Oleh: Oktavia S.Pt
 

Pada Jumat malam lalu Malmo yang merupakan ibu kota Swedia rusuh. Penyebabnya adalah adanya kemarahan sebuah demonstrasi yang marah karena dipicu pembakaran Alquran. Para pengunjuk rasa yang sebagian besar muslim imigran mengamuk.
Jumlah muslim yang diprediksi meningkat. Hal ini menjadi  salah satu penyebab ketidak sukaan kelompok kanan atas hadirnya kaum muslimin (Islam) di negaranya. Pew mengeluarkan riset tentang prediksi jumlah kaum muslimin di Swedia meningkat tajam, prediksi tertinggi kaum muslimin menginjak angkat 30,6% dari jumlah penduduk Swedia yang akhirnya menyebabkan kekhawatiran kelompok kanan jika Islam akan menguasai Swedia, alhasil politikus Rasmus Paludan dan partai melakukan propaganda propaganda untuk mengusir kaum muslimin dari Swedia, salah satunya dengan menanamkan paham Islamophobia kepada masyarakat. (Republika.co.id, /01/09/2020).

Padahal jika kita ingin menelaah lebih dalam, nenek moyang mereka (bangsa viking) mempunyai kedekatan dengan nenek moyang kaum muslimin. Kaum muslimin di Swedia tidak tiba-tiba ada dengan sendirinya, namun bermula dari hubungan perdagangan antara negara besar yaitu kaum viking (nenek moyang orang Swedia) dengan nenek moyang kaum muslimin pada abad 7-10. Hal ini diketahui dari bukti sejarah koin Arab dari Timur Tengah di pemakaman Bangsa viking. 

Isu Islamophobia seperti snowball, semakin hari semakin besar dan akan menghancurkan dirinya sendiri. Islamophobia yang dilakukan oleh partai sayap kanan lama kelamaan akan menghancurkan dirinya sendiri dengan sadar atau tidak sadar. Islamophobia bukan barang baru lagi di dunia Barat, sejak lama islamophobia dibangun secara sistematis.

Times Indonesia mengabarkan pasca penyerangan gedung 11 September, 2001, yang meluluhlantakkan gedung World Trade Center di New York dan Pentagon di Washington DC, itu menjadi momentum kebangkitan kebencian terhadap Islam di era sekarang, namun sejatinya kebencian terhadap Islam sesungguhnya sudah berakar. Hal ini dapat dianalisis dalam The Four Freedoms yang dikemukakan oleh Presiden Franklin Delano Loosevelt pada tanggal 6 Januari 1941 yang kemudian mendasari dibentuknya universal declaration of human rights. Sebuah nilai-nilai yang dicakup pada The Four Freedoms adalah kebebasan berbicara, kebebasan beragama, kebebasan dari segala bentuk ketakutan, dan kebebasan untuk dapat hidup layak. 

Selanjutnya AS kemudian dikenal sebagai land of freedom sehingga nilai-nilai kebebasan seperti yang telah diutarakan di awal diterapkan secara universal kepada seluruh rakyat AS. Pasca penyerangan 11 September 2001 kebijakan Amerika secara sepihak mengimplementasikan kebijakan war on terrorism dengan slogannya yang begitu terkenal, either you’re with us or with the terrorist berakibat kepada munculnya banyak persepsi-persepsi terhadap agama Islam. Tidak hanya berimplikasi kepada kebijakan yang dibuat oleh AS, namun persepsi masyarakat AS terhadap agama Islam turut berubah menjadi negatif. 

Ada kesamaan dengan sejarah
Ada pola yang sama islamophobia saat ini dengan islamophobia pada zaman Rasulullah saw., ada narasi-narasi yang dibentuk untuk menutupi sejarah guna menenggelamkan Islam.
911 (11 September 2001) menjadi kebangkitan kebencian kaum kafir terhadap Islam, hingga islamophobia ditanamkan kuat dalam benak kaum muslimin dan kaum kafir lainnya untuk membenci Islam. Sadisnya kebencian mereka tersistem secara apik, dengan membentuk declaration of human rights yang didalamnya terdapat sebuah nilai-nilai yang dicakup pada The Four Freedoms. Either you’re with us or with the terrorist, lucu sekali Barat membuat kata-kata ancaman, seolah jika diam maka kita berpihak pada teroris. Narasi demi narasi senantiasa digencarkan, propaganda senantiasa dibuat untuk menyudutkan Islam bahkan sampai membentuk organisasi Islam abal-abal (ISIS) yang tujuan utamanya adalah membuat citra Islam buruk.

