Oleh : Nur Ilmi Hidayah
Pemerhati Masalah Remaja, Praktisi Pendidikan

Perlu diketahui sisi gelap pendidikan sekularisme yaitu, tidak adanya muatan rukhiyah, dan lebih mengedepankan logika materialisme serta memisahkan antara agama dan kehidupan, yang dalam hal ini yaitu paham sekularisme.

Sekularisme kapitalisme telah mewabah ke berbagai lini. Segala hal yang berguna dan dapat menghasilkan nilai tukar demi meraup keuntungan pasti dan segera dimasuki. Sudah menjadi detail pokok, bahwa kerja kapitalisme sekularisme untuk mengakumulasi profit, kapanpun dan di manapun ia berada. Ini adalah roh utama yang menjadi penggerak sistem tersebut. Roh brutal inilah yang kini menghantui masyarakat miskin memupus mimpi dan harapannya guna mencerdaskan anak-anaknya.

Pendidikan di bawah cengkeraman sekularisme kapitalisme, tidak hanya dimanfaatkan sebagai bahan basah akumulasi, akan tetapi juga telah diselaraskan guna memproduksi ulang barisan kelas pekerja serta hubungan-hubungan sosial eksplotatf di dalamnya.

Sistem pendidikan di Indonesia yang bergaya sekuler telah menciptakan Sumber Daya Manusia (SDM) yang cenderung anti dengan syariat Islam. Sekularisasi pendidikan di dunia, khususnya di Indonesia menjadi ganjalan dalam menerapkan pendidikan karakter bagi peserta didik.

Pendidikan yang berjalan di Indonesia saat ini adalah sistem pendidikan sekuler-materialistik. Watak pendidikan sekuler inilah yang paling utama yang tampak jelas pada hilangnya nilai-nilai transedental pada semua proses pendidikan.

Secara kelembagaan, sekularisasi pendidikan menghasilkan dikotomi pendidikan yang berjalan puluhan tahun lamanya, yakni pendidikan agama di satu sisi, dan pendidikan umum di sisi lain. Pendidikan agama melalui Madrasah/Pesantren dikelola oleh Kementerian Agama, sementara pendidikan umum dikelola oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Pendidikan sekularisme juga memberikan kepada peserta didik suatu basis pemikiran yang serba terukur secara material dan kekinian serta memungkinkan hal-hal yang bersifat transedental.

Sistem pendidikan yang sekularisme tersebut sebenarnya hanyalah merupakan  bagian dari sistem kehidupan bermasyarakat dan bernegara yang juga sekuler. Dalam sistem sekuler, aturan-aturan, pandangan, dan nilai-nilai Islam tidak pernah digunakan untuk menata di berbagai bidang, termasuk di bidang pendidikan. Islam hanya ditempatkan dalam urusan individu dengan Tuhan saja.

Maka, di tengah-tengah sistem sekularistik, lahirlah berbagai bentuk tatanan yang jauh dari nilai-nilai agama. Yakni, tatanan ekonomi yang kapitalistik, perilaku politik yang oportunistik, budaya hedonistik, sikap beragama yang sinkrenistik serta paradigma pendidikan yang materialistik.

Sekolah-sekolah yang diselenggarakan di negeri ini sudah salah sejak akarnya, yaitu soal konsep dasar dan falsafah pendidikannya. Sekolah-sekolah di negeri ini, sudah memiliki aturan perundang-undangan yang merancang pendidikan sejak basis pemikiran teknisnya, tetapi kelihatannya masih belum mencerminkan falsafah dan konsep pendidikan yang benar dan jelas.

Ideologi Islam Solusi Tuntas Pendidikan Sekularisme

Lembaga pendidikan memiiki sistem dan kurikulum pendidikan yang sangat maju ketika itu. Beberapa lembaga pendidikan berhasil melahirkan tokoh-tokoh pemikir dan ilmuwan muslim yang sangat disegani. Misalnya, Ibnu Rusyid, Ibu Sina, Ibn Khaldun, Al-Farabi, Al-Khawarizmi dan Al-Firdausi.

