Oleh : Anna Ummu Maryam

(Komunitas Literasi Peduli Negeri)


Menteri Agama Fachrul Razi terkonfirmasi positif Covid-19. Namun, saat ini kondisi fisik Fachrul dalam keadaan baik. Kabar ini disampaikan oleh Staf Khusus Menteri Agama Kevin Haikal.

"Pada 17 September, Menag melakukan tes swab dan hasilnya positif," ujar Kevin melalui keterangan tertulis yang diterima Senin (Kompas.Com, 21/9/2020).

Kian hari semakin banyak saja pejabat negara yang positif corona. Dari pejabat yang tinggal di ibukota  hingga daerah pun kian banyak saja.

Kasus demi kasus yang terjadi tentu semakin memunculkan sikap waspada dalam melakukan segala interaksi.

Tentu bukan tanpa alasan hal ini bisa terjadi, namun yang pasti peningkatan waspada harus selalu disadari untuk selalu mematuhi protokol kesehatan guna pencegahan terkontaminasi virus ini. Dalam peristiwa ini banyak komentar tokoh dan para intelektual mencoba menganalisa mengapa hal ini bisa terjadi. 

Di antaranya adalah Anggota Tim Ahli Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan Universitas Gajhah Mada Agus Heruanto Hadna menilai, sistem birokrasi yang berjalan saat ini masih dijalankan dengan pendekatan lama yang tidak sesuai dengan kondisi pandemi.

Pendekatan lama yang dimaksud yaitu masih banyaknya individu di kalangan pemerintahan yang enggan menerapkan protokol kesehatan secara ketat di instansi masing-masing. (Kompas.com, 20/9/2020)

Hal senada juga diungkapkan oleh Sekretaris Jenderal Lembaga Integrity Aceh, Masriadi Sambo, "Jangan pejabat mulutnya saja imbau protokol, dia sendiri dan kantornya buat acara ramai-ramai, kumpul-kumpul tanpa jaga jarak. Lalu posting lagi di media sosial. Bagaimana rakyat mau percaya bahwa corona itu nyata, pejabat yang ngomong begitu saja melanggar protokol kesehatan,” pungkasnya. (Anteroaceh.Com, 18/9/2020)

Bukan tanpa alasan ini disampaikan, karena pada faktanya masih banyak para pejabat yang belum sepenuhnya mengikuti protokol kesehatan terkait kunjungan dan kegiatan tertentu.

Kapitalis Biang Keladi

Inilah gambaran apa yang terjadi di tengah kita dalam beberapa bulan ini. Bahwa wabah Covid-19 kian meminta korban. Terlebih saat kita sebagai manusia tidak selalu waspada dan berada dalam ketidaksadaran akan bahaya yang mengintai kita.

Tak terkecuali para pejabat sekalipun, jika mereka tidak secara sadar melakukan pencegahan tentu hal ini akan terus memakan korban. Karena sejatinya orang yang sakit harus diketahui publik karena akan menjadi sebuah kewaspadaan akan interaksi. 

Hal ini juga karena akan cepat dilakukan pencegahan dan penanganan bagi yang positif corona. tujuannya adalah agar semua pihak bersama-sama dalam menjalankan protokol kesehatan. Jika ditelisik lebih jauh bahwa akar dari permasalahan yang semakin ruwet ini adalah pengaturan interaksi dalam berbagai hal.

Mengapa ini sangat penting untuk dibahas karena peraturan yang dikeluarkan sejatinya mengikat interaksi manusia. Sehingga manusia berjalan mengikuti peraturan tersebut.

Kita mengetahui bersama bahwa sistem yang mengatur interaksi manusia pada hari ini adalah sistem kapitalis sekuler dengan menjamin manusia untuk bebas dalam menentukan apapun tanpa melibatkan agama.

Jelas ini sebuah kekeliruan yang sangat mendasar. Karena memberikan peluang manusia dengan akalnya yang terbatas menentukan kebijakan publik tanpa mengambil aturan agama yang sudah komplit solusinya. Sehingga peraturan tidak menjadi konkret, tapi ajang coba-coba dalam menyesuaikan kondisi.

Sehingga wajar jika kita dapati bahwa sebuah kebijakan berubah-ubah dan disesuaikan siapa yang berkuasa. Wewenang dan pengaruh berada pada siapa yang paling berkuasa atas sesuatu. 

