Oleh : Inayah
Ibu rumah tangga

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)". Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” (TQS. Al-baqarah (2): 120)

Ayat di atas adalah kabar dari Allah Swt., bahwa tabiat Yahudi dan Nasrani akan senantiasa memusuhi kaum muslim. Dimanapun kaum muslim hidup akan terus dibenci dan diberikan stigma negatif baik terhadap syariah sebagai hukum-hukum Islam, Al-Qur’an beserta isi kandunganya. Ia senantiasa dilecehkan bahkan sampai kepada pembawa wahyunya yaitu Nabi Muhammad saw.

Setiap masa atau zaman  akan terus berganti orang- orang yang memusuhi Islam, apa yang terjadi baru-baru ini, ketika Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan  (10/7/2020) yang menandatangani dekrit yang menjadi dasar hukum perubahan status Ayasofia (Hagia Sophia) sebagai Masjid setelah pengadilan Turki mencabut statusnya sebagai museum.

Maka sontak menimbulkan reaksi dunia, menunjukkan kebenciannya. Seperti apa yang dinyatakan oleh Leopold Weiss dalam Islam at Crossroads (1934) menuturkan, “kemurkaan (Eropa) telah tersebar luas  seiring kemajuan zaman, kemudian kebencian berubah menjadi kebiasaan, kebencian akhinya menumbuhkan perasaan kebangsaan setiap disebutkan kata muslim."
Beragam kecaman bermunculan. Menteri luar negeri AS, Mike Pompeo, memperingatkan status Hagia Sophia akan mengurangi kemampuan inklusivitas.
Dewan Gereja  Dunia  yang mewakili 350  Gereja Kristen (11/7/2020) menyesalkan perubahan status itu dan secara berlebihan menganggap keputusan Erdogan akan menimbulkan kecurigaan dan perpecahan antar masyarakat beragama.

Kebencian dari orang-orang Yahudi pun jelas nyata. Mereka telah mengahapus negeri Palestina dari peta dunia atau di gogle maps. Sehingga apa yang mereka lakukan terhadap kaum muslim di Palestina tidak lagi terekspos media. Selama ini kaum muslim Palestina senantiasa diperlalukan tidak manusiawi. Mulai dari pelecehan, pemerkosaan, penghancuran rumah-rumah bahkan pembunuhan baik terhadap anak kecil ataupun orang dewasa kerap dilaukan oleh Zionis Israel.

Di tanah air, upaya mendiskreditkan ajaran Islam kerap terjadi. Khilafah salah satunya. Kabar terbaru mengungkap, lewat ujaran kebencian petinggi partai penguasa, klarifikasi pembacaan sumpah setia NKRI di DPRD Cirebon, ataupun ulangan kalimat Wapres Ma’ruf Amin yang menyatakan paham Khilafah melanggar kesepakatan masyarakat Indonesia, islamofobia terus dideraskan. Ancaman terhadap siapa pun yang memperjuangkan Khilafah, termasuk pemecatan aparatur sipil negara (ASN) akan menjadi tupoksi yang terus dimainkan para penguasa demagog, para penghasut rakyat yang siap menjual agama demi mempertahankan kekuasaan yang direstui tuan-tuannya: para penjajah dunia Islam.

Penggunaan istilah  “Khilafahisme” untuk menyebut sistem khilafah adalah bentuk penistaan  terhadap ajaran Islam. Apalagi khilafah disetarakan dengan markxisme-komunisme dan kapitalisme-liberalisme yang mengembannya bisa diburu dan ditangkap.

Khilafah adalah ajaran Islam. Oleh karena itu siapa saja yang memperjuangkan  bukan pelaku kriminal. Mengusahakan tegak khilafah  adalah wujud ketaatan pada agamanya. Memburu dan menangkap  orang yang hendak mengamalkan  agamanya adalah bentuk permusuhan pada kaum muslimin. Tepat jika dikatakan bahwa narasi “khlafahisme” dan “radikalisme” adalah alat propaganda sekaligus alat yang sangat efektif unuk mendapatkan keuntungan posisi politik sekaligus menjatuhkan posisi lawan yang dilakukan secara lebih dari satu kali atau terus menerus (revetitive action).

Itu adalah sikap-sikap para pembenci Islam dan kaum muslimin yang telah terjadi, baik  yang dialami kaum muslim di Turki, Palestina, termasuk di tanah air Indonesia dan juga negeri-negeri muslim lainnya yang belum berhenti senantiasa menindas dan melecehkan hukum- hukum Islam, bahkan benci terhadap simbol-simbolnya dan berusaha untuk menghilangkan.

