Oleh : Hera
Ibu Rumah Tangga


Umat Islam di seluruh dunia pada hari Jumat tgl 31 Juli kemarin atau bertepatan dengan tanggal 10 Dzulhijjah 1441 Hijriah telah merayakan Hari Raya 'Idul Adha secara bersama-sama. Mereka disatukan oleh Allah Swt sebagai satu umat bukan sebagai bangsa Arab, Afrika, Eropa, Amerika, Australia maupun Asia tapi umat Islam.  Mereka diikat oleh akidah yang sama dan diatur dengan hukum yang sama.

Hanya sayangnya kesatuan sebagai umat ini bersifat sesaat, begitu selesai mengerjakan shalat ‘Idul Adha dan berhaji, kesatuan itu pun sirna. Bak buih di lautan dengan satu setengah miliar umat Islam di seluruh dunia namun tidak berdaya menghadapi berbagai persoalan yang terus menimpa mereka. Perpecahan, pertikaian, perselisihan, pelanggaran hak-hak kemanusiaan, ketidakadilan, kemiskinan dan berbagai problem lainnya begitu nyata di depan mata.

Namun kita berbahagia karena masih memiliki harapan dengan amal salih yang kita lakukan. Mulai dari ibadah Hari Arafah, mengisi sepuluh Hari Dzulhijjah dengan berbagai amal salih dan berqurban.  Mudah-mudahan Allah membebaskan kita dari azab api neraka dan memasukkan ke dalam surga-Nya yang penuh kenikmatan.
Selain itu kita juga bahagia menyaksikan kaum Muslim mengagungkan Allah Swt, berbondong-bondong untuk shalat berjamaah serta mendengarkan khutbah Idul Adha.  Semua ini menunjukkan jati diri seorang Muslim yang diikat oleh akidah yaitu akidah Islam, diatur dengan hukum yang sama yaitu syariah, kitab yang sama yaitu al-Quran al-Karim dan kiblat yang sama yaitu Ka'bah.  

Hari Idul Adha  mengingatkan kita dengan peristiwa agung pengorbanan Nabi Ibrahim as. dalam menaati perintah Allah Swt untuk menyembelih putranya, Ismail as. Padahal  Ismail adalah buah hati, harapan dan cintanya yang telah sangat lama didambakan. 
Allah Swt berfirman:

قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَىٰ

"Anakku, sungguh Aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Karena itu pikirkanlah apa pendapatmu." (TQS ash-Shaffat [37]: 102).

Menghadapi perintah itu, Nabi Ibrahim as. mengedepankan kecintaan yang tinggi dan ketaatan kepada Allah Swt. Beliau menyingkirkan kecintaan kepada selain-Nya, yakni kecintaan kepada anak, harta dan dunia.  Perintah untuk taat itu amat berat, namun disambut oleh putranya as. dengan penuh kesabaran. Kisah Nabi Ibrahim as. dan Nabi Ismail as. tersebut telah menjadi teladan bagi kaum Muslim saat ini. Teladan dalam pelaksanaan ibadah haji dan ibadah kurban. Juga teladan dalam ketaatan, perjuangan dan pengorbanan demi mewujudkan ketaatan pada aturan Allah. Lalu bagaimana bisa ada orang yang mengaku dirinya Muslim tetapi memusuhi ajaran agamanya sendiri fobia sama agamanya sendiri? 

Islam adalah agama dari Allah Swt. Semua ajarannya adalah benar sehingga tidak perlu ditakuti apalagi dianggap sebagai ancaman. Justru ajaran Islam adalah untuk memperbaiki kehidupan manusia sebagaimana yang telah dipraktikkan oleh Rasulullah Saw. Beliau hadir di tengah masyarakat dengan membawa Islam sehingga  membawa rahmat bagi semesta alam. Sudah seharusnya bagi seorang Muslim untuk melakukan apa yang telah dicontohkan oleh Rasulullah Saw. tidak boleh bersikap cuek dengan kondisi masyarakat. Sebaliknya dengan penuh keberanian hendaknya hidup dan beramal di tengah masyarakat, mempertahankan dan menyampaikan kebenaran keyakinannya kepada orang lain dan penguasa zalim, serta menjadi saksi atas realitas kehidupan manusia. Kaum Muslim juga wajib berjuang keras melenyapkan sistem kufur yang membelenggu mereka, seperti kapitalisme, liberalisme, sekularisme, sosialisme dan komunisme dan wajib mengganti semua itu dengan syariah Islam. Karena hanya syariah Islam yang dapat menghadirkan  ketenteraman, mewujudkan kesejahteraan serta mendidik perilaku manusia agar memiliki kesantunan-akhlak mulia. 

Di dalam sejarah, Islam memiliki peran yang sangat besar dalam membangun peradaban dunia mulai dari Khulafaur Rasyidin sampai Khilafah Utsmani. Seribu tahun lebih Islam telah menghadirkan peradaban dunia modern, kedamaian, kesejahteraan dan ketenteraman bagi umat  manusia dengan beragam suku, bangsa, ras,  agama dan kepercayaan. Kini saatnya kita menghimpun kembali seluruh potensi umat untuk melahirkan generasi shalih dan bertakwa. Insya Allah, generasi hari ini suatu saat akan memimpin manusia meraih kedamaian, keadilan dan kesejahteraan dengan syariah Islam yang kaffah. Generasi inilah yang mewujudkan Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin dalam naungan Khilafah Islam. 

WalLahu a'lam bishshawab.
 
Top