Oleh : Ummu Najla

(Komunitas Ibu Peduli Generasi)


Heboh, aksi penusukan ulama marak terjadi kembali. Syeh Ali Jaber adalah salah satu korbannya. Aksi penusukan dilakukan secara terang-terangan oleh pemuda berinisial AA di Masjid Falahuddin, Bandar Lampung, Minggu (13/09/2020).

Miris, sebelumnya aksi serupa pun kerap terjadi. Pengurus Persis di Cigondewah, Bandung, Jawa Barat, H.R Prawoto meninggal dunia usai dianiaya oleh AM (45) tetangganya sendiri pada awal 2018 lalu. Di Lamongan, Jawa Timur, pelaku berinisial NT menyerang pengurus Ponpes Karangasem, bernama Kiai Hakam Mubarok pada Minggu (18/2/2018). Di Pekanbaru, Riau, pelaku berinisial IM menusuk Imam Masjid Al Falah Darul Muttaqin, ketika memimpin doa usai salat Isya berjemaah, Kamis (23/7/2020). (jatim.suara.com)

Ironisnya, Bermacam modus dan alibi digulirkan, tapi selalu meruncing pada satu kesimpulan bahwa pelakunya diduga mengalami gangguan jiwa. Namun anehnya, terjadi pola yang sama dalam setiap aksi tersebut. Lantas, apakah sebenarnya motif di balik aksi penusukan tersebut?  

Kapitalisme Menyuburkan Islamfobia

Janggal terasa ketika sebuah peristiwa penusukan ulama tak boleh disebut kriminalisasi apalagi dipolitisasi. Lebih-lebih tanpa ada penyelidikan serius, pelaku dinyatakan mengalami gangguan jiwa. Namun setelah santer opini publik menepis isu tersebut, segera pihak kepolisian meralatnya. Bahkan pemerintah sampai turun tangan mendinginkan suasana melalui perwakilan Menteri Pertahanan Mahfud MD dan Staff Kepresidenan Moeldoko. 

Seakan ada udang di balik batu. Sebuah kebetulan yang sangat tersistem. Tak ayal jika beragam spekulasi dan narasi muncul di tengah umat. Bahkan aksi yang memiliki pola yang sama tersebut sempat dihubungkan dengan kebangkitan PKI. 

Terlepas dari benar dan tidaknya sebuah narasi. Setidaknya ada sebuah kebenaran yang sangat kentara dalam sistem kapitalis. Sebuah sistem yang memuja kebebasan ini, sukses menghantarkan Islam dalam keterpurukan. Kebebasan berpendapat dan beragama yang diembannya, hanyalah sebuah isapan jempol belaka. Kebebasan itu justru menjadi alat untuk mendiskriditkan ajaran Islam. Bahkan ulama yang menjadi garda terdepan dalam mengemban dakwah Islam pun menjadi bual-bualan dan sasaran empuk penganut islamfobia. Padahal jelas ulama adalah warisatul anbiya, penerus perjuangan para nabi yang harus dimuliakan dan dilindungi. Bukan dizalimi apalagi dikriminalisasi.  

Dakwah Must Go On

Dakwah seakan di ujung tanduk, diserang di berbagai lini. Segala cara dihembuskan untuk menghalangi dakwah dan syiar Islam. Namun cahaya dan pertolongan Allah tak semakin redup. Justru sebaliknya, umat semakin cerdas memilah antara fakta dan rekayasa. Para ansharullah pun muncul di garda terdepan menolong dan melindungi dakwah ini. Maha benar Allah dengan segala firman-Nya:

“Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu daya) mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang kafir membencinya.” (QS. ash-Shaff : 7)

Dakwah adalah sebuah kelaziman dan keniscayaan yang harus terus berjalan. Tak peduli sebesar apapun aral melintang. Hingga tajamnya onak duri mencabik badan. Itu adalah sebuah sunnatullah dalam perjuangan. Karena dakwah adalah kewajiban bukan pilihan. Allah Swt. berfirman:

“Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.” (QS Ali Imran : 110)

Rasulullah saw. bersabda:

“Barangsiapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, hendaknya dia merubah dengan tangannya, kalau tidak bisa hendaknya merubah dengan lisannya, kalau tidak bisa maka dengan hatinya, dan yang demikian adalah selemah-lemah iman.” (HR. Muslim)

Allah bahkan memuji para pengemban dakwah karena senantiasa mengajak kepada kebaikan.

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: "Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?" (QS. Fussilat : 33)

Sebaliknya, ancaman Allah amat keras bagi orang-orang yang meninggalkan dakwah. Rasulullah saw. bersabda:

“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangannya, hendaknya kalian beramar makruf ‎dan nahi mungkar atau jika tidak ‎niscaya Allâh akan mengirimkan siksa-Nya dari ‎sisi-Nya kepada kalian, kemudian kalian memohon kepada-Nya, ‎namun do’a ‎kalian tidak lagi dikabulkan.” (HR. Al-Tirmidzi, Ahmad, al-Baihaqi)‎ ‎

Alhasil, sekeras apapun tantangan dalam dakwah ini, seyogyanya tak menyurutkan langkah pengemban dakwah menampaki jalan ini. Hingga tetes darah penghabisan dan hembusan nafas terakhir. Sampai Allah memberi kita kemenangan atau syahid di jalan-Nya.

Waalahu ‘alam bishshawab.

 
Top