarat pohon mangga, akan berbuah manga bila dari akar hingga daunnya adalah mangga. Begitu pula Islam, akan berbuah manis yakni kebaikan Islam manakala seluruh aspek kehidupan ini dari akidah hingga syariah menggunakan akidah Islam.

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri tersebut beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. al-A’raf [7]: 96). Inilah yang dijanjikan oleh Allah Swt.

Adapun mengenai kewajiban menegakkan khilafah ini, tidak perlu diragukan lagi. Sebab,  semua ulama kaum muslim sepanjang zaman sepakat, bahwa adanya khilafah adalah wajib. Kewajiban ini antara lain berdasarkan dalil Al-Qur'an, Sunah dan ijmak Sahabat. Di antaranya adalah :

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Sungguh Aku akan menjadikan di muka bumi khalifah…” (QS. al-Baqarah [2]: 30)

Imam al-Qurthubi, ahli tafsir yang sangat otoritatif, menjelaskan, “Ayat ini merupakan hukum asal tentang kewajiban mengangkat khalifah.” Bahkan beliau kemudian menegaskan, “Tidak ada perbedaan pendapat mengenai kewajiban (mengangkat khalifah) ini di kalangan umat dan para imam mazhab, kecuali pendapat yang diriwayatkan dari al-‘Asham (yang tuli tentang syariah)...” (Al-Qurthubi, Al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân, I/264)

Wallahu a'lam bishshawab.
 
Top