Oleh : Rina Tresna Sari, S.Pd.I
Praktisi Pendidikan dan Member AMK

Sejarah akan banyak membangunkan kesadaran bangsa, bahkan akan bisa mengubah mindset suatu bangsa di masa lalu menuju kebangkitan. Karena selain adanya ideologi yang diemban, sejarah gemilang peradaban itu sendiri merupakan faktor kebangkitan sebuah peradaban.

Meski demikian kadangkala, sejarah itu adalah mitos yang diulang-ulang sehingga menjadi keyakinan yang dibenarkan. Seperti mitos bangsa Jerman yakni Ras Aria sebagai bangsa terbaik menjadi sugesti positif bangsa Jerman bangkit di bawah Hitler. Atas keyakinan terhadap mitos tersebut, Jerman memiliki legitimasi untuk menguasai dunia.

Berbeda dengan kebesaran peradaban Islam, yang dahulu menorehkan sejarah emasnya di bawah naungan Khilafah bukanlah mitos. Umat Islam menjadi khairu ummah yang menguasai dunia, dengan kehidupan yang makmur selama 13 abad lamanya adalah fakta kongkrit pada masa lampau.

Begitu juga sejarah hubungan Nusantara, Islam dan Khilafah. Keterkaitan dan keeratan hubungannya adalah sebuah kebenaran yang jarang diungkap dalam fakta sejarah bangsa ini. Tentu saja hal ini dilakukan karena Barat Kapitalis tak ingin umat Islam -termasuk yang ada di Nusantara- kembali bangkit, karena paham akan sejarahnya, keagungannya, dan Khilafah sebagai Negaranya.

Upaya penguburan dan pengaburan jejak kebesaran Khilafah dan hubungannya dengan Nusantara merupakan dua strategi yang dilakukan Barat untuk menjauhkan umat Islam dari sejarah keagungan peradaban Islam di bawah naungan Khilafah.

Lewat upaya penguburan dan pengaburan kebesaran Khilafah dan hubungannya dengan Nusantara, hari ini tidak banyak yang mengetahui bahwa Nusantara memiliki hubungan erat dengan ke-khilafahan dan dakwah Islam, bahkan lewat interaksi ini merubah corak kehidupan masyarakat di Nusantara.

Seperti yang kita ketahui Nusantara sebutan untuk bangsa ini, adalah  sebuah kawasan yang terdiri dari beribu-ribu pulau yang dihubungkan dengan laut dan sejak berabad-abad silam telah menjadi jalur perdagangan laut internasioanl. Sebab posisinya sebagai bagian jalur perdagangan ini, Nusantara memiliki akses yang mudah dengan dunia luar serta tentu terlibat dalam interaksi internasional sehingga mendapat banyak pengaruh dari peradaban sekitarnya.

Segenap peradaban yang berdiri kokoh di luar akan masuk dan mengubah sistem kehidupan di Nusantara. Tak terkecuali dengan peradaban Islam yang sejak abad ke 6 M tengah tumbuh di Timur Tengah tepatnya di sebelah sisi barat Nusantara. Interaksi Nusantara dengan kawasan Timur Tengah sudah pernah ada sejak Islam pertama kali muncul. Pada awalnya interaksi tersebut lebih berbentuk relasi ekonomi dan perdagangan, akan tetapi pada saat Timur Tengah telah berada dalam kekuasaan Khilafah Islam, relasi tersebut meluas menjadi relasi politik-keagamaan dan intelektual.

Hubungan antara Nusantara dengan Timur Tengah melibatkan sejarah yang panjang. Kontak paling awal antara kedua wilayah ini, khususnya berkaitan dengan perdagangan, bermula sejak masa Phunisia dan Saba’. Kehadiran Muslim Timur Tengah ke Nusantara pada masa-masa awal pertama kali disebutkan oleh agamawan dan pengembara terkenal Cina, I-Tsing yang pada 51 H/617 M.  sampai ke Palembang yang merupakan ibu kota kerajaan Budha Sriwijaya. Mereka yang berada di Nusantara merupakan para pedagang yang kaya dan memiliki kekuatan ekonomi. Dalam padangan Azyumardi Azra, interaksi mereka di Palembang ini yang merupakan salah satu faktor penting pendorong raja Sriwijaya mengirim surat kepada Khalifah Bani Abasiyah.