Rasulullah saw. adalah panutan segala aktivitas kami (orang muslim), karenanya wajib merefleksikan keadaan kita dengan keadaan Rasulullah saw. saat mengalami ujian demi ujian. Dalam sirah, Rasulullah saw. digambarkan bagaimana kuatnya iman dan tegarnya Rasulullah saw. juga para sahabat dalam menghadapi ujian ujian yang menderanya.

Pada awal dakwah Rasulullah saw. tidak mengalami kesusahan tersebab kaum Quraisy mengira dakwah Rasulullah saw. tidak lebih seperti perkataan pendeta dan ahli hikmah. Namun setelah dakwah Rasulullah saw. berjalan dalam waktu yang belum terlalu panjang, namun pengikutnya semakin bertambah. Mereka mulai menyadari bahaya dakwah tersebut, hingga kaum Quraisy bersepakat untuk memusuhi dan memerangi dakwah Rasulullah saw.
Strategi yang digunakan kaum Quraisy sama seperti politisi sayap kanan di Swedia maupun di belahan bumi lain yang memerangi Islam. Membuat narasi negatif tentang Islam, mengatakan Rasulullah gila, mengancam orang yang akan masuk Islam, hingga menyiksa Rasulullah saw. sendiri  dan juga para sahabat. Seperti siksaan yang diterima oleh keluarga Yasir (semoga Allah menaikkan derajat beliau, Aamiin) yang dilakukan di tempat umum untuk manakut-nakuti orang yang masuk ke dalam Islam dan juga supaya keluarga Yasir meninggalkan agamanya. Siksaan itu tidak berpengaruh sedikitpun pada keluarga ini, kecuali keimanan mereka semakin mantap. 

Solusi dari Rasulullah saw.
Sewaktu mereka (kaum Quraisy) menyiksa keluarga Yasir, Rasulullah saw. lewat di depan mereka seraya memberikan kabar gembira, 
"Sabarlah, wahai keluarga Yasir. Sesungguhnya tempat yang dijanjikan kepada kalian adalah surga. Sesungguhnya aku tidaklah memiliki apapun dari Allah untuk kalian" maka tidak ada yang dilakukan oleh Sumayah istri Yasir, kecuali berkata " Sesungguhnya aku telah melihatnya dengan jelas, wahai Rasulullah saw."

Selain Rasulullah meminta kaum muslimin bersabar atas ujian propaganda yang dilakukan kaum Quraisy, Rasulullah juga melakukan dakwah secara masif dan sistematis. Saat kaum Quraisy lelah dengan propaganda, penyiksaan dan pengolok-olokan, kaum Quraisy menyuruh 2 orang Quraisy untuk menyebar isu menentang kaum muslimin di hadapan Raja Najasyi'. Dan Rasulullah memerintah sahabat Ja'far bin Abi Thalib menjelaskan secara jelas perihal tuduhan kaum Quraisy kepada kaum muslimin. Diplomasi yang dilakukan Ja'far bin Abi Thalib sangatlah cerdas hingga akhirnya dikabarkan Raja Najasyi' memeluk Islam dan membela Islam.

Demikianlah, berbagai propaganda menemui kegagalan dan tenggelam. Kekuatan kebenaran yang diserukan Rasulullah saw. dengan amat gamblang dan tampak cerdas dapat mengungguli propaganda busuk. Islamophobia saat ini tak lain seperti propaganda busuk kaum Quraisy kepada Rasulullah Saw. Cahaya Islam dan semangat iman kaum muslimin jika bersatu mampu mencerai-beraikan kaum kafir. 
Wallahu a'lam bishshawab.
 
Top