Oleh : Nelliya Azzahra
(Penulis dan Aktivis Muslimah Jambi)

Keputusan pemerintah Turki mengubah status Hagia Shopia dari museum menjadi masjid mengundang reaksi dari berbagai kalangan. Mayoritas kaum muslimin tentu saja  bersukacita akan kembalinya fungsi Hagia Sofia menjadi masjid dimana sebelumnya diubah menjadi museum di tahun 1930-an oleh tokoh sekularisme Turki Kemal Ataturk memanglah sebuah masjid kebanggaan umat Islam di Eropa. Sehingga ketika kembali menjadi masjid wajar jika umat Islam merasa senang dan bangga.

Banyak kalangan umat Islam terutama di kalangan aktivisnya yang menganggap kembalinya Hagia Sophia menjadi masjid adalah sebuah tonggak penting dalam proses kebangkitan Islam di masa depan.
Dengan itu pula seruan khilafah semakin mendapat sambutan publik Turki. Kembalinya Hagia Sofia menjadi masjid tentu saja membawa harapan bahwa umat memang menginginkan perubahan yang mendasar, yaitu perubahan sistem.
Sehingga harapan untuk hidup dalam sistem Islam di bawah naungan khilafah semakin membuncah.

Namun begitu, tidak semua pihak menyambut seruan akan kembalinya khilafah dengan sukacita. Kejadian seperti ini tentu saja wajar mengingat sistem demokrasi-sekuler yang hari ini masih eksis. Seruan khilafah ini bahkan diadukan dan dikriminalisasi oleh sekuler Turki.
Seruan kembali ke khilafah dianggap oleh kubu sekuler sebagai ajakan yang tidak dapat diwujudkan dalam hukum. Dan sebagai bentuk ajakan pemberontakan bersenjata.

Juru bicara Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) meyakinkan kaum skeptis bahwa Turki akan tetap menjadi republik sekuler setelah majalah Gercek Hayat menimbulkan kegemparan dengan menyerukan pembaruan kekhalifahan.

“Republik Turki adalah negara yang demokratis dan sekuler berdasarkan aturan hukum,” kata Juru Bicara Omer Celik dalam sebuah cuitan di Twitter. “Republik kita adalah payung bagi kita semua berdasarkan kualitas-kualitas ini," ujarnya. (Beritakaltim.co, 27/7/2020)

Pernyataan ini menegaskan bahwa sistem sekuler berusaha meredam kebangkitan Islam. Mereka tetap tak akan rida jika Islam kembali berjaya.
Saat ini umat sudah mulai menyadari bahwa Islam merupakan solusi segala problematika yang ada, akan semakin kuat framing negatif yang akan diluncurkan terhadap umat Islam.

Upaya kriminalisasi terhadap khilafah bukan kali ini saja. Penghadangan terhadap penegakan syariah dan khilafah juga massif dilakukan dengan cara memecah belah umat dan memonsterisasi simbol-simbol Islam. Tindakan persekusi pun juga dilakukan kepada mereka yang mendakwahkan khilafah ajaran Islam.

Khilafah dibenci dan dihalangi oleh mereka yang tidak ingin kepentingannya tergeser. Padahal khilafah adalah sistem yang akan mempersatukan kaum muslimin di seluruh penjuru dunia. Bukan hanya muslim bahkan juga non muslim. Serta membawa rahmat bagi seluruh alam.

Meskipun para penentang Islam berusaha keras menghalangi kebangkitan Islam dan kembalinya khilafah. Usaha mereka pada akhirnya akan sia-sia. Karena kembalinya khilafah adalah janji Allah yang disampaikan lewat bisyarah Rasulullah saw.

"Adalah Kenabian (nubuwwah) itu ada di tengah-tengah kamu sekalian, yang ada atas kehendak Allah. Kemudian Allah mengangkatnya apabila Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada khilafah yang menempuh jejak kenabian (Khilafah ‘ala minhajin nubuwwah), yang ada atas kehendak Allah. Kemudian Allah mengangkatnya apabila Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada Kekuasaan yang menggigit (Mulkan ‘Aadhdhon), yang ada atas kehendak Allah. Kemudian Allah mengangkatnya apabila Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada Kekuasaan yang memaksa (diktator) (Mulkan Jabariyah), yang ada atas kehendak Allah. Kemudian Allah mengangkatnya, apabila Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada khilafah yang menempuh jejak Kenabian (Khilafah ‘ala minhajin nubuwwah). Kemudian beliau (Nabi) diam.” (HR. Imam Ahmad)

Wallahu a'lam bishshawab.
 
Top