Oleh : Fidalia Siti Novrianty, S.KM

(Aktivis Dakwah Jambi & Anggota Komunitas Menulis Muslimah Jambi)


Tanda akhir zaman semakin terlihat, kekacauan terjadi di berbagai sisi. Baru ini, sosok dengan sebutan ibu yang perannya tidak akan tergantikan oleh siapapun tega melakukan tindak kekerasan kepada anaknya. Miris dan tidak memiliki hati nurani sebagai manusia, kasus terbaru pada masa pandemi. karena susah belajar online bocah SD tewas di tangan orangtuanya. Kasus ini baru saja terjadi di Lebak, seorang anak yang masih duduk di kelas 1 SD dianiaya Ibunya LH (26) hingga tewas. Dibantu oleh suaminya IS (27) yang tidak lain ayah sang bocah. Korban dianiaya di rumah kontrakannya di Kota Tangerang pada 26 Agustus sekitar pukul.09.00. (Detiknews.com, 20/9/2020)

Jika melihat tragedi tersebut, korban sedang mengikuti pembelajaran online. Namun, karena korban tidak serius mengikutinya membuat ibunya LH kesal dan menganiaya korban hingga akhirnya korban meregang nyawa. 

Satu kejadian ini menggambarkan ketidaksiapan pada peran ibu ketika dibebankan amanah untuk menjadi pendamping ketika melakukan proses belajar jarak jauh dengan menggunakan daring online. Bicara tentang daring online, seharusnya yang harus menjadi sorotan publik adalah bagaimana peran pemerintah mampu memastikan terjaminnya proses pembelajaran jarak jauh di rumah. Kurikulum dibuat sederhana dan mampu diterapkan di rumah. Ada jembatan komunikasi baik antara guru dan orangtua di dalam menyelenggarakan pembelajaran jarak jauh. Terpenuhinya aspek ekonomi di dalam keluarga menjadi hal yang penting agar semua berjalan dengan baik selama orangtua dibebankan ikut andil dalam daring online. Dan satu pemahaman yang harus dibangun oleh orangtua adalah bahwa sekolah tidak sepenuhnya menjadi tempat utama untuk mendidik anaknya menjadi terpelajar dan cerdas. Mainset yang harus ditanam dalam benak orangtua juga bahwa pendidikan bukan hanya sekadar angka-angka gemilang dalam sekolah, pemahaman inilah yang harus dibangun dalam gambaran seorang ibu bahwa keberhasilan anaknya bukan diukur dari nilai hasil pembelajaran. Tapi sejatinya bagaimana keilmuan yang didapati sang anak itu bermanfaat dan mampu diterapkan di dalam kehidupannya. 

Hal menarik lainnya adalah bentuk penyiksaan yang dilakukan ibu kepada sang anak. Ternyata sosok sang ibu mampu menunjukkan sisi lainnya. Selain sosok kelembutan, ibu juga ternyata mampu menjadi lebih kejam dari hewan. Bahkan di luar akal sehat, kita bisa melihat kenapa persoalan ini terjadi. Kemanakah nilai keimanan yang ada di dalam sosok ibu? Pola pikir yang terbentuk dalam pikirannya pun perlu dipertanyakan, bahkan menghalalkan sebuah keharaman dari Allah terhadap pembunuhan seorang hamba manusia.

Islam menjaga sesuai fitrah seorang Ibu, apa yang diturunkan oleh Allah Swt. adalah sesuatu yang baik. Termasuk jika bicara tentang ibu, maka Islam menjadikan ibu sebagai sosok mulia di hadapan Allah. Sehingga Islam memiliki seperangkat aturan yang khas mengatur tentang makhluk yang dinamakan sebagai perhiasan dunia. Jika ibu mendapatkan apa yang dibutuhkan, maka sudah pasti dia mampu melaksanakan semua kewajiban yang ada di pundaknya. Berbeda jauh dengan ibu yang bebannya sudah cukup berat. Saat sekarang ini kita bisa melihat seberapa banyak persoalan yang menimpa kaum ibu yang ujungnya berimbas pada kriminalitas. Ketika keimanan ada di dalam seorang ibu, maka rintangan apapun mampu diarunginya. Tidak hanya cukup keimanan saja, bekal ilmu, dekapan Islam dan Al-Qur'an harus senantiasa mewarnai dirinya. Refleksi kepribadiannya akan terlihat unik dan khas. Sungguh akan ada raut wajah kebahagiaan karena dia sudah mampu menghantarkan anaknya ke masa depan yang gemilang dan jalan yang di rida Allah.

Kita bisa melihat bagaimana tauladan ibunda terdahulu, Ummu Khansa sosok ibu yang mengantarkan keempat anaknya syahid dalam perang. Ibu Imam syafi’i, Ibunda Muhammad Alfatih, mereka semua adalah ibu-ibu terbaik yang berhasil mendidik anaknya menuju jalan yang diridai Allah Swt. Tanpa adanya bekal keimanan dan ilmu agama, maka sosok ibu hanya sebatas wanita biasa, tanpa ada kualitas yang mampu membentenginya dari perkara buruk dan kemungkaran yang dilarang oleh Allah. sehingga ketika ibu mendapat ujian, dia mampu menjalaninya dan mencari solusi terbaik dalam koridor hukum syara’. Bisa jadi bentuk ujian adalah sebuah jalan menuju akhirat untuk meraih surga Allah.

Wallahu a’lam bishshawab.

 
Top