Bangkitnya dunia Islam menurut berbagai riset maupun temuan di antaranya Pey Riset Center yang menemukan bahwa lebih dari 70 persen responden di seluruh dunia menginginkan syariah Islam diterapkan.

Di beberapa negara bahkan hampir mendekati 100 persen contohnya di Afghanistan itu 99 persen, Pakistan 98 persen dan di Indonesia cukup Baik yaitu 72 persen. Menurut Barat, apa yang terjadi di Turki bisa menumbuhkan semangat kaum muslim. Ketika Turki kembali kepada Islam, hal itu akan menginspirasi yang sangat besar bagi dunia Islam, dan itu yang menjadi kekhawatiran mereka. Tentu tak bisa mengubah narasi kebencian atas Islam dari dalam sistem demokrasi yang terlahir dari rahim sekularisme.

Sistem ini pasti melahirkan penguasa hipokrit yang hanya melahirkan kebijakan pro-Islam jika momentumnya tepat. Dalam kasus Turki, akan sulit mengubah sekularitasnya melalui kawalan kelompok oposisi Partai Rakyat Republik (Cumhuriyet Halk Partisi, CHP) yang tak lain adalah kaum Kemalis.

Kebencian terhadap Islam dan umatnya dengan menghina dan melecehkan hukum-hukum Islam dan hal ini terus berulang hanyalah menunjukkan kebencian mereka terhadap Islam. Itu lahiriahnya. Apa yang ada dalam hatinya sungguh lebih besar daripada itu. Allah Swt. berfirman yang Artinya:

"Telah nyata kebencian  dari mulut-mulut mereka dan apa yang disembunyikan oleh mulut mereka lebih besar lagi." (TQS. Ali-‘Imran (3): 118)

Imam Ibnu Katsir, ketika menafsirkan ayat tersebut, menyatakan bahwa kebencian telah tampak dari wajah, sikap serta ucapan mereka. Namun apa yang mereka tunjukkan tidak mencakup semua kebencian yang ada di dalam dada mereka. Karena itu jangan heran bila kebencian mereka berulang-ulang dan tidak akan berhenti hingga ada yang menghentikannya.

Realitas menunjukkan  negara-negara yang ada tidak bisa menghentikan kebencian barat. Yang dapat menghentikan itu semua adalah kekhilafahan. 
Artinya, ketika system khilafah tegak dan diangkat seorang khalifah untuk menjalankan fungsi sebagai ri’ayah (pengaturan urusan umat) dengan hukum syariah, dan menegakkan fungsi junnah, sebagaimana sabda yang mulia Rasullah saw.,

‘’Sesungguhnya Imam (khilafah) itu perisai, orang-orang akan berperang mendukung dia dan berlindung dari musuh dengan kakuasaan nya.” (HR. muttafaq Alayh)

Sifat junnah dalam hadis ini pun tak terbatas dalam peperangan semata, tetapi berkonotasi pula sebagai pelindung dari kezaliman dan penangkal dari keburukan  sebaimana dijelaskan al-Hafiz Ibnu al- Atsir. Termasuk  mencegah invasi pemikiran-pemikiran kufur hingga kaum Muslim bisa bangkit kembali dari kelumpuhannya, menjadi umat terbaik sesuai firman- Nya (lihat Al-Qur'an surat Ali Imran  (3): 110).

Ketika Daulah Islam tegak maka di berlakukan hukum kepada siapa saja yang melecehkan dan menghina ajaran Islam dan membenci kepada pengembanya maka akan di  berlakukan hukuman. Apabila pelakunya  muslim jelas dinyatakan murtad, karena itu sanksinya adalah bunuh, sebagaimana had ar-riddah. Jika  pelakunya non muslim, dan berstatus ahluz- zimmah, dia bisa dicabut zimmahnya, bisa dihukum, atau diusir dari wilayah Uslam, jika bukan ahluz zimmah, ini bisa dijadikan khilafah sebagai alasan perang terhadap negara yang bersangkutan.

Sudah jelas pemimpin dalam Islam mampu menjaga ide-ide Islam dan kaum muslim dari pemikiran kufur dan para pembencinya, maka dari itu mari kita bersama-sama mewujudkan kembali system Islam yaitu dengan tegakknya Daulah Islamiyah.

Wallahu a'lam bi ash shawab.
 
Top