Oleh : Dra.Hj. Suhartini
Praktisi pendidikan dan pegiat literasi

Berdasarkan Peraturan Menteri Nomor 16 tahun 2009 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kredit, guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi  peserta didik. Pada Pendidikan Anak Usia Dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan pendidikan menengah.

 Inilah guru, profesi mulia, menjanjikan pahala, dengannya akan mengantarkan generasi menuju gerbang kesuksesan hidup di dunia juga di akhirat. Dengan ilmu yang disampaikannya, dengan bimbingan yang diberikannya, perjuangan dan pengorbanannya cukup baginya menyandang guru berkarakter dan guru inovatif.

Peran guru di masa pandemi Covid-19 benar-benar dituntut cerdas, penuh inovatif, kreatif, variatif. Dengan demikian, diharapkan peserta didik bisa mengikuti PJJ/BDR dengan senang hati.

Sementara, situasi pembelajaran telah terjadi perubahan yang signifikan karena adanya pandemi. Berbagai keluhan datang baik dari peserta didik, orang tua/wali, guru, kepala sekolah, atau pihak-pihak terkait.

Pembelajaran daring yang dilakukan selama pandemik, terasa seperti buah simalakama. Jika anak-anak sekolah secara normal dengan tatap muka di sekolah, bahaya virus Corona dipastikan mengancam peserta didik. Sekolah bisa menjadi klaster baru penularan Covid-19 sebagaimana terjadi di beberapa negara seperti Korea Selatan, Prancis, Belanda, Finlandia dan Inggris. Tanpa sekolah tatap muka saja, sudah banyak anak tertular Covid-19. Berdasarkan  data dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), ada 51 kasus anak meninggal karena virus Corona sejak 17 Maret hingga Juli 2020.
Namun, ketika pembelajaran dilakukan secara daring, banyak orangtua mengeluh kesulitan. Hingga muncul ungkapan, “sekolah daring bikin darting (darah tinggi)".

Tidak berbeda jauh fakta yang terjadi di Kabupaten Bandung, terkait pembelajaran daring ini menimbulkan berbagai masalah. Hal yang wajar, kalau akhirnya organisasi guru terbesar di Indonesia yaitu PGRI berusaha mencari terobosan baru guna menjadikan para guru yang memiliki karakter sebagai guru profesional dan inovatif. Dalam rangka mewujudkan target tersebut, PGRI Kabupaten Bandung masa bakti XXII tahun 2020-2025 mengadakan konferensi dengan mengambil tema mewujudakan PGRI sebagai Organisasi Profesi dan Perannya dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan Abad ke-21” digelar di Gedung PGRI, Katapang, Kabupaten Bandung, Senin, 31/8/2020.

Sistem Pendidikan Kapitalis Sekuler Sulit Wujudkan Guru Profesional dan Inovatif

Beban berat guru dalam sistem kapitalisme. Sistem Demokrasi sekuler bukan berasal dari Islam. Secara asasi bertentangan dengan sistem Islam, karena agama tidak dijadikan asas pendidikan. Bukti nyata saat materi Jihad dan Khilafah dianggap sumber radikalisme, padahal semua itu ajaran Islam. Seperti halnya barang dan jasa, pendidikan berubah arah dan berorientasi kepada materi. Hal ini, menyebabkan idealisme guru perlahan luntur.

Kurikulum yang berubah-ubah mengindikasikan tidak adanya standar pasti yang menjadi acuan penyusunan kurikulum.

Kurikulum dengan tujuan pendidikan belum sejalan. Peserta didik agar bertakwa kepada Allah Swt., nyatanya mata ajar PAI hanya 3 jam pelajaran saja perminggu. Materi pun dikebiri, cukup hanya tentang ibadah mahdhah. Masih banyak fakta lainnya yang mengakibatkan sulit menciptakan guru berkarakter, profesional, dan inovatif.

Profesi Guru dalam Pandangan Islam

Mulianya kedudukan guru, barangkali itulah ungkapan yang pantas kepada para guru berkarakter, profesional, dan inovatif. Rasalullah saw. bersabda,

"Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur'an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Äri Zaid bin Aslam dari ayahnya dari sebagian sahabat-sahabat Rasulullah saw. bersabda:

"Hamba yang paling dicintai Allah Swt. setelah para nabi dan syuhada ialah para guru…."

Adh Dhahhak meriwayatkan dari Abdullah bin Abbas ra dari Nabi saw. beliau berdoa Ketika haji wada: "Ya Allah, ampunilah dosa para guru, panjangkanlah umur mereka, barakahkanlah pencahariannya dan kehidupan mereka.”

Karena kemuliaannya, maka seorang guru harus memiliki karakteristik idealis dan ideologis seperti berikut:

Pertama, memahami hakikat hidup yakni untuk dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Swt.

Kedua, memiliki kesadaran bahwa setiap Muslim wajib menuntut ilmu dan tidak boleh melalaikannya. Baik wajib kifayah ataupun wajib ‘ain.

Ketiga, memiliki sifat ikhlas, amanah, teladan, dan kapabel.

Keempat, berkepribadian Islam (Syakhshiyyah Islamiyyah), menguasai tsaqafah Islam (pemahaman terhadap hukum-hukum Islam/Syariah Islam); menguasai ilmu kehidupan (sains teknologi dan seni) yang memadai untuk memenuhi kebutuhannya.

Maka guru profesional akan mampu melaksanakan perannya dalam proses pembelajaran:
Menjadi model/teladan.
Menggali dan mengoptimalkan potensi luar biasa anak.
Memotivasi siswa untuk memiliki semangat belajar yang tinggi sekalipun di masa pandemi.
Mengajarkan materi pelajaran secara sistematis untuk membangun pola fikir dan meningkatkan taraf berfikir peserta didik.
Memotivasi peserta didik untuk meraih prestasi terbaik.
Memotivasi peserta didik untuk berlomba-lomba dalam mengerjakan amal shaleh (Fastabiqul khairat).
Mengevaluasi pengaruh pembelajaran baik di sekolah ataupun di rumah.
Karakter guru ideologis, idealis, profesional hanya akan tercipta jika dukungan sistem kehidupan ditegakkan. Sistem itu hanya ada dalam sistem yang diridhai Allah Swt. yaitu khilafah islamiyyah. Yang akan memberikan ruang dukungan terhadap Pendidikan. Dukungan itu dari orangtua dimana akan berperan penuh dan menghargai ilmu. 
Masyarakat menjadi penjaga generasi dengan melakukan amar ma’ruf nahi munkar dan muhasabah terhadap kebijakan negara.
Negara dengan menjalankan perannya sebagai periayyah rakyatnya. Wallahu a'lam bi ash shawwab.
 
Top