Oleh : Azizah Nur Hidayah

(Homeschooler, Author, dan Member Akademi Menulis Kreatif)


Beberapa waktu lalu terjadi kerusuhan besar di ibukota Oslo, Norwegia. Kerusuhan ini diketahui terjadi akibat adanya demo anti-Islam yang dipelopori oleh kelompok Stop Islamization of Norway (SIAN). Tidak hanya berdemo anti-Islam, beberapa demonstran juga ikut merobek serta membakar kitab suci umat Islam, yaitu Al-Qur'an.

Menanggapi kekacauan yang terjadi di negaranya, Perdana Menteri Norwegia, ErnaSolberg, mengeluarkan sebuah pernyataan yang mengagetkan. Dia menganggap bahwapembakaran Al-Qur'an yang terjadi di kota Oslo sebagai bentuk dari kebebasan berekspresi.(pikiranrakyat.com, 02/09/2020)

Peristiwa pembakaran Al-Qur’an yang terjadi di Norwegia dan tanggapan yang dilontarkan oleh Solberg tersebut tentu mengejutkan berbagai pihak. Eropa yang dikenaldengan kebebasan berekspresinya ternyata selama ini hanya menjadikan Islam sebagai bulan-bulanan. Kebebasan berekspresi bagi mereka adalah kebebasan melecehkan agamaIslam. Adapun kebebasan pada aspek lainnya tidak dibebaskan begitu saja layaknya kebebasan melecehkan Islam.

Pelecehan Al-Qur’an Kembali Berulang

Peristiwa pembakaran Al-Qur’an sejatinya tidak terjadi satu kali ini saja, tetapi sudah berkali-kali terjadi. Sebelumnya, pembakaran Al-Qur’an juga terjadi di Swedia. Kerusuhan di Swedia terjadi setelah seorang politikus asal Denmark, Rasmus Paludan, yang dikenal anti-Muslim dilarang untuk menghadiri aksi pembakaran Al-Qur'an di Swedia. Ada sekitar 300 orang turun ke jalanan wilayah Malmo melemparkan batu ke arah polisi dan membakar ban pada Jumat (28/8). (detik.com, 04/09/2020)

Pemerintah Turki bahkan mengutuk keras aksi pembakaran Al-Qur’an di Swedia tersebut yang berujung pada demonstrasi rusuh. Dilansir dari Anadolu Agency, Minggu (30/8/2020) melalui Kementerian Luar Negerinya, pemerintah Turki menyampaikan kecaman pada aksi tersebut. Turki juga mengecam Rasmus Paludan, politisi anti-Islam yang disebut sebagai provokator aksi ini.

"Kami mengutuk keras provokasi mengerikan yang dilakukan oleh seorang politisi Islamofobia dan rasis serta pengikutnya yang datang ke Denmark dari kota Malmo, Swedia," kata Kementerian Luar Negeri Turki dalam sebuah pernyataan. (detik.com, 31/08/2020)

Ilusi Kebebasan dalam Demokrasi

Peristiwa pembakaran Al-Qur’an di Norwegia, yang dikatakan sebagai bentuk kebebasan berekspresi, merupakan pelecehan terhadap Al-Qur’an. Pelecehan terhadap Al-Qur’an di negara-negara Skandinavia ini telah membuktikan kemunafikan demokrasi.

Kebebasan yang diperjuangkan dan digaungkan nyatanya adalah ilusi. Pluralisme dan toleransi dalam demokrasi hanyalah omong kosong belaka.

Pelecehan terhadap Islam, kaum muslim, serta Al-Qur’an yang terus terjadi membuktikan tak terbantahkannya fenomena islamofobia, terutama di daratan Eropa. Ketakutan, kebencian, serta prasangka buruk orang-orang Barat terhadap Islam mengakibatkan banyaknya diskriminasi yang terjadi. Diskriminasi terhadap Islam tidak pernah berhenti hingga detik ini. Sebaliknya, diskriminasi tersebut hari demi hari semakin digencarkan. Para aktivis anti-Islam dan orang-orang Barat lainnya secara terang-terangan melakukan diskriminasi terhadap Islam dan ajarannya. Mereka tidak malu dan ragu untuk menyerang Islam dan umat muslim.

Pada tahun 2017 lalu, survei European Union Agency for Fundamental Rights (FRA) menyingkap bahwa diskriminasi terhadap Muslim di Eropa meningkat dalam sepuluh tahun terakhir. Sebagian besar responden juga menuturkan pernah mengalami perlakuan tidak adil selama 5 tahun terakhir, sebelum survei ini dilakukan. Mereka merasa perlakuan diskriminatif itu diakibatkan oleh nama, warna kulit, atau penampilan mereka.

