Oleh : Nining


Tanggal 18/9/2020, beberapa hari yang lalu diperingati sebagai Hari Kesetaraan Upah Internasional. Saat ini, tenaga kerja perempuan masih dibayar lebih rendah dibandingkan laki-laki, dengan perkiraan kesenjangan upah sebesar 16 persen. (Bisnis.com.Jakarta)

Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Internasional Labour Organization (ILO) dan UN Women, perempuan memperoleh 77 sen dari setiap satu dolar yang diperoleh laki-laki untuk pekerjaan yang bernilai sama, angka ini sudah dihitung dengan kesenjangan yang bahkan lebih besar bagi perempuan yang memiliki anak. Oleh karena kesenjangan upah antara perempuan dan laki-laki cukup kentara, maka ILO terus mendukung Indonesia mewujudkan kesetaraan upah di negeri ini, hal itu diungkapkan Michiko Miyamoto, Direktur ILO untuk Indonesia. (Kumparan.com,19/9/2020)

Meski dua badan PBB ILO dan UN memberi perhatian terhadap kondisi perempuan dan setiap tanggal 18 September diperingati sebagai hari kesetaraan upah internasional dengan agenda pentingnya ingin menghapus kesenjangan upah, akan tetapi kondisi perempuan tak akan jauh berbeda dengan kondisi sebelumnya, tetap dalam kesenjangan dan memprihatinkan. Hari kesetaraan upah hanyalah ilusi, yang terjadi adalah eksploitasi kaum perempuan.

Sudah banyak racun dan angan-angan kosong yang terus dihembuskan oleh pegiat gender untuk menyelesaikan masalah perempuan. Namun, tak satupun yang benar-benar menjamin perlindungan dan kesejahteraan bagi perempuan. Perempuan tetap menjadi tumbal kerakusan para kapitalis.

Dalam ekonomi kapitalis prinsip baku yang sampai sekarang menjadi acuan adalah modal yang kecil untuk mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya, sangat terlihat jelas di semua sektor, perempuan diberi kesempatan bahkan dimudahkan untuk mendapatkan pekerjaan meskipun dengan upah yang lebih rendah. Misal, dalam industri tekstil dan garmen. Dalam industri media elektronik, perempuan menjadi objek seksual. Tubuh perempuan dan kemolekannya dijadikan alat untuk memikat. Tenaga kerja perempuan (TKW) juga tak jarang berakhir pada prostitusi dan tindakan kekerasan yang tidak dapat dipisahkan dari perbudakan.

Inilah bobroknya sistem kapitalisme,.sistem ini memandang perempuan sebagai sarana yang dapat dieksploitasi demi kepentingan bisnis. Ujung-ujungnya negara lepas tangan menyejahterakan rakyat termasuk perempuan. Bagaimana dengan Islam?

Islam sebagai agama dan juga ideologi mampu memberikan solusi dalam setiap permaslahan yang dihadapi manusia. Termasuk masalah yang menimpa perempuan, salah satu aturan yang terpancar dari ideologi Islam adalah sistem ekonominya. Sistem ini melarang aktivitas ekonomi yang menzalimi orang lain atau upah yang tak layak. Selain itu menjauhkan semua jenis aktivitas memanfaatkan kemolekan tubuh perempuan demi keuntungan materi. Pemenuhan kebutuhan pokok setiap perempuan ditempuh dengan berbagai strategi. Pertama: Mewajibkan laki-laki menafkahi perempuan (QS. al-Baqarah : 233) dan (QS. ath-Thalaq : 6).

Kedua: Jika individu itu tetap tidak mampu bekerja menanggung diri, istri dan anak perempuannya, maka beban tersebut dialihkan kepada ahli warisnya (QS. al-Baqarah : 233).

Ketiga: Jika ahli waris tidak ada atau ada tetapi tidak mampu memberi nafkah, maka beban itu beralih kepada negara melalui lembaga baitulmal.

Nabi saw. bersabda, "Aku lebih utama dibandingkan dengan orang-orang beriman daripada diri mereka. Siapa yang meninggalkan harta, maka harta itu bagi keluarganya. Siapa saja yang meninggalkan utang atau tanggungan keluarga, maka datanglah kepadaku dan menjadi kewajibanku." (HR. Ibnu Hibban)

Tentu aturan tersebut akan diterapkan ketika khilafah telah berdiri. Khilafah memiliki mekanisme aturan yang terperinci dalam meriayah umatnya. Dalam pembiayaan pemenuhan kebutuhan pokok setiap masyarakat termasuk baik laki-laki maupun perempuan berasal dari harta milik negara, juga hasil pengelolaan harta milik umum seperti migas, tambang, laut, hutan, dan sebagainya.

Khalifah  memaksimalkan pengumpulan zakat, infak, dan sedekah untuk memenuhi kebutuhan orang miskin, baik laki-laki maupun perempuan. Kebutuhan pokok yang meliputi pendidikan, kesehatan, serta keamanan dipenuhi secara langsung dan gratis. Maka dengan demikian tidak dibutuhkan kesetaraan upah antara laki-laki dan perempuan, karena khilafah akan menjamin kesejahteraan mereka dengan pengaturan berbagai kebijakan yang manusiawi.

Wallahu a'lam bishshawab.

 
Top