Oleh: Ramadhan (Jurnalis Muslim)

"Kalau hidup hanya untuk hidup maka babi di hutan juga hidup, kalau bekerja sekedar bekerja maka kera juga bekerja” 

(Buya Hamka)

Ungkapan diatas adalah ungkapan seorang ulama sekaligus cendikiawan muslim, merupakan  ungkapan sebagai bentuk sindiran untuk manusia. Ungkapan Buya Hamka itu bukan sekedar ungkapan biasa, tapi berdasarkan realita hidup manusia yang jauh dari tujuan hidup yang sesungguhnya

Artinya, banyak diantara manusia yang kehilangan arah dan tujuan hidupnya, sehingga perlu diperbaharui ulang makna hidup dan orientasi hidup itu sendiri.

Karena hidup itu bukan sekedar rutinitas, mengejar karier, mengumpulkan harta yang banyak dan memperjuangkan jabatan.

Memang adakalanya kita manusia berada pada titik hidup yang terendah, dimana sebuah pekerjaan terasa menjadi dangkal, hanya sebagai rutinitas, interaksi hanya sebuah kewajiban social yang rutin, hobi dan kegemaran hanya sesuatu yang biasa-biasa saja. Bahkan, ketika kita kembali ke pengajian untuk mencari kesegaran, agama dan khutbah tidak lagi terasa damai dan meneduhkan, mungkinkah itu sebagai wujud bahwa kita belum tau makna tujuan hidup yang susungguhnya.?

Dalam suasana hidup yang kering seperti ini, mungkin pertanyaan akan mulai menyeruak apa tujuan hidup ini sebenarnya?

Sobat, Allah mencipkan kehidupan ini tak ada yang sia-sia. Makna tujuan hidup manusia terjawab dalam al qur’an. Al-qur’an sebagai pedoman, petunjuk bagi manusia. Allah berfirman:

''Dan, aku tidak menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.''   

(QS Aldzariyat [51]: 56).

Begitulah yang telah Allah frmankan, kita pahami bahwa keberadaan manusia di bumi ini adalah untuk beribadah. beribadah dalam ayat ini bermakna taat kepada Allah, tunduk dan patuh kepada-Nya, serta terikat dengan aturan agama yang disyariatkan-Nya.

Makna Ibadah yang Sempit

Banyak diantara kaum muslimin yang  masih awam atau dangkal dalam memahami makna ibadah yang sebenarnya. Ada yang memahami ibadah itu hanya sebatas sholat, puasa, zaqat dan haji saja. 

Secara garis besar ibadah itu ada dua, yang pertama adalah ibadah mahdhah (sholat, puasa, zaqat dan haji) dan kedua goiru mahdhah (muamalah) yang terdapat pada kehidupan social manusia. 

Hal ini menunjukan bahwa ibadah itu tidak dibatasi dalam kehidupan tertentu saja misalnya dalam kehidupan pribadi, melainkan diberbagai bidang dan aspek kehidupan sosial lainya.

Semua Bernilai Ibadah

Dalam segala interakasi manusia, baik interaksi dengan dirinya sendiri seperti mengenakan pakain, makan, minum, adab, aqhlak, kemudian interaksi dirinya dengan Tuhanya seperti sholat, puasa, zaqat, dan haji, maupun interkasi sosial dengan sesama manusia lainya seperti pergaulan pria dan wanita, bersosial, ekonomi, politik, semua interaksi yang melibatkan manusia lainya bisa bernilai ibadah.

Pertanyaanya kapan bisa semua interaksi itu bernilai Ibadah.

Semua interaksi manusia bisa bernilai Ibadah ketika, pertama interaksi itu niatnya karena Allah, kedua interaksinya itu caranya benar yaitu sesuai dengan hukum Islam dan aturan yang ditetapkan oleh baginda teladan manusia yaitu Nabi Muhammad SAW dan yang ketiga harus beragama Islam.

Jika Sholat, puasa, zaqat haji akan bernilai ibadah maka, kehidupan social dalam berbisnis, berdagang bisa bernilai ibadah juga asal niatnya karena Allah, kemudian caranya sesui syariat Islam, dan tidak ada unsur riba didalamnya, maka akan bernilai ibadah, begitu juga dalam kehidupan social lainya seperti pergaulan, berpolitik, pendidikan dll.

Dengan berpacu pada QS Aldzariyat ayat 56, M.R.Kurnia dalam buku Menjadi Pembela Islam menyampaikan bahwa, kehidupan manusia pada kenyataannya bukan hanya kehidupan individual tetapi kehidupan sosiologis (kehidupan bermasyarakat). Karena itu, hidup berdasarkan aturan Allah berarti hidup bermasyarakat yang berdasar aturan Allah. Atau, hidup kolektif dengan segala interaksi sosialnya. sepenuhnya berlandaskan perintah dan larangan dari Tuhan semesta alam.

Melihat realita pada negeri ini, dimana pusat dari paraturan bertumpu pada peraturan barat, semua peraturan berdasarkan asas pemisahan agama dari kehidupan atau yang disebut dengn sekuler. Ketika semua peraraturan itu bertumpu pada peraturan barat, maka tujuan kita untuk menghambakan diri sepenuhnya hanya kepada Allah semata, belum bisa terlaksana dengan sempurna, khususnya pada kehidupan social.

Manusia diciptakan sepenuhnya untuk beribadah, terikat dengan hukum-Nya, menjalani segala perintah-Nya, tidak hanya dalam ibadah ritual tapi juga dalam kehidupan sosiologis. 

Maka dari itu, umat Islam harus benar-benar sadar untuk berjuang menerapkan syariat Islam secara kaaffah agar bisa terwujud tujuan hidup yang sesungguhnya yaitu beribadah dalam segala interaksi kehidupan.

 
Top