Dalam sistem kapitalis ini pula kita akan dapati bahwa kebijakan bukan berpijak  dan berpihak demi kemaslahatan orang banyak atau masyarakat saja tapi demi segelintir kepentingannya para kapital. Yang sejatinya para kapital lah yang diuntungkan dalam setiap kebijakan.

Maka jika tetap aturan kapitalis liberal sekuler yang menjadi peraturan, maka kita akan terus mendapati ucapan tak sesuai perbuatan dan terus akan berubah sesuai keinginan, keuntungan dan kondisi bukan demi rakyat banyak.

Kembali pada Islam

Islam adalah agama yang hadir di tengah manusia sebagai panduan akan ibadah dan segala interaksi manusia. Hal tersebut diatur dalam syariat Islam yang sejatinya menyelesaikan masalah manusia tanpa masalah yang baru.

Begitulah Islam memberikan solusi dan bagi setiap umat muslim mengikutinya adalah konsekuensi dari keimanannya sendiri. Artinya jika ada muslim yang merasa berat apalagi takut menjalankan syariat Islam itu menandakan orang tersebut belum mengenal Islam secara sempurna.

Maka ada beberapa hal yang harus kita pahami :

Pertama, mengembalikan segala urusan manusia kepada aturan Allah Swt. atau syariat Islam itu sendiri. Karena Allah Swt. telah meridai Islam sebagai pedoman manusia dalam mengarungi kehidupan.

إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ ۗ وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ إِلَّا مِن بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ ۗ وَمَن يَكْفُرْ بِآيَاتِ اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ

“Sesungguhnya agama di sisi Allah ialah Islam. Tidaklah berselisih orang-orang yang telah diberi Al-Kitab, kecuali setelah mereka memperoleh ilmu, karena kedengkian di antara mereka. Barangsiapa yang ingkar terhadap ayat-ayat Allah, maka sesungguhnya Allah sangat cepat perhitungan-Nya.” (QS. Ali ‘Imran : 19)

Maka sudah sepantasnya setiap aparatur negara serta masyarakat menjadikan aturan Allah Swt. adalah satu-satunya rujukan dalam melakukan segala hal dan menyelesaikan masalah mereka.

Jangan pernah kita merasa bahwa akal kita mampu melampaui solusi yang diberikan oleh Allah Swt. 

Padahal sejatinya dalam setiap solusi yang diberikan adanya sebuah jaminan keadilan dan kebaikan bagi seluruh makhluk.

Maka jika kita mengabaikannya, menandakan kita merasa lebih hebat dan solutif dalam memberikan solusi dibandingkan dengan solusi yang berasal dari Sang Pencipta yaitu Allah Swt.

أَفَغَيْرَ دِينِ اللَّهِ يَبْغُونَ وَلَهُ أَسْلَمَ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ طَوْعًا وَكَرْهًا وَإِلَيْهِ يُرْجَعُونَ

“Maka mengapa mereka mencari agama yang lain selain agama Allah, padahal apa yang ada di langit dan di bumi berserah diri kepada-Nya, (baik) dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada-Nya lah mereka dikembalikan?” (QS. Ali ‘Imran : 83)

Kedua, kepedulian dan bersifat terbuka demi kemaslahatan masyarakat adalah hal yang utama guna melakukan pencegahan penyebaran wabah corona ini. Karena sejatinya setiap orang yang dipilih oleh rakyat memikul amanah yang besar.

Maka sudah sepatutnya menjadi contoh dalam memutuskan penyebaran Covid-19 ini. Dan saling bekerjasama dalam menanggulanginya. Bukan malah takut untuk mengungkapkan kebenaran bahwa ia positif. 

Mengingat hal ini akan berefek pada terjangkitnya orang lain karena ketidaktahuannya akan virus corona ini. Dan agar lebih cepat penanggulangannya.

Ketiga, pemerintah beserta aparatur negara secara serius memikirkan cara untuk menjalankan segala administrasi dan interaksi dengan betul-betul mengikuti protokol kesehatan atau langkah lain yang efektif, namun tetap mudah dalam mengaksesnya bagi seluruh rakyat. 

Keempat, senantiasa secara terus-menerus memberikan edukasi dalam meminimalisir jumlah korban dengan terbukanya akses untuk mengetahui bentuk isolasi dan siapa saja yang telah dinyatakan positif yang kini dalam perawatan.

Wallahu a'lam bishshawab.

 
Top