Hasil survei yang dilakukan selama akhir 2015 hingga 2016 lalu itu memaparkan 40 persen atau dua dari lima Muslim di Eropa mengalami perlakuan tidak adil saat mencari pekerjaan dan mengakses layanan publik lainnya, seperti kesehatan dan pendidikan. (cnnindonesia, 22/09/2020)

Kebencian terhadap Islam ternyata merupakan tabiat orang-orang kafir Barat. Hal ini dapat dilihat dari firman Allah Swt., yang artinya:

“…mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudaratan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.” (TQS. Ali-Imran [03] : 118)

Awal Mula Fenomena Islamofobia

Islamofobia yang mendarah daging di tubuh orang-orang Barat tentu bukan tanpa alasan. Fenomena ini bermula dari tragedi penyerangan World Trade Center (WTC) di New York pada sembilan Agustus 2001 lalu. Menara kembar WTC ditabrak oleh pesawat yang diduga dibajak oleh kelompok ekstremis Islam.

Penyerangan WTC yang diduga digawangi oleh beberapa “teroris” dari Arab ini menjadi titik mula fenomena Islamofobia. Sejak peristiwa ini, kaum muslim dicap sebagai kaum ekstremis, teroris, radikal, dan berbagai cap-cap negatif lainnya. 

Islam dan ajarannya ditentang habis-habisan. Dikecam dan diancam bila menunjukkan identitasnya. Para muslimah pun dilarang mengenakan hijab-hijab mereka. Al-Qur’an yang merupakan kitab suci umat Islam dilecehkan tiada henti.

Fenomena islamofobia ini lambat laun menyebar ke seluruh dunia. Tak terkecuali Eropa yang merupakan salah satu wilayah bagian Barat. Adanya rasa dendam selama berabad-abad terhadap Islam, yang dulu menaklukkan daratan Eropa, menjadikan mereka orang-orang Barat Eropa ketakutan. Mereka sangat takut dan cemas apabila kejadian di masa lampau terulang kembali. Yakni daratan Eropa diduduki dan ditinggali oleh kaum muslimin.

Penaklukan Andalusia oleh Thariq bin Ziyad dan berbagai futuhat di negeri-negeri Eropa lainnya berhasil memukul telak orang-orang Barat. Futuhat yang dilakukan umat muslim berhasil menarik rakyat Eropa untuk memeluk agama Islam. Maka tak heran bila kini hal yang sama pun terjadi. Barat ketakutan sejarah akan terulang kembali. Ditambah saat ini, banyak imigran yang berasal dari Timur Tengah dan negeri-negeri muslim lainnya datang ke Eropa. Dengan jalan islamofobia inilah Barat berharap dapat memukul mundur Islam dan umat muslim. Menyudutkan Islam, ajarannya, dan kaum muslim menjadi jalan cepat bagi mereka untuk menghentikan penyebaran Islam di sana.

Khilafah Islamiyyah sebagai Junnah

Peristiwa islamofobia yang tak pernah ada ujungnya ini menjadi cermin betapa lemahnya Islam, ajaran Islam, dan kaum muslim tanpa kehadiran Khilafah Islamiyyah sebagai junnah (perisai). Dahulu, ketika Khilafah Islamiyyah berdiri kokoh menaungi dua per tiga dunia, kehormatan serta kemuliaan Islam terlindungi dan terjaga. Jika ada satu orang yang ingin mengusik atau melecehkan Islam, ajaran Islam, atau umat muslim, negara akan membela dengan pembelaan yang paripurna.

Hal ini dapat dilihat dari kisah yang terjadi pada tahun 833 Masehi lalu. Khalifah Islam, al-Mu’tasim Billah, menyahut seruan seorang budak muslimah dari Bani Hasyim yang sedang berbelanja di pasar yang meminta pertolongan karena diganggu dan dilecehkan oleh orang Romawi. Kainnya dikaitkan ke paku sehingga ketika berdiri, terlihatlah sebagian auratnya. Setelah mendapat laporan mengenai pelecehan ini, Khalifah pun menurunkan puluhan ribu pasukan untuk menyerbu kota Ammuriah (Turki). Pasukan yang diturunkan oleh Khalifah panjangnya tak terputus dari gerbang Istana Khalifah di Kota Baghdad hingga kota Ammuriah. Setelah dikepung selama lima bulan, Ammuriah ditaklukkan, dan memakan korban 30.000 prajurit Romawi terbunuh dan 30.000 ditawan.

Hanya untuk melindungi kehormatan satu orang muslimah, Daulah Islam menurunkan puluhan pasukan yang tak pernah dibayangkan sebelumnya. Hanya satu orang muslimah yang diganggu dan dilecehkan, Daulah tidak akan main-main membelanya. Karena di dalam Islam, kehormatan dan kemuliaan Islam beserta kaum muslim adalah yang terpenting dan utama. Kemuliaan Islam dan ajaran yang ada di dalamnya dijunjung tinggi, kehormatan pemeluknya dilindungi langsung oleh negara.

Pembelaan seperti ini tidak akan pernah didapatkan dalam kebobrokan sekuler-demokrasi hari ini. Pembelaan hakiki terhadap agama Allah ini hanya akan didapatkan ketika Khilafah Islamiyyah ditegakkan. Dengan adanya Khilafah Islamiyyah sebagai perisai, tidak akan ada lagi yang berani menodai, melecehkan, dan mempermainkan Islam.

“Sesungguhnya al-Imam (Khalifah) itu perisai, di mana (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan) nya.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dawud, dll.)

Wallahu a’lam bishshawaab

 
Top