Oleh: Oom Rohmawati

Ibu rumah tangga


Gaung Khilafah yang dirindukan semakin menggema diberbagai negara, semua membicarakan tentang Khilafah. Hal ini membuat para penguasa dalam sistem sekuler gelisah, mereka pun berupaya terus membendung geliat para pejuangnya. Baik menggagalkan setiap agenda perjuangan Khilafah ataupun dengan menangkap dan memenjarakan para aktivisnya. Karena kembalinya Khilafah merupakan ancaman bagi sekularisme, Barat dan musuh-musuh Islam. 


Namun penghadangan dari musuh tidak membuat para pejuang mundur, mereka yakin Khilafah akan tegak, kemenangan Islam itu pasti.  Rasulullah Saw telah mengabarkan kepada umat Islam tentang kembalinya Khilafah.


_"Di tengah-tengah kalian terdapat zaman kenabian, atas izin Allah ia tetap ada. Lalu, Dia akan mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada Khilafah yang mengikuti minhaj kenabian. Ia ada dan atas izin Allah ia akan tetap ada. Lalu Dia akan mengangkatnya jika Dia berkendak mengangkatnya. Kemudian akan ada kekuasaan yang zalim; ia tetap ada. Lalu Dia akan mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada kekuasaan yang menyengsarakan; ia juga ada dan atas izin Allah akan tetap ada. Selanjutnya akan ada kembali Khilafah yang mengikuti minhaj kenabian.”_(HR Ahmad dalam Musnad-nya (no.18430), Abu Dawud al-Thayalisi dalam Musnad-nya (no.439); Al-Bazzar dalam Sunan-nya (no. 2796))


Khilafah(sistem pemerintahan Islam) yang akan menjadi perisai bagi umat Islam, menjaga kemuliaan kaum muslimin dan melindungi mereka dari marabahaya. Hal itu terbukti pada masa Rasulullah Saw, yang dilanjutkan oleh para sahabat nabi pada masa Khulafaur Rasyidin, kemudian dilanjutkan lagi oleh Khilafah Umayah, Khilafah 'Abbasiyah dan khilafah Utsmaniyah. Sepanjang sejarah Khilafah terus menjadi pelindung dan menjaga kemuliaan Islam, pelaksanaan hukum-hukumnya dan kemurnian ajarannya. Ini terus berlangsung sepanjang eksistensi kekuasaan Islam selama 13 abad.


Pembelaan terhadap kehormatan dan darah kaum muslimin terus dilakukan oleh para penguasa muslim sepanjang sejarah. Ibnu Hisyam dalam Sirah-nya menceritakan, ketika seorang pedagang muslim yang dibunuh beramai-ramai oleh kaum Yahudi Bani Qainuqa, karena membela kehormatan seorang muslimah yang disingkap pakaiannya oleh pedagang Yahudi, Rasulullah saw. segera mengirim pasukan kaum muslim untuk memerangi mereka dan mengusir mereka dari Madinah setelah mengepung perkampungan mereka selama 15 malam (Sirah Ibnu Hisyam, 3/9-11). Al-Qalqasyandi dalam kitabnya, Ma’atsir al-Inafah fî Ma’âlim al-Khilâfah, menjelaskan sebab penaklukan Kota Amuriyah pada tanggal 17 Ramadan 223 H.


Diceritakan bahwa penguasa Amuriyah, salah seorang raja Romawi, telah menawan wanita mulia keturunan Fathimah ra. Wanita itu disiksa dan dinistakan hingga berteriak dan menjerit meminta pertolongan. Berikutnya, seperti dikisahkan oleh Ibnu Khalikan dalam Wafiyatu al-A’yân, dan Ibnu al-Atsir dalam al-Kâmil fî at-Târîkh, saat berita penawanan wanita mulia itu sampai kepada Khalifah Al-Mu’tashim Billah, ia segera mengerahkan sekaligus memimpin sendiri puluhan ribu pasukan kaum muslim menuju Kota Amuriyah hingga berhasil membebaskan wanita mulia itu dan Kota Amuriyah itu pun ditaklukkan.


Dalam hal keamanan. Khilafah Utsmaniyah berperan penting memberikan rasa aman bagi perjalanan para jamaah haji dengan menempatkan armada laut di laut Hindia. Khilafah Utsmaniyah juga mengirim bantuan personel pasukan termasuk ahli teknik dan senjata, berikut senjatanya, meriam dan kapal yang dipimpin laksamana Kurtoglu Hizir Reis ke Kesultanan Aceh untuk bersama-sama melawan dan mengalahkan penjajah Portugis.


Itu di antara beberapa fakta sejarah ketika sistem pemerintahan Islam diterapkan. Sungguh sangat berbeda dengan kondisi umat Islam saat ini. Tak sedikit umat Islam yang diusir, disiksa bahkan dibunuh di berbagai tempat. Di Rogingya, Uiguhur, Suriah, Palestina, beberapa bagian Afrika, dan lainnya. Kehormatan pelecehan dan kekerasan terhadap wanita dan anak kecil terjadi di mana-mana. Namun, tidak ada yang membela dan melindungi mereka. Semua itu akibat telah hilangnya kekuasaan Islam. 


Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahîh Muslim menjelaskan bahwa Imam (Khalifah) adalah junnah (perisai), yakni seperti penghalang. Ia berfungsi menghalangi musuh menyerang kaum muslim, menghalangi sebagian masyarakat menyerang sebagian yang lain, melindungi kemurnian Islam dan orang-orang berlindung kepadanya.


Jelas, umat saat ini memerlukan kehadiran kembali kekuasaan Islam, yakni Khilafah, yang akan kembali menjaga dan melindungi mereka. Bukan hanya kebutuhan umat, menegakkan Khilafah merupakan kewajiban atas mereka.


Al-Imam al-Hafidz Abu Zakaria an-Nawawi asy-Syafii berkata, _“Umat Islam wajib memiliki seorang imam (khalifah) yang menegakkan agama, menolong Sunnah, menyelamatkan orang yang dizalimi, menunaikan hak dan menempatkan hal tersebut pada tempatnya. Saya menyatakan, menegakkan Imamah (Khilafah) adalah fardhu kifayah.”_(An-Nawawi, Rawdhah ath-Thâlibîn wa Umdah al-Muftin (III/433).



“ _Sungguh para Sahabat telah berijmak bahwa mengangkat seorang imam (khalifah) setelah zaman kenabian adalah wajib. Bahkan mereka menjadikan kewajiban ini sebagai kewajiban paling penting_ (ahammi al-wâjibât).” Imam al-Ghazali di dalam al-Mustashfâ (1/14) menegaskan bahwa Ijmak Sahabat itu tidak bisa di-naskh (dihapuskan/dibatalkan). Apalagi dibatalkan oleh kesepakatan orang zaman sekarang jika pun kesepakatan itu ada. 


Dengan adanya Khilafah, Islam sebagai rahmatan lil'alaamiin akan dirasakan tidak hanya oleh umat Islam tapi oleh seluruh manusia bahkan alam semesta. Sebagaimana diutusnya Rasulullah Saw oleh Allah Swt. dengan membawa risalah Islam untuk menjadi rahmatan lil'alamiin(TQS: al-Ambiya'[21]:107). Rahmatan lil'alamiin akan terwujud dalam ragam kemaslahatan dan terhalanginya berbagai kemafsadatan. Ini akan terwujud manakala syariat Islam diterapkan secara menyeluruh dan total. Penerapan syariah Islam secara menyeluruh jelas membutuhkan kekuasaan. Karena itu Rasulullah Saw diperintahkan untuk meminta kekuasaan kepada Allah Swt.


Katakanlah  (Muhammad), _“Tuhanku, masukkanlah aku dengan cara masuk yang benar dan keluarkanlah aku dengan cara keluar yang benar serta berikanlah kepada diriku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong.”_ (TQS al-Isra’ [17]: 80).


Imam Ibnu Katsir, mengutip Qatadah, menyatakan, dalam ayat ini jelas Rasul saw. menyadari bahwa tidak ada kemampuan bagi beliau duntuk menegakkan agama ini kecuali dengan kekuasaan. Karena itulah beliau memohon kepada Allah kekuasaan yang bisa menolong, yakni untuk menerapkan Kitabullah, memberlakukan hudûd Allah, melaksanakan ragam kewajiban dari Allah dan menegakkan agama Allah… (Tafsîr Ibn Katsîr, 5/111).


Islam memang tidak bisa dilepaskan dari kekuasaan. Khalifah Umar bin Abdul Aziz pernah mengirim surat kepada salah seorang amil-nya. Di dalam surat tersebut antara lain beliau mengungkapkan:


 _"Agama dan kekuasaan itu ibarat dua saudara kembar. Tidak cukup salah satunya tanpa didukung oleh yang lain_ " (Abdul Hayyi al-Kattani, Tarâtib al-Idâriyah [Nizhâm al-Hukûmah an-Nabawiyyah], 1/395).


Jadi untuk menerapkan Islam secara total dan menyeluruh diperlukan kekuasaan. Kekuasaan harus dibangun berlandaskan Islam sekaligus dikhidmatkan untuk Islam, menerapkan Islam, menjaga Islam dan mengemban Islam ke seluruh manusia. Inilah fakta yang terjadi sepanjang sejarah umat.


Saat ini, menjadi tanggung jawab umat Islam untuk mewujudkan bisyarah nubuwwah yang dikabarkan Nabi lewat hadis di atas. Dan menjadi tanggung jawab umat Islam untuk terus meningkatkan kesadaran politiknya, guna meraih kembali kejayaan Islam dalam naungan Khilafah. 


 _Wallahu 'alam bish-shawwab_

 
Top