Oleh : Sulastri
(komunitas peduli umat)

Perjuangan untuk memperoleh kemerdekaan Indonesia tidaklah muncul begitu saja, akan tetapi melalui proses perjuangan panjang untuk mendahuluinya. Dalam perjuangan di kawasan Nusantara yang mayoritas penduduknya muslim, maka peranan ajaran Islam, dan umat Islamnya mempunyai arti yang sangat penting dan tidak dapat dihapus dalam panggung sejarah Indonesia.

Demikian besarnya sokongan Islam untuk kemerdekaan Indonesia hingga rekam jejaknya sulit untuk dihilangkan, meskipun telah banyak pihak yang mencoba untuk mengaburkan dan mengubur sejarah itu.

Fakta sejarah menunjukan bahwa sebelum kemerdekaan diperoleh, Indonesia dan Turki Utsmani (sebagai ibukota Daulah Islam) telah menjalin hubungan yang erat. Pada Tahun 1904 sudah ada sekitar 8 konsul yang ditempatkan Turki di beberapa wilayah Hindia Belanda (Indonesia). Sedangkan pada Tahun 1905 telah didirikan organisasi Jariyat Khoir oleh keturunan Arab di Nusantara.

Pada masa itu, umumnya sultan atau raja di Indonesia bersumpah setia pada khilafah di Istambul, dimana ia merupakan negara Islam. Umat muslim di Indonesia merasa menjadi bagian dari kekhilafahan Turki. Penduduk Aceh adalah yang memproklamirkan hal itu.

Ekspedisi Khilafah Utsmaniyah sebenarnya dimulai sekitar tahun 1565. Ketika Khilafah Utsmaniyah membantu kesultanan Aceh dalam pertempuran melawan Portugis di Malaka. Ekspedisi dilancarkan setelah dikirimnya duta oleh Sultan Alaudin Al-Qahhar (1539-1571M)  kepada Sulaiman al Qanuni pada Tahun 1562 M, saat meminta bantuan Khilafah Utsmaniyah untuk melawan Portugis.

Setelah Tahun 1562, Aceh tampaknya sudah menerima bantuan Khilafah Utsmaniyah yang memungkinkannya menaklukan kerajaan Arudan Johor pada tahun 1564. Pengiriman duta ke Istambul pada tahun 1564 lakukan oleh Sultan Husain Ali Riayat Syah, dalam suratnya kepada Utsmaniyah, Sultan Aceh menyebut penguasa Khilafah Utsmaniyah sebagai Khalifah (penguasa) Islam.

Kesultanan Aceh dan Khilafah Utsmaniyah pun melakukan pertukaran dalam bidang militer, perdagangan, budaya dan agama. Hubungan antara kesultanan Aceh dan Khilafah Utsmaniyah menjadi ancaman besar bagi Portugis dan mencegah mereka membangun mafia dagang monopolistik di Samudra Hindia.

Ketika diserang Belanda pada tahun 1873, Aceh meminta perlindungan pada Khilafah Utsmaniyah. Negara Turki Utsmani tidak main main dalam mendukung Indonesia. Ia mengirimkan perwakilannya ke Batavia. Konsulat Turki menyokong gerakan-gerakan pribumi Islam. Sumatra post juga memberitahukan bahwa Turki Utsmani mengirim misi rahasia untuk mendukung kaum muslimin.

"Konsul Belanda di Konstatinopel (Istanbul) telah memperingatkan pemerintah Belanda bahwa utusan rahasia Muhammedan telah dikirim dari Turki ke Indonesia untuk memotivasi umat Islam untuk memberontak  pada penjajah," (Deliar Noer, bendera Islam, Jakarta 22 Januari 1925)

Bukti sejarah perjalanan panjang perjuangan rakyat Aceh dan dukungan Khilafah Islam yang luar biasa dalam melawan penjajah dan merebut kemerdekaan, perlahan diredupkan bahkan dipadamkan, ini dikarenakan sebagian masyarakat masih menganggap negatif kata khilafah itu sendiri, bahkan ada pihak tertentu yang berupaya keras menghilangkan kata tersebut dari benak kaum muslimin, dengan mengatakan khilafah sesat dan radikal.

Rekam jejak hubungan erat Khilafah Islam dengan Nusantara, sejatinya merupakan bukti yang tak dapat terbantahkan dan dilupakan begitu saja. Dukungan berupa peran fisik dan moral dari Khilafah Islam pun seharusnya menjadikan Islam sebagai kunci perjuangan melawan penjajah.

Olehnya, tak pantas ketika mengatakan bahwa khilafah adalah ancaman, ini sangat tidak sesuai dan sejalan dengan sejarah yang pernah dilalui.

Wallahu a’lam bishshawwab.
 
Top