Ketika Khilafah diperintah Bani Umayyah (660-749 M), sejumlah wilayah di Nusantara masih berada dalam kekuasaan Kerajaan Hindu-Budha. Kerajaan Sriwijaya merupakan kerajaan Budha di Nusantara yang tercatat memberikan pengakuan terhadap kebesaran Khalifah. Pengakuan ini dibuktikan dengan adanya dua pucuk surat yang dikirim oleh raja Sriwijaya kepada Khalifah di zaman Bani Umayyah. Surat pertama dikirim kepada Mu’awiyah, dan surat kedua dikirim kepada ‘Umar bin “Abd al-‘Aziz.(Fahmi Herfi Ghulam Faizi-The Two Letters From The Maharaja To The Khalifah)

Surat pertama ditemui dalam sebuah diwan (sekretaris) Mua’awiyah dan memiliki gaya tipikal surat-surat resmi penguasa Nusantara. Diriwayatkan pembukaan surat tersebut:
“(Dari Raja al-Hind – atau tepatnya Kepulauan India) yang kandang binatangnya berisikan seribu gajah, (dan) yang istananya terbuat dari emas dan perak, yang dilayani seribu putri raja-raja, dan yang memiliki dua sungai besar (Batanghari dan Musi), yang mengairi pohon gahana (aloes), kepada Mu’awiyah…”

Surat kedua, yang mempunyai nada yang sama, jauh lebih lengkap. Surat yang ditunjukan kepada Khalifah ‘Umar bin “Abd al-‘Aziz itu menunjukkan betapa hebatnya Maharaja dan kerajaannya:
“Nu’aym bin Hammad menulis: “Raja al-Hind (Kepulauan) mengirim sepucuk surat kepada ‘Umar bin “Abd al-‘Aziz, yang berbunyi sebagai berikut: “Dari Raja Diraja (Malik al-Malik = maharaja); yang adalah keturunan seribu raja; yang istrinya juga adalah anak cucu seribu raja; yang dalam kandang binatangnya terdapat seribu gajah; yang wilayahnya terdapat dua sungai yang mengairi pohon gaharu, bumbu-bumbu wewangian, pala dan kapur barus yang semerbak wewangiannya sampai menjangkau jarak 12 mil; kepada Raja Arab (‘Umar bin “Abd al-‘Aziz), yang tidak menyekutukan tuhan-tuhan lain dengan Tuhan. Saya telah mengirimkan kepada Anda hadiah, yang sebenarnya merupakan hadiah yang tak begitu banyak, tetapi sekadar tanda persahabatan; dan saya ingin Anda mengirimkan kepada saya seseorang yang dapat mengajarkan Islam kepada saya, dan menjelaskan kepada saya tentang hukum-hukumnya (atau di dalam versi lain, yang akan menjelaskan Islam dan menjelaskannya kepada saya).”

Dari pemaparan di atas dapat dipahami Khilafah Islam telah menunjukan eksistensinya di Nusantara sejak masa kerajaan Hindu-Budha atau sejak Khilafah itu sendiri kokoh menjadi Negara yang menaungi berbagai bangsa di dunia. Khilafah pun mendapatkan pengakuan dari raja Nusantara sehingga muncul ketertarikan mereka kepada dakwah Islam. Hal ini yang pada perkembangan selanjutnya menjadi faktor yang mengonversi masyarakat di Nusantara menjadi masyarakat muslim dan muncul pemerintahan baru bercorak kesultanan.

Fakta sejarah tersebut juga telah menunjukkan pada kita, bahwa sedari dulu, sejak zaman Rasulullah Muhammad shallallohu ‘alaihi wassalam kewajiban dakwah tidak pernah berhenti. Bahkan, kekuatan negara bisa lebih efektif, dan efisien untuk mengajak kekuasaan yang bukan didasarkan pada Islam untuk menerima Islam, seperti Sriwijaya. Demikian fakta-fakta realitas sejarah tersebut adalah suatu realita yang harus dibaca apa adanya dan tidak harus ditutup-tutupi. Yang terpenting saat ini adalah realita ini harus dipahami dengan pemahaman Islam yang lurus dengan sifat adil dan mendalam.

Wallahu a'lam bishshawab.
 
Top