Oleh: Waris Hartini
Allah  Swt sangat mencintai hamba-Nya, itu sebabnya Allah menganugerahkan naluri mencintai dunia dan akhirat. Saat keduanya dihadapkan untuk dipilih, maka yang dipilih itulah yang lebih dicintai. Cinta itu sudah ada sejak manusia lahir, dan itu melekat pada diri manusia. itu yang disebut dengan naluri.
Naluri pada diri manusia sendiri dibagi menjadi tiga.
Pertama baluri mempertahankan diri,  (Gharizah baqa'), jika kita merasa terancam, atau merasa dirugikan oleh orang lain, maka disitu kita akan timbul naluri untuk membalas hal yang sama. Itulah hal yang alamiah terjadi pada diri manusia ketika manusia merasa terusik atau terganggu. Right?
Kedua adalah baluri berkasih sayang  (Gahrizah  nau').

Naluri ini berhubungan langsung dengan kecintaan kita terhadap dunia, tetapi sejatinya naluri berkasih sayang ini akan timbul ketika kita mengagumi seseorang, misalkan kita kagum dengan kehebatan seseorang di situlah timbul naluri  untuk menyayangi atau memberi kasih sayang.
Ketiga baluri  bergama (Gharizah taddayyun). Ini berkaitan dengan pengkultusan terhadap sesuatu Nyang dianggap  lebih  kuat, lebih hebat daripada manusia. yang pada diri manusia yaitu beragama atau menyembah sesuatu . Naluri ini Tidka bis dihilangkan sekalipun orang tersebut menolak agama. Hal inilah yang menyebabkan mengapa orang atheis itu dikatakan tidak mempunyai tuhan tapi dia itu mempunyai kepercayaan untuk menyembah sesuatu. Inilah bukti bahwasanya naluri itu ada pada diri setiap manusia
Tujuan hidup seorang muslim adalah akhirat, bukan dunia dengan cara tawakal dalam Islam. Akhirat (surga) merupakan puncak cita cita seorang Muslim. Orang yang beriman dan berakal memandang dunia dan akhirat dengan sudut pandang yang benar.
Cinta seseorang kepada akhirat tidak akan sempurna kecuali dengan bersikap zuhud terhadap dunia dan melakukan cara agar sukses dunia akhirat menurut Islam. Sementara, zuhud terhadap dunia tidak akan terealisasi melainkan setelah ia memandang kedua hal ini dengan sudut pandang yang benar.
Dunia adalah tempat kesedihan, bukan tempat kebahagiaan. Dunia tak ubahnya seperti awan pada musim kemarau yang membumbung di langit namun hanya sebentar lalu menghilang. Dunia seperti khayalan atau mimpi sesaat yang belum juga kita puas menikmatinya, tiba tiba diumumkan untuk berangkat menuju tempat tujuan.
Jika bepergian ke suatu tempat maka kita perlu petunjuk arah, kann? Misalkan di era modern saat ini kita perlu maps(peta) untuk pergi ke suatu tempat agar tidak nyasar. Itu jika ke suatu tempat yang belum pernah kita datangi.
Jadi kita pertama yang harus kita lakukan untuk tidak berarus dalam kehidupan dunia, yaitu kita harus menemukan arah kehidupan. Ibarat jika mau bepergian ke suatu tempat, Apakah kita perlu petunjuk arah? Perlukah kita mengetahui peta lokasi yang akan kita datangi? Apa yang akan terjadi jika orang yang berpergian tidak memiliki petunjuk arah dan tidak memahami peta lokasi yang akan ditempuh?
Jika kita pernah mendatangi tempat itu sebelumnya , berarti kita sudah pernah mengetahui denah lokasinya. Hal yang akan terjadi jika kita berpergian tapi tidak mempunyai petunjuk arah kita akan tersesat. Lalu bagaimana dengan hidup tanpa petunjuk? Padahal hidup terus berjalan.
Perhatikanlah sang waktu itu terus berjalan. Waktu terus berputar itu artinya usia kita berkurang jatahnya bukan ulang tahun tapi hilang tahun.
Bumi terus berputar, perubahan demi perubahan itu terjadi, mulai dari gejala sosial yang mengalami perubahan. namun kita hanya bisa menyaksikan perubahan tanpa ikut andil di dalamnya.
Kehidupan pun terus berjalan, masing-masing orang akan menuju ke sebuah arah tujuan tertentu. Lalu kita memilih menuju ke arah mana? Memilih untuk menjadi apa dan siapa?
Perhatikanlah kehidupan di sungai, kita punya pilihan untuk diam seperti batu, menyaksikan perubahan yang ada di sekitar kita. Kita bisa memilih hancur seperti daun, yang mengikuti kemana arus air mengalir.
Kita juga bisa memilih untuk melawan arus seperti ikan , walaupun ikan sekecil apapun dia bisa melawan arus. Jadi kita pilih yang mana?
Hidup penuh pilihan, tetapi setiap pilihan pasti ada konsekuensinya yang itu akan menentukan tujuan akhir kita. Masa depan kehidupan akhirat kita sangat tergantung pilihan kita ketika di dunia. Allah telah memberikan atau menunjukkan pada kita dua pilihan jalan yang mana yang harus kita pilih, surga atau neraka.
Allah menciptakan manusia dengan sebaik-baiknya bentuk kita dapat menentukan derajat diri kita dapat melebihi malaikat sekalipun jika kita bertaqwa kepada Allah Namun kita bisa lebih hina dari hewan ternak apabila tidak beribadah kepada Allah.
 Lalu jejak kebaikan apa yang telah kita tinggalkan?
 Belum ada yang terlambat jika para sahabat adalah manusia maka itu artinya kita pun bisa meninggalkan jejak seperti yang ditinggalkan para sahabat Rasullullah.
Sebagaimana orang-orang sebelum kita, yakni para sahabat juga sudah mengemban misi dakwah Islam. Mereka membawa label atau meniggalkan jejak/tanda kehidupan sendiri-sendiri. Mulai sekarang berpikirlah, Jejak Apa yang akan kita tinggalkan, sehingga kita masih hidup dikenal sebagai baik atau buruk, dan ketika mati dikenang sebagai yang baik ataupun yang buruk.
Dimulai dari mana? 
Dimulai dari mana kita membekali ilmu diri kita.
Apa yang kita pelajari hari ini? Itu lah yang akan menentukan masa depan kita.
Jadi sekarang kita sudah tahu, jika ingin menjejakkan bekas di bumi ini menjadi apa dan siapa, maka ilmu itulah yang harus dipelajari dan yang tidak boleh ditinggalkan bahwa bekali diri dulu dengan tsaqafah Islam.
 Ilmu itu ada dua Ilmu dunia atau skill dan ilmu akhirat atau tsaqafah dan kita harus belajar dua-duanya posisinya sama-sama wajib.
Jadi kita sebagai remaja muslimah atau sebagai lokomotif perubahan, memang harus belajarnya benar-benar ekstra ditingkatkan, tidak boleh menjadi generasi pembebek yang suka latah ikut-ikutan.
Wallahu a'lam bishawab.
 
Top