Oleh: Maya Dhita

Aktivis Dakwah Muslimah dan Member Akademi Menulis Kreatif


Ketua Mahkamah Partai PAN, Ali Taher, mengaku hatinya hancur mendengar pernyataan Menteri Agama (Menag) Fachrul Razi tentang agen radikalisme good looking.  Ia pun meminta Fachrul berhenti berkata radikalisme. Sebab, menurutnya, Islam itu penuh kasih sayang. (www.news.detik.com, 10/09/2020)


Sejak menjabat sebagai Menag, Fachrul Razi seringkali mengeluarkan pernyataan dan kebijakan yang menimbulkan kontroversi. Misalnya, tentang mengkaji larangan bercadar dan celana cingkrang di instansi pemerintah. Menggagas sertifikasi penceramah dan da'i guna merespons gerakan radikalisme yang sudah masuk ke mimbar-mimbar masjid.


Selain itu, Menag menerbitkan Peraturan Menteri Agama Nomor 29 Tahun 2019 tentang Majelis Taklim. Aturan itu mengharuskan pendaftaran majelis di kantor Kementerian Agama untuk mendapat Surat Keterangan Terdaftar.


Kemenag juga menerbitkan Surat Edaran B-4339.4/DJ.I/Dt.I.I/PP.00/12/2019 tertanggal 4 Desember 2019 yang memerintahkan revisi terhadap konten-konten ajaran terkait khilafah dan jihad dalam pelajaran agama Islam di madrasah. Dalam kurikulum tahun ajaran 2020/2021, konten khilafah dan jihad tak lagi diajarkan dalam mata pelajaran Fikih, melainkan hanya lewat mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI).


Terakhir, pernyataan yang paling kontroversial adalah masuknya paham radikalisme di masjid melalui pengurus yang terlihat good looking, pintar bahasa Arab dan hafidz. Hal ini tentu sangat menyakiti hati umat Islam. Apalagi di tengah semakin tingginya tingkat kesadaran umat untuk semakin dekat dengan penciptanya.


Sebagaimana kita ketahui bahwa  Presiden Jokowi menyampaikan permasalahan deradikalisme menjadi pekerjaan rumah Menkopolhukam Mahuf MD dan Menteri Agama Fachrul Razi. Dari sini sudah jelas bahwa sebenarnya isu tentang radikalisme adalah agenda pemerintah. Pemerintah merasa "insecure" pada kelompok yang dianggap radikal yang diyakini bisa mengguncang eksistensi pemerintahan. Hal ini membuat pemerintah tidak mampu secara objektif menentukan prioritas kebijakan yang diambil dalam menangani permasalahan di negeri ini. 


Di tengah pandemi yang dialami bangsa ini, seharusnya pemerintah lebih serius dalam menangani dampak virus covid-19 yang semakin merajalela. Naiknya tren pasien positif covid-19 secara drastis, meninggalnya ratusan dokter dan tenaga kesehatan menunjukkan kurang tepatnya kebijakan yang diambil untuk menekan dampak virus covid-19. 


Belum lagi dampaknya di bidang ekonomi. Semakin meningkatnya jumlah pengangguran, kriminalitas hingga ancaman resesi sudah menjadi hal yang dimaklumi. Padahal permasalahan inilah yang seharusnya menjadi fokus pemerintah untuk segera di atasi.


Rupanya, isu radikalisme akan selalu dijadikan perhatian utama. Tak peduli seberapa besar permasalahan lain yang dihadapi, tidak akan mampu menutup agenda deradikalisasi di negeri ini. Narasi radikalisme pun akan berkembang sesuai dengan konteks yang diinginkan oleh pemerintah. 


Begitulah jika sekulerisme dan kapitalisme sudah menjangkiti pemikiran para penguasa suatu negera. Segala hal yang mengancam eksistensi kekuasaan akan ditekan dan sebisa mungkin dihilangkan. Tak peduli dengan nasib rakyat, apakah semakin sejahtera atau menderita.


“Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang penuh dengan penipuan. Ketika itu pendusta dibenarkan sedangkan orang yang jujur malah didustakan, pengkhianat dipercaya sedangkan orang yang amanah justru dianggap sebagai pengkhianat. Pada saat itu Ruwaibidhah berbicara.” Ada yang bertanya, “Apa yang dimaksud Ruwaibidhah?”. Beliau menjawab, “Orang bodoh yang turut campur dalam urusan masyarakat luas.” (HR. Ibnu Majah).


Islam datang dengan aturan lengkap dan terperinci yang mampu menyelesaikan segala permasalahan yang di hadapi negeri ini. Keberhasilan pemimpin yang menerapkan aturan Islam dalam meriayah rakyat sudah terbukti pada masa kekhalifahan.


Sudah saatnya kita mengambil syariat Islam sebagai aturan dan  menerapkannya secara menyeluruh. Agar tercipta kesejahteraan di muka bumi. Wallahu a'lam bishshowab.

 
Top