Oleh : Rohmah SE,Sy
(Aktivis dakwah dan Pemerhati Remaja)

Pada kamis malam, petugas satpol PP mendatangi beberapa hotel di Jambi (8/7/20). Pada malam itu, terjaring 37 ABG yang ngamar di hotel. Ada yang merayakan ulang tahun dengan pesta seks. Ditemukan alat kontrasepsi dan obat kuat. Di satu kamar, ada satu  anak perempuan ditemani enam laki-laki.

Camat Pasar Kota Jambi, Mursida tak bisa menyembunyikan rasa geramnya. Ini rekor. Baru kali ini tertangkap pasangan mesum semuanya anak di bawah umur  terjadi di kota yang terkenal syu'ur Islamnya masih kental.
"Dalam operasi itu, banyak yang terjaring anak-anak remaja di bawah umur. Mereka menyewa kamar hotel. Miris sekali. Laki-lakinya umur 15 tahun, ada perempuannya umur 13 tahun. Kita temukan ada 1 perempuan 6 laki-laki di satu kamar,” kata Mursida. (Tribun, 9/7/2020)

Fakta bobroknya sistem kapitalis.
Masyarakat kaget ketika  menyaksikan fakta serusak itu. Bagaimana anak-anak yang baru menapak masa baligh sudah sedemikian terkungkung syahwat. Sampai-sampai tak sanggup menahan hasrat. Mereka melampiaskannya dengan pesta maksiat.

Bagaimana pula anak-anak yang belum memiliki KTP tersebut dibolehkan check in di hotel. Apakah ada orang dewasa yang mendaftarkan mereka? Atau saking pragmatisnya pihak hotel yang sepi pengunjung di masa pandemi hingga mengizinkan bocah-bocah labil itu booking kamar? Sungguh keterlaluan. Menukar kehormatan anak-anak yang seharusnya mereka lindungi demi recehan rupiah.

Miris, anak-anak yang seharusnya dikarantina di rumah-rumah mereka. Belajar di rumah bersama orangtua. Malah belajar seks di penginapan bersama teman-temannya.
Apakah orangtua mereka tahu pergi kemana anak mereka, atau tidak tahu menahu apa yang terjadi pada anaknya.

Melihat fakta ini membuat kita menaruh iba pada anak-anak ini. Mereka adalah korban salah asuh. Di usia prabaligh atau awal baligh, mereka tak memilki pemahaman tentang syahwat dengan benar. Mana yang boleh mereka lakukan dan mana yang haram. Hal yang sejak dini harus dipersiapkan orangtuanya.

Seharusnya mereka sudah paham akan kewajiban menjaga kemaluan, menundukkan pandangan dan menjauhkan diri dari rangsangan syahwat, sesuai ajaran Islam. Yang terjadi justru sebaliknya. Sejak dini sudah memburu kepuasan seksual. Terseret oleh derasnya arus pergaulan bebas dalam dunia global yang sarat dengan gelegak syahwat.

Generasi yang pola pikirnya dikendalikan hawa nafsu. Ketidakpahaman terhadap hukum Islam. Di media sosial apa yang mereka bagikan, komentar-komentar mereka, siapa idolanya. Mereka menjadikan selebgram berbodi aduhai, berkelakuan bebas dan berpakaian seksi sebagai panutan. Mereka memuja sosok-sosok populer lantas rela menjadikannya sebagai "pacar virtual." Anehnya mereka melakukan aktivitas amoral itu biasa bagi mereka dan seni. Na'uzubillah minzalik.

Dari situ populer istilah bucin atau budak cinta. Kondisi yang menggambarkan dominasi rangsangan seksual dalam diri generasi zaman sekarang. Hal apapun, tak lepas dari sudut pandang jinsiyah atau seksual. Misal, saat bergaul, selalu membahas pacar-pacaran. Saat mengomentari orang tampan, selalu bernada seksual. Seperti 'mau dong dipacari', 'aku rela diperawani'  atau 'bisa hamil online nih.' Sungguh miris.

