Oleh : Titien Khadijah
Muslimah Peduli Umat

Sejauh mata memandang, tampak persawahan yang tidak ditanami padi karena mengalami kekeringan, karena kemarau yang panjang saat ini. Walaupun di sampingnya mengalir sungai yang seharusnya bisa mengairi persawahan di sekitarnya, tapi sangat disayangkan sungai itu tidak ada setetes pun air bening, yang ada air hitam pekat, terkontaminasi air limbah.

Memasuki kemarau panjang, Tisna Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bandung (saat on air di Radio PR FM 107,5 news Channel 24 Agustus 2020), saat ini Pemerintah Kabupaten Bandung sedang melakukan  pemetaan potensi kekeringan di Kabupaten Bandung, karena kondisi sungai Citarum itu sudah mendalam dikarenakan pengerukan. Untuk pengambilan airnya memerlukan pompa air agar bisa mengaliri sawah di sekitarnya.

Seorang petani asal Margaasih Kabupaten Bandung, Andi (saat ditemui PR FM news, id) mengatakan sudah mulai sulit mengairi sawah yang digarapnya, Andi mengatakan ada sungai mengalir dekat sawahnya tapi tidak dapat dipergunakan karena sungai itu sudah menjadi pembuangan air limbah. Kalau digunakan dampaknya buruk untuk padinya.

Sebanyak 514 titik di Kabupaten Bandung sudah berpotensi kekurangan air bersih  bagi masyarakat, karena sumur-sumur mereka sudah jarang mengeluarkan airnya.

Akar permasalahan dari kekeringan ini, dampak dari kemarau panjang saat ini, selain dikarenakan curah hujan yang tidak kunjung tiba, dan cuaca iklim yang tidak menentu.

Tapi yang pastinya ada peran manusia di dalamnya pada perusakan alam ini, coba kita lihat negara kita yang terkenal dengan negara agraria, dulu Indonesia terkenal dengan lumbung padi terbesar di Asia Tenggara. Tapi sekarang faktanya persawahan berubah menjadi perumahan, kawasan industri, dengan beton-beton yang kokoh, yang membuat penyerapan air hujan tertutup.

Adanya swastanisasi air. Puluhan sumber mata air yang ada di Jawa Barat sudah dikuasai pihak swasta, air dikemas dengan sedemikian rupa dan diperjualbelikan pada masyarakat. Karena sumber mata air diambil terus oleh pihak swasta, daerah sekitar mengalami krisis air, padahal kita tahu air adalah milik kebutuhan rakyat banyak.

Belum lagi masyarakat yang biasa menggunakan sumur biasa, air sumurnya mengering dikarenakan kesedot oleh orang-orang yang menyedot air dengan menggunakan  mesin jet, biasanya pabrik-pabrik yang ada di sekitar.

Iklim ekstrim, pemanasan global diakibatkan ulah manusia itu sendiri, khususnya deforestasi yakni penebangan hutan, pembakaran hutan, penggundulan hutan untuk dipergunakan bukan hutan. Sementara deforestasi berjalan dengan cepat di seluruh dunia, termasuk Indonesia, padahal dunia tahu Indonesia dengan hamparan hutan hujan tropis terbesar di dunia setelah Brazil dan Kongo, mencakup hutan di Aceh sampai Papua.

Laju deforestasinya tercepat di dunia, maka tak heran kekeringan terjadi dari timur sampai barat Indonesia.
Masalahnya ada pada ideologi pada sebuah negara. Liberalisme menjadi sumber malapetaka melalui tangan penguasa, di negara kita terjadi liberalisme sumber daya alam, kehutanan, pertambangan tak pelak menjadi bencana besar terhadap siklus air yang menyebabkan kekeringan.

Bencana datang silih berganti di negeri ini bisa jadi negeri ini telah mendustakan ayat-ayat (hukum) Allah, lebih memilih hukum-hukum kufur seperti kapitalis, sosialis, karenanya negeri ini selalu dihadapkan dengan masalah yang tanpa ada solusinya, kalaupun ada solusi selalu memunculkan masalah baru. Sungguh menyedihkan negeri yang mayoritas muslim tetapi selalu dihadapkan dengan musibah-musibah yang datang silih berganti.
Padahal umat Islam adalah kuntum khairu ummah. Islam pernah menjadi kiblatnya peradaban dunia, temuan-temuan sains dan teknologinya luar biasa dan diakui dunia, tapi karena umat Islam sekarang ini selalu fobia dengan hukum-hukum Allah, dan umat muslim tidak mau introspeksi diri, akibatnya bencana dan bencana datang silih berganti.

Untuk itu Islam kafah memberikan solusi mengatasi kekeringan.
Negara menerapkan aturan yang berasal dari Allah Swt.

Hutan harus dijaga, karena secara umum hutan memiliki ekologis dan hidrologis yg dibutuhkan jutaan manusia di Indonesia dan di seluruh dunia, adanya sumber air sangat berpengaruh luas terhadap kehidupan manusia, maka tidak boleh dimiliki oleh individu, sabda Rasulullah saw., "Kaum muslimin berserikat dalam 3 perkara : padang rumput/hutan, air dan api." (HR. Abu Dawud dan Ahmad)

Dan negara wajib mengelola langsung dan bertanggung jawab, sabda Rasulullah saw., "Kepala negara ibarat penggembala dan hanya dia yg bertanggung jawab terhadap gembalaannya (rakyatnya)." (HR. Muslim)

Negara  harus mampu mendirikan industri air bersih, bagaimana pun caranya yang bisa terjangkau oleh masyarakat perkotaan dan sampai pelosok desa.

Negara harus memanfaatkan berbagai macam kemajuan sains dan teknologi dan memberdayakan mereka para pakar, ilmuwan yang terkait dengan kejadian yang ada, seperti pakar ekologi, pakar  hidrologi, pakar teknik kimia, teknik industri, dan ahli kesehatan lingkungan, dengan terlibatnya semua itu, air bisa terakses kepada masyarakat secara menyeluruh. Inilah konsep Islam kafah yang sahih, sistem yang langsung didesain oleh Allah Swt.

Wallahu a'lam bishshawab.
 
Top