Oleh : Arsy Novianty
(Member Akademi Menulis Kreatif, Aktivis Muslimah Remaja)

Pernikahan merupakan salah satu ibadah untuk melengkapi separuh agama kita, tidak sedikit yang berharap pernikahannya bahagia tidak hanya di dunia saja melainkan kelak di surga-Nya yang abadi. Tapi terlepas dari sana ternyata angka perceraian semakin meningkat.

Dilansir dari media WE Online, Jakarta (30 Agustus 2020) Bupati Bandung, Jawa Barat, Dadang Naser mengajak para ulama berperan memberikan nilai-nilai religi kepada pasangan suami istri guna menekan angka perceraian yang tinggi hingga 1.102 kasus pada Juli 2020.

Diambil dari media lain GALAMEDIA
(27 Agustus 2020), Angka perceraian yang terjadi selama pandemi Covid-19 cukup tinggi di sejumlah wilayah di Jawa Barat, seperti Kota Bandung dan Kabupaten Bandung. Pemicu perceraian tersebut, karena persoalan ekonomi dan pernikahan usia dini.

Sungguh sangat disayangkan sekali angka perceraian yang semakin tinggi, pernikahan berakhir perceraian hanya gara-gara ekonomi semata, padahal banyak solusi yang bisa diambil sebelum memutuskan untuk bercerai.

Ini menjadi perhatian bagi kita semua terutama yang sudah berkeluarga jangan sampai jalan pintas menjadi pilihan utama, padahal perlu kita ketahui dengan kita bercerai itu tidak akan menyelesaikan masalah tapi bisa jadi malah menambah masalah.

Dalam Islam memang perceraian dibolehkan ketika salah satunya melanggar hukum syariat, tapi perceraian bukanlah jalan satu-satunya untuk mengakhiri bahtera rumah tangga yang telah dibangun. Karena Islam pun banyak memberikan solusi dari berbagai permasalahan yang ada.

Kita sebagai insan yang mengaku sebagai seorang muslim jangan memutuskan perkara oleh hawa nafsu, ketika ada masalah kembalikan dulu pada Al-Qur'an dan Sunah, cari dulu jalan keluar insyaallah pasti ada jalan.

Bagi kaum remaja ini menjadi sorotan terpenting sebelum menginjak ke jenjang pernikahan. Alangkah baiknya mengkaji terlebih dahulu tentang pernikahan, karena pernikahan bukanlah hal yang manis-manis saja, melainkan pasti ada masa pahit dan lain-lain. Jangan terburu-buru dalam memutuskan perkara apalagi kehendak diri sendiri.

Negara harus lebih mementingkan apa yang dibutuhkan masyarakat, apalagi ketika kasus perceraian yang terjadi kebanyakan terjadi karena ekonomi, negara tidak bisa membiarkan masyarakat terpuruk. Karena sesungguhnya negaralah yang bertanggung jawab untuk menjamin pemenuhannya individu per individu, dengan mekanisme pemenuhan yang telah diatur dan ditetapkan menurut syariat Islam
 
Kita perlu model sebagai pijakan untuk mempertahankan keluarga, tidak lain ini hanya bisa ditemukan dalam sistem syariat Islam bukan dalam sistem sekuler kapitalisme, dimana dalam Islam setiap insan dibina agar mengetahui apa tugas di dunia ini, dalam dunia pernikahan ditanamkan sejak awal sebelum melangkah ke jenjang pernikahan sudah paham akan tugas dan fungsi dalam berumah tangga tahu akan hak dan kewajiban memahami hukum syariah seputar pergaulan dalam rumah tangga, serta menciptakan suasana masyarakat yang sehat lahir bathin.

Wallahu a'lam bishshawab.
 
Top