Tontonan mendorong anak-anak zaman now begitu mudah terangsang syahwatnya. Padahal usia mereka belum cukup matang untuk melampiaskannya dengan jalan pernikahan. Pendidikan di rumah maupun di sekolah tidak menyiapkan untuk itu. Diekspresikanlah kebangkitan syahwat dengan pacaran atau sekadar teman berkencan. Termasuk menggelar pesta seks.

Kalau kita cermati selain kesalahan dalam pengasuhan, anak-anak ini adalah korban didikan syahwat dari media yang mereka akses. Kini, makin mudah anak-anak yang memiliki gadget. Tidak pandang usia dari anak kecil sampai tua pun semua punya gadget. Dunia digital pun dalam genggaman mereka.  Kemudahan menggunakan internet, yang tadinya tidak sengaja, lama-lama mencari. Awalnya malu setengah mati, lama-lama menikmati.

Siapa yang tidak tahu isi gadget kalau buka-buka yang keluar di beranda kita itu pasti yang aneh-aneh, kalau pemahaman sudah Islam maka itu tidak jadi masalah, tapi jika yang melihat anak kecil belum baligh akhirnya mereka ketagihan melihatnya karena kita semua tahu dunia digital yang tidak steril dari unsur pembangkit syahwat.

Para bucin hal-hal berbau seksual. Terlebih pencarian tayangan porno menggunakan mesin pencari atau tagar tertentu membuka peluang merangsang syahwat. Padahal, sangat berbahaya membiarkan anak-anak terpapar konten porno. Karena menonton porno lebih berbahaya daripada narkoba, psikotropika, dan zat adiktif lainnya (napza).

Kecanduan pornografi bisa merusak korteks prefrontal yang salah satu fungsinya adalah membedakan hal baik dan hal buruk. Bila anak sudah kecanduan pornografi, maka pembelajaran mengenai baik dan buruk otomatis terganggu. Menonton pornografi akan memicu hormon dopamin yang berlebihan pada otak. Padahal kerja hormon di otak harus seimbang. Itu sebabnya, pecandu pornografi hanya akan fokus memenuhi syahwatnya. Tidak mampu fokus pada produktivitas lainnya.

Generasi bucin muncul dalam sistem sekuler yang mendewakan kebebasan syahwat. Mereka adalah korban keberhasilan dari gerakan syahwat merdeka, yaitu upaya menjadikan pemenuhan syahwat bebas tanpa terikat aturan agama. Gerakan ini mendorong rame-rame pemenuhan syahwat di jalur bebas. Liberal di ruang publik di tempat-tempat maksiat. Bukan sekadar di ruang privat melalui jalur pernikahan yang sah.

Tentu saja peradaban seperti ini sangat rusak. Lebih dari itu, melanggar norma-norma agama. Islam memandang seks dengan pandangan jernih dan suci. Menempatkannya di ruang privat yang terlindungi. Namun, bersembunyi di balik slogan hak asasi, penggiat gerakan syahwat merdeka mengampanyekan agar seks dibebaskan pemenuhannya oleh setiap manusia. Tak heran bila seks bebas merajalela. Bahkan kini sudah menyentuh di level anak-anak usia prabaligh hingga awal baligh.

Kondisi ini tak bisa dibiarkan. Hanya Islam yang mampu mengenyahkan kemaksiatan seperti ini. Sebab ideologi lain tak pernah menganggap seks bebas itu salah. Karena itu, peradaban sekuler harus diganti dengan peradaban Islam. Hanya dengan cara itu urusan syahwat bisa dikembalikan ke tempatnya yang suci, yakni di ranjang-ranjang pasangan menikah dengan cara halal.

Semoga dengan tegaknya peradaban Islam, kita tak mendengar lagi  penggerebekan pesta seks, baik pelakunya ABG maupun orang dewasa. Cukup sudah kemaksiatan sampai di sini.

Wallahu a'lam bishshawab.
 
Top