Oleh : Yulia Ummu Haritsah

Ibu Rumah Tangga & Pendidik Generasi


Senin, 14 September 2020 Gubernur DKI Jakarta Anis Baswedan kembali melaksanakan PSBB, dengan pertimbangan bahwa laju grafik yang terpapar virus Covid-19 semakin meningkat, melihat dari fakta yang ada, rumah sakit rujukan telah over kapasitas, semua ruangan emergency penuh oleh pasien yang terjangkit virus Corona.

Pemberlakuan PSBB ini menuai pro dan kontra, baik dari masyarakat maupun aparat pemerintah, dengan alasan yang beragam. Menteri Sosial Juliari P. Batubara pun, mengungkapkan bahwa, PSBB ini tak bisa dilakukan dadakan, ini membutuhkan kajian yang dalam bersama Menteri Kesehatan, dan dialah yang berhak memutuskan untuk PSBB atau tidak.

Dan walaupun sekarang program bantuan sembako sedang digulirkan sampai Desember mendatang, namun dengan pemberlakuan PSBB kali ini tentunya memerlukan penyaluran yang lebih cepat dan tepat sasaran. Dan ini bukan sesuatu yang mudah.

Beliau juga menegaskan bahwa, "Bila keputusannya adalah menambah bansos, sejalan dengan pengetatan PSBB, maka ini bukan keputusan yang mudah, ini membutuhkan pengkajian mendalam dalam koordinasi yang tinggi" dalam keterangan tertulisnya , pada hari Minggu 13/9/2020.

Lain halnya dengan Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar parawansa, ketika Jawa timur termasuk ke zona merah, bahkan disebut zona hitam pula, namun beliau tidak mengambil langkah memberlakukan PSBB, beliau mengambil kebijakannya hanya untuk PSBM (Pembatasan Sosial Berskala Mikro).

Menurut beliau, kebijakan ini lebih efektif dan ini telah berhasil menekan laju penyebaran virus Covid-19, seperti yang pernah diberlakukan di daerah Sidoarjo, lapas Parong, dan Banyuwangi. Jadi menurut pengalaman kebijakan PSBM lebih efektif. 

Namun tak hanya sampai di situ, Khofifah Indar Parawansa Gubernur Jawa Timur juga getol mensosialisasikan untuk warganya agar dibiasakan bergaya hidup sehat, makan makanan yang bergizi, olahraga dan menjalankan protokol kesehatan, agar terhindar dari penularan virus ini, karena penyebaran virus Covid-19 ini belum berakhir.

Memang benar adanya dengan pemberlakuan PSBB ataupun PSBM, setidaknya bisa menekan sedikit laju penyebaran virus Covid-19, karena wabah seperti ini juga pernah terjadi pada masa sahabat Rasul dulu, dan kebijakan ini tepat.

"Jika suatu negeri dilanda wabah, janganlah kalian memasuki daerah itu, dan jika kalian ada di negeri yang terkena wabah, jangan keluar dari daerah itu."

Namun daerah yang aman dari wabah tetap melakukan aktivitasnya agar roda ekonomi tetap berjalan. Dari sini dapat kita lihat, kebijakan PSBB ataupun PSBM, dinilai dilakukan setengah hati, dengan ditutupnya sekolah-sekolah, sebagian tempat ibadah, akan tetapi tempat wisata, mall-mall, tempat kebugaran, bioskop, yang bernilai bisnis ini dibiarkan dibuka, menimbulkan banyak pertanyaan di kalangan masyarakat, dan hal ini dinilai akan sia-sia saja. 

Maka dari itu kita harus tahu begitu  rusaknya sistem kapitalis, pada masa pandemi masih memperhitungkan untung rugi, dan mengesampingkan nilai nyawa manusia. 

Berbeda halnya dengan sistem Islam yang selalu mengedepankan nilai kemanusiaan, selalu dilandasi dengan ketakwaan dan keimanan, semata-mata mengabdi kepada Allah Swt. pemilik alam semesta, karena sesungguhnya dalam sistem Islam segala sesuatu seluruh aspek kehidupan sudah ada aturannya, kita hanya dituntut untuk taat saja terhadap aturan-Nya. Sebagai bentuk taat manusia terhadap Robb-nya. 

Wallahu a'lam bishshawab.

 
Top