Pendidikan merupakan penunjang keberlangsungan eksistensi Islam dan dunia. Sebab, tanpa adanya pendidikan, maka umat Islam akan bodoh tentang agamanya sendiri. Umat akan kebingungan untuk menentukan mana yang haq dan mana yang batil dalam tingkah laku, dan parahnya akan mempercepat hancurnya dunia Islam.

Pendidikan adalah pembelajaran, pengetahuan, keterampilan, dan kebiasaan sekelompok orang yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui pengajaran, pelatihan, atau penelitian.

Saat khilafah berdiri, pendidikan menjadi perhatian para khalifah, ini tidak lain karena telah dicontohkan oleh Rasulullah saw. Perhatian Rasulullah saw. terhadap dunia pendidikan sangat besar, jadi tidak heran jika kemudian para khalifah membangun berbagai lembaga pendidikan mulai tingkat dasar hingga Perguruan Tinggi. Tujuannya tidak lain adalah untuk meningkatkan pemahaman umat terhadap agama, sains dan teknologi.

Sistem pendidikan negara khilafah tersusun atas hukum-hukum syara’ dan berbagai aturan adminisrasi yang berkaitan dengan pendidikan formal. Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani menjelaskan mengenai sistem pendidikan dalam negara khilafah dalam kitab Muqoddimah Ad Dustur, sebagai berikut :

1. Kurikulum pendidikan wajib berlandaskan pada akidah Islam, seluruh materi pelajaran dan metode pengajaran dalam pendidikan disusun agar tidak menyimpang dari landasan akidah Islam.

2. Strategi pendidikan adalah membentuk pola pikir islami (aqliyah Islamiyyah) dan jiwa yang islami (nafsiyah Islamiyyah). Seluruh materi pelajaran disusun berdasarkan strategi tersebut.

3. Tsaqofah Islam harus didasarkan di seluruh pendidikan pada tingkat Perguruan tinggi diadakan berbagai jurusan ilmu-ilmu keislaman, selain jurusan kedokteran, teknik, ilmu pengetahuan alam, dan sebagainya.

4. Dalam pendidikan harus dibedakan antara ilmu terapan. Ilmu terapan diajarkan sesuai dengan kebutuhan dan tidak terikat dengan tingkatan maupun dalam jenjang pendidikan sebelum tingkat Perguruan Tinggi, disesuaikan dengan kebijakan tertentu yang tidak bertentangan dengan pemikiran dan hukum-hukum Islam.

5. Tsaqofah Islam harus diajarkan di seluruh jenjang pendidikan.

6. Kesenian dan keterampilan dapat digolongkan sebagai ilmu pengetahuan seperti perdagangan, pelayaran dan pertanian yang boleh dipelajari tanpa terikat dengan syarat-syarat tertentu. Kesenian dan keterampilan yang tidak boleh dipelajari darinya apabila bertentangan dengan pandangan Islam.

7. Kurikulm pendidikan hendaknya seragam (sentralisasi). Tidak boleh menerapkan kurikulum selain kurikulum yang telah ditetapkan negara.

8. Negara menyediakan perpustakaan, laboratorium, dan sarana ilmu pengetahuan lainnya.

Selain sistem Pendidikan Islam, pasti akan menuju jurang kehancuran, kelalaian, kerusakan moral, dan kerusakan akidah. Sebab, tidak ada sistem pendidikan secermat pendidikan Islam. Bisa dilihat fakta pendidikan sekularisme sekarang ini.

Sistem pendidikan sekularisme tidak memiliki kurikulum yang jelas. Setiap pergantian penguasa, maka kurikulum tersebut akan diubah ketika ada ketidaksesuain. Begitulah ketika tidak memiliki kejelasan sistem.

Sangat berbeda dengan sistem pendidikan Islam, mampunyai sistem yang harga mati, tidak bisa dan tidak boleh berubah sampai kapanpun. Dan tidak akan ada yang dapat menerapkan sistem pendidikan sesempurna kecuali kehidupan Khilafah Islamiyah.

Wallaahu a’lam bishshawab.[]
 
Top