Oleh : Dewi Tisnawati, S. Sis. I (Pemerhati Sosial)

Pada faktanya, sejarah Islam memasuki wilayah Nusantara tidak bisa lepas dari eksistensi dan peran khilafah, sebagaimana dikisahkan oleh Dr. Ahmad Sastra, M. M., Ketua Forum Doktor Muslim (Tintasiyasi, 18/8/2020), yakni sebagai berikut :

Islam masuk Nusantara (Indonesia) pada abad ke-7 Hijriyah, dengan berimannya orang per orang. Saat itu sudah ada jalur pelayaran yang ramai dan bersifat internasional melalui Selat Malaka yang menghubungkan dinasti Tang di Cina, Sriwijaya di Asia Tenggara dan Bani Umayyah di Asia Barat sejak abad ke 7. (Musyrifah Sunanto, Sejarah Peradaban Islam Indonesia. Uka Tjandrasasmita, Kedatangan dan penyebaran Islam).

Meski ada literatur yang menyebutkan Islam masuk Asia Tenggara pada abad 9 atau 13, namun menurut R.K.H Abdullah bin Nuh,  TW Arnold, BH Burger dan Prajudi lebih kuat pada abad ke 7 melalui jalur perdagangan saudagar Arab. Namun berkembang menjadi institusi politik pada abad ke-9, dan abad ke-13 kekuatan politik Islam menjadi sangat kuat. (Ahmad Mansur Suryanegara, Api Sejarah. TW Arnold, The Preaching of Islam)

Bahkan Islam telah hadir di Nusantara jauh sebelum Indonesia lahir. Islam mampu mempengaruhi institusi politik yang ada saat itu. Hal ini nampak pada tahun 100 H (718 M). Raja Sriwijaya Jambi yang bernama Srindravarman mengirim surat kepada Khalifah Umar bin Abdul Aziz dari Khilafah Bani Umayah. Ada jejak kuat antara khilafah dan Nusantara yang tak mungkin dihapus. (Jejak Syariah dan Khilafah di Indonesia 2007 : 2)

Isi surat Raja Sriwijaya : Dari Raja di Raja yang adalah keturunan seribu raja, yang cucunya juga cucu seribu raja, yang di dalam kandang binatangnya terdapat seribu gajah, yang di wilayahnya terdapat dua sungai yang mengairi pohon gaharu, bumbu-bumbu wewangian, pala dan kabur barus  yang semerbak wanginya hingga menjangkau jarak 12 mil, kepada raja Arab yang tidak menyekutukan tuhan-tuhan lain dengan Tuhan. Saya telah mengirimkan kepada anda hadiah, yang sebenarnya merupakan hadiah yang tak begitu banyak, namun sekadar tanda persahabatan. Saya ingin anda mengirimkan kepada saya seorang yang dapat mengajarkan Islam kepada saya dan menjelaskan kepada saya tentang hukum-hukumnya.

Dua tahun kemudian, yakni tahun 720 M, Raja Srindravarman, yang semula Hindu, masuk Islam. Sriwijaya Jambi pun dikenal dengan nama Sribuza Islam. Sayang, pada tahun 730 M, Sriwijaya Jambi ditawan oleh Sriwijaya Palembang yang masih menganut Budha. (Ayzumardi Azra mengutip dari Ibnu Abi Rabbih, Jaringan Ulama, 2005 : 27-29)

Islam menjadi kunci perjuangan melawan penjajah seperti Jepang, Inggris, Portugis, Belanda dan lainnya, dengan membawa misi glory, gospel dan gold saat melakukan penjajahan di Nusantara.

Umat Islam yang kemudian berdiri tegak terdepan melawan dan mengusir penjajah dari bumi pertiwi. Resolusi jihad yang diserukan oleh KH. Hasyim Asy’ari adalah jejak perjuangan Islam yang tidak mungkin bisa dihapus.

Para ulama dan kyai serta pejuang-pejuang muslim turut andil dalam pergolakan melawan penjajah. Di berbagai daerah di Nusantara terjadi perlawanan oleh para ulama dan santri. Misalnya, peperangan di Maluku, Makassar, Banjar, Minangkabau, Jawa dan Aceh, semuanya dipimpin oleh tokoh-tokoh muslim setempat, baik ulama maupun bangsawan.

Penting bagi umat Islam kembali menggali kebenaran terkait jejak sejaran Islam, khususnya peran dan jasa khilafah di Nusantara yang akan mampu menolak anggapan bahwa perjuangan khilafah adalah perjuangan yang ahistoris.

