Oleh : Tati Ristianti
Komunitas Ibu Peduli Generasi

"Pemuda adalah pemimpin masa depan." Jika istilah tersebut dipahami betul apa yang terkandung didalamnya dapat ditarik kesimpulan bahwa pemuda-pemudi adalah generasi penerus perjuangan. Mereka menjadi harapan umat karena kelak akan menjadi pemimpin. Namun, mengharapkan hal itu hanya akan menjadi angan-angan saja.

Seperti yang dikatakan oleh Pembina Majelis Silaturahmi Pesantren (Masantren), Ruhiat Nugraha mengatakan, "Peran pesantren dalam perjuangan tidak bisa diremehkan. Bahkan jauh sebelum Indonesia merdeka, perjuangan rakyat banyak dipelopori dari pondok pesantren. Salah satu contohnya resolusi jihad yang gaungnya bersumber dari pondok pesantren dan kiai di nusantara. Pondok pesantren memiliki peran penting dalam sejarah. Bahkan Pancasila lahir dari pemikiran kiai dan ulama. Namun selama 75 tahun Indonesia merdeka, pesantren seolah dilupakan. Jasa-jasanya nyaris hilang karena dilupakan. Bahkan akhir-akhir ini, pesantren malah banyak mendapat cap sebagai pusat radikalisme, terorisme, dan anti pancasila. Bahkan keberadaannya justru masih kurang perhatian dari pemerintah selama ini, perhatian pemerintah kepada pondok pesantren juga jauh dari harapan." (Ayobandung.com)

Sementara itu, pemerintah provinsi Jawa Barat siap mendorong sumber ekonomi pesantren dengan mengangkat potensi kewilayahan dari masing-masing pesantren. Wakil Gubernur Jawa Barat, Uu Ruzhanul Ulum mengatakan kepada para kiai untuk mengubah wawasan dan jangan hanya berpikir untuk membangun madrasah, asrama, dan masjid, tetapi harus memikirkan perekonomian pondok pesantren.

Siapa pun harus mengubah paradigma, jangan hanya mengenai bangunan yang dipikirkan, tapi ekonomi juga mesti dipikirkan. Pihaknya harus berupaya untuk melakukan pelatihan kepada para santri dan masyarakat sekitar pesantren guna mendorong lahirnya pesantren mandiri dan juara.

"Intinya, pondok pesantren yang ada disini bukan hanya memberikan ilmu agama, tetapi ekonomi pun ada sehingga pesantren menjadi multiguna," katanya, Minggu (16/8) (Tribunjabar.id)

Apapun dorongannya jika yang menjadi dasarnya ialah paradigma sistem pendidikan yang berkiblat pada sekuler, tak heran kalau umat Islam terkecoh dan menganggap bahwa ilmu sosial politik dan ekonomi liberal akan membawa kebangkitan dan kemajuan.

Nampak jelas di sana bahwa apa yang disampaikan agar para kiai untuk mengubah wawasan agar mendorong santrinya ke arah perekonomian agar menjadi pesantren mandiri dan juara. Bila ditelaah secara mendalam dan menyeluruh, dorongan semacam itu mengandung paradigma yang sama yaitu menitikberatkan pada pandangan berbahaya kapitalisme bahwa pendidikan adalah sebagai sarana komoditas ekonomi untuk dikomersialkan.

Seperti halnya program desa mandiri, program tersebut hanya menjadi kamuflase peran negara yang semakin berkurang dalam mengurus warganya. Masyarakat dibiarkan untuk mengurus dirinya sendiri atas nama 'kemandirian' padahal semua itu  agar pemerintah berlepas tangan dari pengurusan terhadap pemenuhan hajat hidup rakyat.

Secara sempit dapat dipahami bahwa dalam kapitalisme masyarakatnya hanya sebatas mendapat pekerjaan dan profesi tertentu agar meraih kemapanan finansial. Nilai-nilai sekular-kapitalis hanya mendidik individu agar memiliki kemampuan dan memperoleh profesi. Hal itu dianggap sebagai capaian puncak kesuksesan individu, akan tetapi miskin moral dan integritas akhlak.

Nampak jelas banyak generasi muda rentan terjebak pada persoalan mental dan penyakit sosial sepeti narkoba, pergaulan bebas, dan seks bebas sesama jenis. Kondisi ini jelas sangat jauh dari kemajuan generasi muda sebagai bagian dari masyarakat yang bermartabat

Sementara itu, Islam ditegakkan di atas lima sistem diantaranya yaitu ada sistem pendidikan yang mana dalam rangka meraih kebangkitan, kemuliaan, dan kebesaran umat tentu sangat diperhatikan oleh khalifah dan mencurahkan perhatiannya pada aspek pendidikan yang berlandaskan pada akidah Islam sebagai sebuah metode pendidikan, baik dalam aspek mata pelajaran maupun pembelajarannya.

Negara yang menerapkan syari'ah Islam bertujuan untuk melahirkan SDM yang unggul dan mampu berpikir cemerlang sehingga dapat menuntaskan segala problematika di samping kemajuan sains dan teknologi yang membersamainya.

Tinta emas sejarah peradaban Islam membuktikan pada dunia bahwa Khilafah adalah satu-satunya modal yang akan menyejahterakan seluruh umat manusia.

Wallahu a'lam bishshawab.
 
Top