Oleh : Farida Nur Rahma, M.Pd.
Dosen Komunikasi dan Penyiaran Islam STIBA Ar-Raayah

“Semua yang ingin pergi akan diangkut, besar dan kecil. Jangan takut...tidak akan ada yang membahayakanmu”. Itulah himbauan Ratko Mladic , Komandan Unit Serbia Bosnia, kepada warga sipil Bosnia, ketika pasukannya memulai pembantaian tanpa henti 10 hari.
Pembantaian muslim Bosnia tahun 1995 menjadi sejarah kelam dan busuk PBB. Karena justru PBB menyatakan wilayah Srebenica yang didalamnya berkobar pembantaian muslim Bosnia sebagai “wilayah aman”.
25 tahun sudah berlalu.

Kuburan massal genosida Srebenica masih ditemukan. Laki-laki dan anak laki-laki dipisahkan dan digiring untuk dieksekusi mati. Hidup atau mati tetap dikubur. Sedangkan perempuan dan anak perempuan ditangkap untuk “dinikmati”.

Muslim Bosnia tidak akan lupa . Bulan Juli menjadi bulan kesedihan yang keluarga korban tumpahkan dengan memanjatkan doa-doa di Pusat Pemakaman Potocari.
Hakikatnya, sayatan luka pembantaian muslim Bosnia kepedihannya harus dirasakan oleh seluruh umat muslim di dunia. Karena umat Islam seperti “satu tubuh”. Sebagaimana Hadits Rasul yang diriwayatkan oleh Nu’man bin Basyir berbunyi:  “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam berkasih sayang bagaikan satu tubuh, apabila satu anggota badan merintih kesakitan maka sekujur badan akan merasakan panas dan demam”. (HR. Muslim).

Begitupun pelajaran dari tragedi pembantaian muslim Bosnia adalah pelajaran untuk seluruh umat Islam. Apalagi pembantaian penduduk muslim Bosnia di Srebenica terjadi pula di Ghaza (Palestina), Suriah, Irak, Pattani (Thailand), Rohingya (Miyanmar), Kashmeer (India) dan Chehnya di Rusia.

Tragedi Srebenica memberi tiga pelajaran untuk umat Islam.
Pertama, PBB yang mengklaim dirinya sebagai penjaga perdamaian dunia telah melakukan tindakan tidak adil terhadap negara berpenduduk muslim. Bahkan PBB menjadi alat legitimasi kebengisan segelintir penjahat untuk memuaskan nafsu kedengkian terhadap Islam dan kaum muslim. Dimana Hak Asasi Manusia yang digaungkan PBB ?. Mendadak buta, bisu dan tuli ketika yang harus dibela adalah penduduk muslim. Lalu HAM milik siapa ?

Kedua, sekat nasionalisme telah menghalangi muslim membela saudara seakidahnya. Nasionalisme dan konsep negara bangsa menelikung umat Islam di dunia dan penguasanya untuk membantu saudaranya dengan bantuan yang real. Bahkan keberadaan penduduk muslim dunia, tentara dan senjata mereka seolah tak berguna untuk membebaskan saudara-saudara kita disana disebabkan paham buatan kafir ini.

Ketiga, tanpa junnah atau perisai yaitu imamah atau khalifah maka negeri muslim akan terus menjadi medan pertarungan kepentingan negara besar yang tak segan mengorbankan ribuan nyawa muslim.

 Seperti makanan yang dikoyak dari berbagai penjuru. Sebagaimana hadits Rasulullah saw :

“Sungguh Imam (Khalifah) itu laksana perisai. Kaum Muslim akan berperang dan berlindung di belakang dia.” (HR al-Bukhari dan Muslim).

Tanpa kekuatan politik secara internasional umat Islam seperti macan yang kehilangan taringnya. Sebagai umat Islam, semestinya kita semua sadar bahwa tanpa persatuan umat Islam, kita akan terus menjadi entitas yang sangat lemah, bahkan kita selalu akan menjadi budak kezaliman di seluruh dunia. Kaum muslim akan terus terjajah oleh kekejaman para pembenci Islam.

Teladanilah Rasulullah saw dan Khulafa Ar Rasyidin dalam membela kehormatan dan jiwa kaum muslimin. Rasulullah mengusir Bani Qainuqa’ demi membela kehormatan seorang muslimah. Khalifah Harun ar-Rasyid, di era Khilafah ‘Abbasiyyah, menyumbat mulut jalang Nakfur, Raja Romawi. Khalifah Al-Mu’tashim, juga di era Khilafah ‘Abbasiyyah, telah melumat Amuria dengan ratusan ribu pasukan muslim juga untuk membela kehormatan kaum muslimah. Sultan ‘Abdul Hamid di era Khilafah ‘Utsmaniyah telah menjadikan dirinya tameng bagi setiap jengkal tanah Palestina dari keserakahan zionis Yahudi.

Saatnya umat sadar bahwa ditegakkannya syariat Islam oleh negara dengan sistem atau ideologi Islam maka akan menjamin delapan hal : menjaga agama, menjaga jiwa, menjaga akal, menjaga harta, menjaga keturunan, menjaga kehormatan, menjaga keamanan dan menjaga kedaulatan negara.

Maka perjuangan dan seruan yang harus digaungkan untuk menyelesaikan penderitaan muslim di dunia adalah seruan tegaknya khilafah.

Wallahu a'lam bishshawab.
 
Top