Perlu diketahui bahwa ada yang hilang dalam penulisan sejarah di negeri ini. “Ada persoalan besar di dalam sejarah kita, karena saya melihat ada dua hal kejahatan dalam penulisan sejarah. Pertama, ada pengaburan sejarah dan kedua, ada penguburan sejarah,” ungkap Ustadz Ismail Yusanto, dikutip dari Tintasiyasi (8/8/2020).

Salah satu contoh penguburan sejarah adalah resolusi jihad (22 Oktober 1945) yang mendorong kaum Muslimin berjihad melawan penjajah yang dikenal sebagai Hari Pahlawan 10 November tidak pernah ditulis secara resmi sebagai Hari Resolusi Jihad. Belakangan mengenai fakta ini, diperingati sebagai Hari Santri (22 Oktober).

Jihad yang selama ini menjadi pendorong para pahlawan melawan penjajah jarang disebut dalam khazanah perjuangan kemerdekaan. Bahkan, bila berdasarkan fakta sejarah, seharusnya yang pantas mendapat gelar Bapak Pendidikan adalah  KH. Ahmad Dahlan. Beliau mendirikan sekolah di Kauman, 11 tahun sebelum Ki Hajar Dewantara mendirikan Taman Siswa (1922).

Dalam film Jejak Khilafah di Nusantara inilah, fakta-fakta itu ingin dimunculkan dan dibongkar secara jelas dan terang. Umat ini butuh mengetahui sejarahnya dengan benar, agar dapat kembali mengambil ibroh dari sejarah masa lalu, Islam.

Dikutip dari tintasiyasi (7/8/2020), Nicko Pandawa Sejarawan dan timnya membuat Film berjudul Jejak Khilafah di Nusantara. Menurut Nicko, jejak-jejak yang tidak terlihat, dikaburkan seperti tertutup pasir. Melalui film ini akan disapu pasir itu, sehingga jejak-jejak itu bisa terlihat kembali.

Penegakkan khilafah sejalan dengan kebutuhan perubahan bangsa saat ini. Sebab, berbagai permasalahan hidup telah menimpa rakyat di bangsa ini. Belum ada solusi yang mampu menyelesaikan semua persoalan itu. Hanya khilafah dengan sistem Islam yang diterapkan akan mampu menuntaskan permasalahan hidup manusia saat ini termasuk menuntaskan pandemi Covid-19 yang terus memakan korban hingga saat ini.

Menegakkan khilafah adalah kewajiban, didasarkan pada Al-Qur'an, Sunah dan ijmak Sahabat dengan perintah yang tegas. Allah Swt. berfirman,

‟Wahai orang-orang yang beriman ta’atilah Allah, ta’atilah Rasul dan ulil Amri di antara kalian.” (QS. an-Nisa’ : 59)

Ayat tersebut mengandung petunjuk, keberadaan ulil amri adalah wajib, wajib pula mengadakan ulil amri (khalifah) dan ‎sistem syar’inya (khilafah).‎ Adanya ulil amri memiliki konsekuensi tegaknya hukum syara, dan diam tidak mewujudkan ulil amri (khalifah) membawa konsekuensi lenyapnya hukum syara.

Di samping itu, terdapat ratusan ayat yang berhubungan dengan masalah politik (kenegaraan) secara langsung, dan terkait dengan ekonomi, hukum pidana atau perdata, hubungan kemasyarakatan, akhlak, kenegaraan, militer, mu’amalah, dan lain-lain.

Kewajiban untuk menerapkan seluruh hukum Islam tidak akan mungkin terwujud dengan sempurna tanpa keberadaan imam (penguasa). Atas dasar itu, mengangkat seorang penguasa merupakan kewajiban bagi terlaksananya hukum-hukum syariat secara menyeluruh dan sempurna. Penguasa yang dimaksud adalah khalifah dan sistem pemerintahannya adalah khilafah.

Menjelang pemutaran perdana film dokumenter Jejak Khilafah di Nusantara pada 20 Agustus 2020 mendatang, ajakan untuk menonton tayangan perdananya datang dari berbagai kalangan termasuk Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Diponegoro (Undip) Prof. Dr. Suteki, S.H., M.Hum.

Menurutnya, sebagaimana dilansir dari tintasiyasi (16/8/2020), beliau mengajak seluruh warga masyarakat Indonesia tanpa kecuali, untuk turut menyaksikan film Jejak Khilafah di Nusantara agar melek sejarah dan menghargai jasa orang lain, apa pun latar belakang agama anda.

Wallahu a'lam bish shawab.
 
Top